Unnoticed

June 30th, 2010 by Sawung


Sudah sering saya tidak diingat oleh orang. Entah mereka lupa dengan saya atau ingatan saya yang seperti ingatan gajah :p. Tidak pengaruh juga buat saya untuk diingat malah menguntungkan buat saya. Menjadi orang yang tidak diingat menyenangkan sekali jadi tidak perlu basa-basi yang melelahkan. Menguntungkan karena saya dianggap tiada. Bisa diam disatu tempat mendengarkan tokh tuhan memberi dua telinga dan dua mata agar kita lebih banyak melihat dan mendengar :D
Tetapi bulan lalu ada juga yang mengenali saya setelah lama tidak ketemu, nama tidak ingat tapi masih mengingat wajah padahal hanya berkenalan dan bersama hanya 3-4 hari saja di masa lampau. Senang bertemu dengan orang yang seperti itu :D. Berbeda dengan minggu sebelumnya bertemu orang bahkan berpapasan dengan orang yang lebih lama berinteraksi tapi tetap tidak mengenali padahal saya sudah senyum menyapa. :D

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

Menghitung Memori Yang Sekarang Sedang Digunakan oleh Aplikasi

June 29th, 2010 by Cecep Mahbub

Menghitung memori yang terpakai oleh sebuah program yang sedang berjalan di Linux itu agak ribet. Anda bisa melihat/menghitungnya dari output perintah ps, atau pmap. Tapi apa yang Anda lihat bukanlah apa yang terpakai. Harus dihitung dulu.

Dan disini saya tidak sedang ingin membicarakan hal yang rumit. Yang rumit silakan di googling saja. Ada yang sudah berbaik hati, membuatkan python script yang bisa digunakan untuk menghitung alokasi memori per proses/aplikasi/program.

Ambil ps_mem.py, skrip yang sudah lama ada, tapi entah memang google yang menyembunyikannya, atau saya yang tidak mencari sehingga baru tahu hari ini P

sudo ./ps_mem.py

Berikut contoh hasil keluaran python script di atas, di jalankan di hostingan Linode VPS saya.

 Private  +   Shared  =  RAM used       Program 

  4.0 KiB +  35.5 KiB =  39.5 KiB       getty
 28.0 KiB +  29.5 KiB =  57.5 KiB       atd
  4.0 KiB +  73.5 KiB =  77.5 KiB       upstart-udev-bridge
  0.0 KiB +  84.5 KiB =  84.5 KiB       udevd (3)
 96.0 KiB +  24.0 KiB = 120.0 KiB       dhclient3
 84.0 KiB +  58.5 KiB = 142.5 KiB       cron
116.0 KiB + 187.5 KiB = 303.5 KiB       master
264.0 KiB +  87.0 KiB = 351.0 KiB       ntpd
208.0 KiB + 201.5 KiB = 409.5 KiB       qmgr
256.0 KiB + 208.0 KiB = 464.0 KiB       tlsmgr
404.0 KiB +  84.5 KiB = 488.5 KiB       rsyslogd
348.0 KiB + 189.5 KiB = 537.5 KiB       pickup
480.0 KiB + 112.5 KiB = 592.5 KiB       init
  1.2 MiB +  55.5 KiB =   1.2 MiB       bash
764.0 KiB +   1.2 MiB =   1.9 MiB       sshd (3)
  2.1 MiB + 404.0 KiB =   2.5 MiB       python2.6
  2.6 MiB + 848.5 KiB =   3.4 MiB       nginx (5)
  4.2 MiB +   2.6 MiB =   6.8 MiB       apache2 (5)
 11.1 MiB + 117.5 KiB =  11.2 MiB       mysqld
 57.0 MiB + 562.0 KiB =  57.5 MiB       php5
---------------------------------
                         88.1 MiB
=================================

Tuh kan… yang boros itu php nya, bukan apachenya. Sebelum ada yang bertanya, saya pasang Nginx di depan Apache + suExec/FastCGI + php5.

Btw, di tempat mengunduh skript tadi banyak loh skrip lain yang menarik. Silakan dilihat-lihat.

Garut the city of Goat Battle

June 29th, 2010 by Muhammad Insan Al Amin
My wife’s class room is already finished. She write for her sripsi now. All of her friends also already finished their lesson in her college. So , this is a vacation time for them. Going to garut,  they sleep in fitria’s house. They visit some cultural and funny place there. Like hotspring, goat battle, mountanious village [...]

Tas Baru

June 26th, 2010 by Sawung


Sesudah lebih dari 7 tahun gak beli tas akhirnya beli tas juga.



di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

Protected: The Lunch

June 25th, 2010 by Petra Novandi Barus
There is no excerpt because this is a protected post.

Peluncuran White iPhone 4 Ditunda

June 24th, 2010 by Prasetyo Andy Wicaksono

Tinggal satu hari lagi menuju launch iPhone, tapi belum tertarik untuk membeli iPhone 4 karena menunggu yang warna putih? Harap bersabar, karena peluncuran White iPhone 4 ditunda hingga pertengahan Juli (di Amerika Serikat). Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa Apple mengalami kesulitan dalam membuat produk smartphone terbarunya ini dalam warna putih. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa pada dunia manufaktur, produk berwarna putih lebih susah diproduksi ketimbang warna hitam.

Di lain sisi tersiar pula kabar bahwa banyak kekurangan dari produk iPhone hasil pre-order sale. Terdapat bidang di layar yang menguning, lalu ada juga yang mendapatkan iPhone tidak “ultra durable” dan “anti scratched” seperti yang diiklankan, dan ada pula yang menemukan problem dropped signal jika bagian antena iPhone tersentuh tangan penggunanya.

Semoga saja ada perbaikan yang berarti, sehingga problem yang signifikan ini dapat terselesaikan )


Vuvuzela Button di Youtube?

June 24th, 2010 by Prasetyo Andy Wicaksono

Coba browsing ke youtube, dan pilihlah salah satu video youtube yang ada. Sepintas akan tampil youtube player yang biasa saja? Tidak, jika kita lihat dengan seksama, ada sebuah button baru di sebelah kanan button pilihan resolusi video, berbentuk bola, dan kalau diklik… BZZZZZZZZZZZZZZZZZ.. suara vuvuzela pun akan keluar.

Ingat, jika ingin mencoba tombol vuvuzelanya, pastikan tidak akan menganggu lingkungan sekitar P



Tips Menyetir Antar Kota Sendirian

June 22nd, 2010 by Prasetyo Andy Wicaksono

Menyetir antar kota adalah sebuah aktivitas yang membutuhkan konsentrasi penuh, karena perjalanan antar kota kita tahu sendiri akan berhadapan dengan berbagai kendaraan dengan watak pengendara yg bermacam-macam. Dari sepeda ontel atau becak yang membawa hasil panen, hingga truk tronton pembawa traktor. Tentu memiliki tantangan serta resiko yang cukup besar. Apalagi jika kita berkendara sendirian. Kalau berdua atau rame-rame tentu kepenatan di tengah jalan bisa di-share sambil mengobrol bersama teman, setidaknya saat beristirahat di rumah makan atau spbu misalkan, bisa sambil bersenda gurau dengan teman.

Bagaimana kalau sendirian? Ngobrol sendiri tentu susah, kecuali kita punya alter ego atau teman imajiner. Perjalanan tentu akan sepi dan membosankan. Lalu rasa bosan dicampur lelah bisa menyebabkan ngantuk, dan ini berbahaya karena dapat mengundang maut.

Jika terjebak di kondisi bahwa kita harus berkendara sendiri, bagaimana kita menanggulangi rasa ngantuk, bosan, kesepian, kegundahan hati serta rasa kesal melihat truk2 lambat tidak mau memberi jalan?

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, dan yang terpenting adalah persiapan dan langkah-langkah yang bisa diaplikasikan, yaitu:

1. Siapkan lagu2 favorit

Pastikan lagu2 favorit kita ini tergolong up beat dan sing-along-song. Jadi saat di perjalanan kita bisa karaoke sambil latihan vokal sehingga saat karaoke bersama teman2, kita punya lagu andalan.

Tentu fokus tetap dicurahkan ke jalan. Jangan mencoba googling lirik atau membaca lirik lagu selagi menyetir, berbahaya. Kalau mobil kita dilengkapi tv atau dvd player, jangan disetel. Oke gue tau sekarang lagi piala dunia, tapi tolong, jangan sambil nonton bola, bisa2 nanti ‘gol bunuh diri’. Ini penting, setel lagu2 favorit yang bisa kita nyanyikan (maksudnya jangan lagu ajeb2, karena tidak ada liriknya, dan beatnya bisa membuat bosan).

2. Bernyanyilah

Mengobrol sendiri tentu bisa dikira orang gila, makanya, mending menyanyi saja. Dan bernyanyilah sepuasnya, dengan lantang atau fals tidak masalah, wong cm sendirian di mobil (kecuali mobilnya ada ‘penunggunya’, hihi). Jangan takut suaranya bakalan tembus keluar dan membuat orang lain celaka. Kalau mau berjoget kecil, tidak ada larangan. Asal jangan sampai joget yang heboh bin hot. Bukan takut dilihat orang, dan bukan karena ga ada space yg cukup gede buat jogetnya. Tapi esensinya joget adalah agar otot tidak kaku, bukan joget karena pengen tenar.

3. Siapkan minuman

Bukan, yang gue maksud bukan minuman keras bangsa bir, vodka, atau topi miring. Tapi minuman air putih. Mengapa? Karena menyanyi dengan sepenuh hati membuat tenggorokan kering. Makanya kita ‘basahi’ dengan air putih. Jangan terlalu banyak minum, karena takutnya setiap 30 km ke depan kita harus berhenti karena beser mau pipis.

4. Jangan stay di satu lajur

Khususnya untuk pengendara jalan tol jarak jauh (jakarta-bandung, atau tol dalam kota 7 lap), tapi tak tertutup pula kemungkinan untuk yang lewat jalan biasa (pantura, atau puncak). Stay di satu lajur tentu membosankan, apalagi kalau di depan kita truk boks gede yang ga ada lukisan cw sexy (setidaknya lukisan cw sexy bisa menambah ‘warna’ dr perjalanan kita).

Pindah lajur lah secukupnya, tentu direkomendasikan untuk mostly stay di lajur kiri, dan gunakan lajur kanan untuk mendahului. Bukan berarti kita pengen mendahului melulu lalu stay di lajur kanan.

5. Jaga jarak

Ini penting. Menyetir sendiri berresiko mengundang kantuk, atau setidaknya ngelamun. Dengan jarak yang cukup dengan mobil di depan kita membuat kita punya cukup waktu respon jikalau mobil depan tiba2 mengerem ataupun pecah ban. Jika kita terlambat respon karena lost focus, maka kita ‘diundang’ untuk ‘silaturahmi’ dgn mobil di depan kita.

6. Injak rem jika mobil di depan mengerem

Ada satu tips, jangan mengambil keputusan cm dengan modal ikut-ikutan mobil di depan kita. Namun, ada pengecualiannya, yaitu jika mobil di depan kita sudah mengerem, kita ikut mulai mengerem pula. Jangan tunggu beberapa detik atau nunggu lebih dekat untuk mengerem. Tentu jarak kita dengan mobil di depan kita akan mengecil dan mempunyai resiko lebih besar untuk rem mendadak dan tabrakan beruntun.

Well, intinya sih tetap aktif dan stay tuned ke jalanan, jadi tetap bisa enjoy walaupun cuma sendirian nyetir antar kota. Oya, rest area dibangun bukan cuma buat ngisi bensin atau pipis, tp juga untuk beristirahat jika kita lelah atau ngantuk. G mau kan ngantuk2 lalu tidur, dan bangun2 udah diperban di rumah sakit? )

Posted with WordPress for BlackBerry.


Toshiba Libretto W100 Dual Touch Screen, Japanese Answer to iPad

June 21st, 2010 by Prasetyo Andy Wicaksono

Ya, ini dia prototype terbaru dari Toshiba. Netbook dengan dual 7-inch multitouch screen dengan sistem operasi Windows 7 bernama Libretto W100. Ini bukan foto animasi, namun sudah ada hands-on previewnya di beberapa situs, dan salah satunya ada di bagian bawah post ini.

Prototype ini merupakan bagian dari peringatan 25 tahun inovasi laptop Toshiba. Walaupun masih merupakan konsep, tapi produk ini sudah siap dipakai (buktinya sudah bisa menjalankan windows 7 dan siap untuk dipasarkan). Menurut salah satu video wawancara scobleizer.com dengan pihak Toshiba, netbook futuristis ini akan dilansir tahun ini dalam jumlah terbatas, namun Toshiba belum menentukan harga jual dari gadget terbaru ini.

Netbook dual multitouch screen berukuran 7 inci dengan resolusi 1024×600 pixel ini didukung oleh prosesor pentium U5400 1,2 GHz, 2 GB DDR3 memory, dan 64 GB SSD. Selain itu ditanamkan juga webcam HD 1-megapixel, Bluetooth, MicroSD card, satu port USB, dan menggunakan sumber daya baterai 8 cell. Dengan berat sekitar 800 gram, Libretto W100 akan menjadi partner kerja dan juga lifestyle yang state-of-the-art.

Dilengkapi pula dengan 6 buah mode virtual keyboard, dan bayangkan user experience yang baru dengan dual screen. Untuk desain, jelas dual touchscreen dapat membantu para desainer untuk langsung menggambar di touchscreen yang pertama. Atau saat bermain, walaupun mirip Nintendo DS, bayangkan pula kita bisa bermain berdua menggunakan dua layar yang ada, misalkan bermain air hockey atau pingpong.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak video wawancara ini.

Oya, selain Libretto W100, dari video kita bisa lihat bahwa Toshiba juga meluncurkan Satellite A665 yang merupakan 3D Laptop. Sehingga para pengguna dapat merasakan 3D gaming (tentunya masih memerlukan kacamata untuk dapat menggunakan efek 3D). Dan menurut saya, gaming ditambah efek 3D adalah suatu pasangan yang klop.

Untuk viewing pleasure, mari kita lihat gambar-gambar Libretto yang lainnya.


Toy Story 3

June 21st, 2010 by Prasetyo Andy Wicaksono

Setelah menonton the A-Team, saya menyempatkan diri menonton film sekuel terbaru dan salah yang saya tunggu tahun ini: Toy Story 3. Oh, kurang. Toy Story 3 in 3D.  Toy Story merupakan salah satu film favorit saya, pertama karena saya sangat suka film-film animasi disney pixar, yang mempunyai animasi yang bagus dan cerita yang kuat serta emosional. Kita lihat saja film-film animasi disney pixar sebelumnya: Wall-E, Up, Finding Nemo, Monster Inc, Cars, The Incredibles, dan A Bug’s Life. Dari film-film ini semuanya mempunyai ciri khas yang sama, cerita yang kuat, dan animasi yang ciamik.

Balik lagi ke Toy Story 3, di sekuel ketiganya diceritakan bagaimana Woody, Buzz, Jessie, Rex, Slinky, Mr & Mrs Potato Head dan Hamm menghadapi Andy yang sudah besar dan akan kuliah. Mereka takut ditinggal Andy dan merasa sudah lama tergeletak di dalam toy box dan tidak dimainkan oleh Andy. Suatu ketika Andy disuruh untuk memutuskan mau diapakan mainannya itu, dan akhirnya dia mulai merapikan toy box nya. Dia memutuskan untuk membawa woody ke college, dan sisanya akan ditaruh di loteng. Namun Ibu Andy salah mengira dan akhirnya mainan-mainan tersebut terkirim ke Sunnyside, sebuah daycare. Dan dari sini, petulangan boneka koboi dan kawan-kawannya dimulai.

Film ini sempurna!

Penonton diajak terpingkal-pingkal hebat melihat kekonyolan Mr. Potato Head dan Buzz, namun di sisi lain, penonton pun diajak terharu biru terbawa emosi yang dimainkan di film ini. Film ini benar-benar menyentuh dan mengingatkan saya dengan mainan saya dulu. Selain itu petualangan mereka cukup seru dengan bertemu mainan-mainan lainnya, berpetualang ke tempat-tempat yang tak mungkin dikunjungi mereka sebelumnya.

Film ini sangat bagus ditonton anak-anak yang punya banyak mainan dan suka seenaknya dengan mainan mereka, hehe. Karena di film ini mereka bisa mendapatkan gambaran, bagaimana seandainya jadi mainan yang dibanting-banting, dan tidak dirawat dengan baik )

Animasinya ciamik, dan efek 3D melengkapi petualangan mereka. Tak lupa pixar juga menambahkan soundtrack yang bagus. Khas dari disney selain cerita yang kuat dan animasi yang bagus adalah lagu tema (soundtrack) dan scoring yang melengkapi tiap adegan di filmnya.

Tak ragu, saya memberikan nilai 10/10 untuk film ini )


The A-Team

June 21st, 2010 by Prasetyo Andy Wicaksono

Setelah vakum dari dunia blog, dan vakum tidak menonton film di bioskop selama hampir 1 bulan, minggu lalu Saya menyempatkan diri menonton film the A-Team. Awalnya bingung mau menonton film ini atau Karate Kid. Ya, saat menjelang musim panas memang banyak sekali film-film bagus yang ada di bioskop, serasa semuanya ingin ditonton D

Namun karena hari itu adalah hari pertama pemutaran The A-Team, akhirnya Saya memutuskan untuk menonton film ini. Siapa sih yang tidak tahu A-Team? Empat veteran Ranger yang bisa dibilang gila, dikomandoi oleh Kol. Hannibal Smith (Liam Neeson), lalu ada si Templeton “Face” Peck (Bradley Cooper),  Baracas BA (Quinton “Rampage” Jaquemin) yang terkenal dengan rambut mohawk dan mobil van nya, dan pilot gila HM “Howling Mad” Murdock (Sharlto Copley).

Kali ini mereka diceritakan mendapatkan misi khusus mencari plat uang palsu yang ternyata adalah jebakan dari orang-orang disekelilingnya. Mereka pun dikejar-kejar oleh Kapten Charise Sosa (Jessica Biel) yg merupakan mantan kekasih Face. Cerita lebih lengkapnya lebih baik ditonton di bioskop saja, karena film ini menurut Saya cukup memukau dengan efek visual maksimal khas Hollywood.

Ide cerita sendiri memang tidak jauh dari betrayal alias pengkhianatan, yang menurut saya juga khas film amerika. Karena dengan ide ini kita tidak tahu mana yang benar, mana yg salah. Agak sulit menyimpulkan siapa yang jahat siapa yang baik pada pertengahan cerita, tapi sabar saja, pada akhirnya semua simpul diluruskan dengan baik.

Satu kata yang mewakili film ini adalah: “keren”. Keren dari segi visual, keren dari segi cerita, dan keren dari segi action dan ide-ide gila yang ditampilkan. Adalah sebuah nostalgia bagi penggemar serial A-Team pada tahun 80-an dulu, dan menjadi hiburan yang menarik bagi penikmat film-film action.

Skornya 7,6/10 menurut IMDB )


WTHIGO ?? - #3 - Mungkinkah Karena Mouse .. ?

June 16th, 2010 by Ardhi Adhary Arbain
Well .. berhubung sudah rapat, kemarin dan hari ini lumayan banyak waktu luang untuk ngoprek laptop lagi. Jadi kemarin aku coba bedah ulang si Dell Inspiron 1318 yang sudah satu setengah bulan mati suri sejak kejadian di mall Ambassador bulan mei silam. Setelah percobaan bulan lalu gagal total, aku putuskan untuk sekali lagi membongkar habis si laptop. Sebenarnya [...]

Selamat Datang Piala Dunia 2010

June 10th, 2010 by Administrator

World Cup 2010

Hasil oret-oretan sendiri menyambut Piala Dunia 2010

Orange Days

June 6th, 2010 by Fajar Fathurrahman

Orange Days merupakan J-Drama (Dorama) tahun 2004 (wah udah jadul juga ya ), kali ini saya pengen coba mereview dorama tersebut .

Dorama ini bercerita tentang Orange Kai (Orange Society) yaitu sekumpulan 5 orang yang kuliah di univ yang sama, Kai, Sae, Shohei, Akane dan Keita, namun plot cerita berpusat pada kisah romance antara Kai dan Sae. Kai diperankan oleh Tsumabuki Satoshi (salah satu aktor favorit saya :mrgreen) dan Sae diperankan oleh Kou Shibasaki (salah satu singer dan aktris favorit saya juga :shy: )

Sae dan Kai yang berbicara dengan bahasa isyarat

Kai merupakan mahasiswa di sebuah univ dan mengambil major dibidang psikologi begitu pula dengan Sae yang kuliah di tempat yang sama namun Sae mempunyai keterbatasan fisik yaitu tuna rungu (tuli) dan tuna wicara (bisu). Dalam menjalin hubungan terjadi intrik dimana Sae yang merasa minder atas keterbatasan yang dia miliki, namun disisi lain Kai mendukung Sae selalu untuk menjadi lebih percaya diri dan mandiri. Sae kehilangan indera pendengaran ketika 4 tahun sebelum masuk jenjang univ, sebelumnya Sae merupakan musikus berbakat, pandai bermain Violin dan Piano. Namun setelah kehilangan indera pendengarannya Sae menjadi lebih sulit untuk bermain musik kembali, Kai pun tidak kehabisan akal untuk mempertahankan agar Sae tetap berada di jalur musik yang dia sukai.

Yuuki Kai (Tsumabuki Satoshi)

Cerita dalam dorama ini tidak monoton romance saja, namun dibalut oleh cerita keluarga dan pertemanan sehingga yang nonton pun tidak menjadi bosan. Saya pun jadi belajar sedikit bahasa isyarat yang biasa digunakan oleh tuna rungu / tuna wicara, karena dalam dorama ini banyak sekali bahasa isyarat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Sae. Soundtrack nya pun pas dengan cerita yang ada, yang dibawakan oleh Mr.Children dengan judul “Sign” (isyarat  ) )

Hagio Sae (Shibasaki Kou)

Akhir kata saya memberikan rating 9/10 untuk dorama ini, WAJIB NONTON !


Filed under: Dorama, J-stuff Tagged: Dorama, Orange Days

Kabar Mentari #3 – 4 Mei 2010

June 6th, 2010 by Administrator

Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.

Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?


Sabtu, 1 Mei 2010

Pagi, saat saya meliput seminar “Mind Over Matter” di SBM ITB, pesan singkat Imoth masuk. “Ngajar jam berapa hari ini?” tanyanya. Waduh, saya malah lupa bikin janji dengan anak-anak. Untungnya, Imoth ada rencana ngajar Sosiologi sore itu, jam 4. “Saya ikut saja,” kata saya. Sore jam 4 tidak membuat janji saya dengan Imas, bubar: makan di Raffel Ciwalk jam 1. Saya pesan barbeque, dia crispy. Saya makan pesanan saya, saya cuil juga punya dia. Untungnya, dia yang bayar kali ini.

Sehabis makan dan jalan kaki menemani Imas pulang, saya menumpang Cicaheum – Ciroyom dari RSHS sampai Simpang, lanjut Ciburial – Ciroyom. Sampai di Mentari, rumah Bu Dewi sedang dipenuhi tamu: ibu-ibu muda serta anak dan suaminya. Rupanya sedang ada acara liliwetan. Mungkin keluarga atau teman lama, saya gak begitu ngerti. Belum ada Imoth, baru ada Santi. Bu Dewi segera datang ke saya, dan bilang, “Kak Arfah, temenin wartawan PR dulu, lagi duduk di depan. Ajak ngobrol. Gak enak ih, saya lagi banyak tamu juga.” Saya lihat satu laki-laki di teras depan, rambut tipis dan tegap. Saya lihat dia masih nelpon. Saya tunggu saja dari ruang tamu.

Namanya, Agus. Saya panggil Mas Agus. Kami mulai ngobrol. Tentang Boulevard, tentang Berkala. Tentang tulisan saya yang tidak dimuat di rubrik Literasi. Tentang Bu Puji yang selalu dia wawancarai via telepon jika ingin tahu data kualitas udara (Dia sempat menanyakan nomor kontak Bu Puji dan Bu Driejana, wah saya lupa beri tahu. Nanti saya tanyakan dulu nomor kontak Mas Agus di Bu Dewi, nanti saya beri kamar nomor kontak kedua dosen saya itu). Tentang Dewi FIKOM Unpad yang dulu sempat wawancarai saya soal pers kampus merambah dunia maya, dan juga ingin memberitakan Mentari setahun lalu tapi tidak jadi. Tentang Ikram yang sudah sibuk di Jakarta, dan saya lupa bilang bahwa Ikram sempat ngajar Kimia di Al-Huda.

“Apa yang melatarbelakangi Arfah memasuki dunia pendidikan non-formal?” tanyanya. Dia mulai masuk ke substansi berita, dan saya tidak bisa melepaskan nama Puti dalam jawaban saya. Saya cerita awal saya masuk Taboo, awal saya masuk Mentari. Saya agak lupa, tampaknya saya beri tahun yang salah. “Tidak ada niatan apa-apa. Semua hanya karena ingin, kebetulan ada yang ngajak. Mahasiswa yang lagi punya energi banyak. Ingin ketemu anak-anak, ingin mengajar, ingin punya kegiatan selain ngampus,” kata saya. “Pada akhirnya apa yang buat Arfah bertahan?” tanya lebih lanjut. “Karena saya senang mengajar, saya senang bersama mereka.” Dia lalu meluncurkan pertanyaan-pertanyaan filosofis, seperti saya orang yang sedang tumbuh di tengah komunitas gerakan. “Apa artinya pendidikan buat Arfah?” tanyanya. Saya bingung. “Apa ya, saya sulit kalo ditanya hal-hal yang sifatnya definitif. Saya ga begitu ngerti. Saya hanya mengerti, itu pun setelah saya terjun di sini, bahwa mereka butuh itu. Apalagi saya yang SMP 2, yang SMA 5, yang ITB, yang dapat beasiswa, mengecap pendidikan yang kata orang-orang keren. Saya lalu bingung kenapa beasiswa atau pendidikan berkualitas tidak ditujukan bagi mereka yang justru dianggap tidak pintar.” Selanjutnya dia menanyakan siapa-siapa saja relawannya, siapa-siapa saja muridnya. Bagaimana kondisi akademik anak-anak. Bagaimana UAN mereka (Saya jawab seadanya, seperti kabar yang saya dapat beberapa hari sebelumnya, dari Mbak Anug dan Kak Angga: Santi dan Melly lulus. Hani tidak lulus di Sosiologi dan Bahasa Indonesia, Anis tidak lulus di Bahasa Indonesia. Belakangan saya tahu Ceceng lulus UAN. Saya tidak bisa menjelaskan dengan baik apa itu UAN, apa saja ketidakadilan yang diakibatkannya, bagaimana ujian itu menjadi proyek besar dinas pendidikan. Saya hanya bisa mengajar, bilang saya sebelumnya. Untungnya dia menimpali, “UAN itu benar-benar kacau,” dan saya tidak merasa tidak perlu berpanjang-panjang soal ini). “Jika saja ada Puti, Mas Agus bisa dapat obrolan seru,” kata saya.

Di tengah kami ngobrol, ada anak kecil di sampingnya yang selalu ngajak dia bicara. Perempuan, mungkin usia 4 tahun. Dia anak dari salah satu tamu Bu Dewi. “Nanti ya kita ngobrol,” katanya ke perempuan kecil itu sambil senyum. Perempuan itu sudah begitu nyaman dengan Mas Agus, karena sebelum saya datang, Mas Agus mengajaknya main. Kali ini, dia sedang kerja, dan ingin kerjanya selesai. Hihihi. Belakangan, saya tahu dia sedang meliput pendidikan non-formal untuk berita yang akan dimasukkan di website Pikiran Rakyat. Dia melakukan pemetaan aktivitas tersebut di Bandung. Sebelumnya, dia ketemu dengan Bunda dan Pak Gamesh di Ciroyom. Dia pun sudah ketemu dengan Om Rahmat dan Mbak Ika di Taboo, Dago Pojok.

Anis datang. Hani juga datang. Lalu Imoth. Lalu Mbak Anug dan Kak Angga. Wah, Sabtu sore pada lengkap. Saya lalu kenalkan mereka dengan Mas Agus. Mas Agus bisa tahu, bagaimana bentuk dan rupa para pengajar yang sudah saya sebutkan namanya di tengah wawancara tadi. Mas Agus lalu jemput Mas Haekal, fotografer Pikiran Rakyat. Mas Haekal datang, foto-foto ruang hijau, yang saya baru sadari sudah tidak hijau lalu. “Sudah dari tahun lalu, Kak Arfah, kita cat ulang jadi biru gitu,” kata Bu Dewi yang akhirnya bisa ikut nimbrung setelah tamu-tamunya pulang. Di ruang belajar itu, Imoth sedang sibuk ngajar Sosiologi ke Hani. Anis yang seharusnya hari itu belajar Bahasa Indonesia sama saya, sibuk di dapur. Bantu Bu Dewi beres-beres piring dan gelas. Saya pun sedang malas. Hihihi, gak jadi belajar kita hari itu.

Sisa minum liliwetan disajikan. Kami senang. “Jarang-jarang loh Mas Agus, ada minuman gini,” kata saya sambil senyum. Sirup pakai kolang-kaling. Nikmat. Mas Haekal terus foto-foto Imoth yang sedang ngajar, sementara Mas Agus kembali wawancara Pak Lala. Belakangan saya tahu, Mas Agus sudah datang Kamis sebelumnya. Bu Dewi dan Pak Lala sudah cerita panjang lebar. Saya baru sadar, dia sempat mengkonfirmasi beberapa hal yang mungkin saya jawab beda dengan apa yang dia peroleh sebelumnya. Tak jadi soal.

Ketemu dengan Mbak Anug, Mas Agus memperoleh jawaban yang lebih emosional jika sudah menyangkut UAN. “Mbak Anug ini suka berurusan dengan birokrasi Diknas, apalagi kerjanya juga begitu, jadi lebih ganas kalo sudah bicarain UAN,” kata saya. Dia cerita dia pun punya teman yang sama dengan Mbak Anug: tidak setuju UAN. Dia cerita lebih lanjut tentang Tere, mantan penyanyi yang kini bergerak di DPR. “Dia teman saya. Dia suka mengajar. Jika nanti sesekali saya datang ke Mentari, ajak Tere sebagai individu, boleh?” “Jelas boleh, Mas. Ga usah nyanyi. Ajak anak-anak main aja. Bikin gelang atau kalung dari manik-manik atau kerajinan lain yang dia bisa. Nyanyi mah depan saya saja,” canda saya sambil ketawa.

Sewaktu Mas Haekal dan Mas Agus pulang, mendaki setapak menuju parkiran golf, saya temani. Karena saya yakin dia kenal temen-temen komunitas sastra, saya bilang, “Saya anggota Mnemonic.” Dia lalu menimpali, “Oalah, eta-eta keneh.” Kami lalu ngobrol singkat, sebab saya tidak begitu tahu banyak, soal kabar teman-teman Mnemonic. Tentang Deni. Tentang Teh Puji Bale Pustaka. Tentang ASAS. Tentang Daunjati. “Bagaimana nanti kelanjutan Mentari? Harus kalian pikirkan, kan. Tidak selamanya kalian di sana,” tanyanya. “Ya begitulah, kami terlampau senang di sini. Tapi kami pun selalu memikirkan itu, dan kami pun selalu gagal bergenerasi,” jawab saya. Mereka lalu melaju dengan satu motor, sebelumnya dia catat nomor kontak saya. Mungkin dia salah ketik atau saya salah sebut sebab missed call-nya gak nyampe.

Sekembalinya saya ke Mentari, saya jadi berpikir. “Kayaknya saya tahu nama panjang Mas Agus,” Beberapa jam kemudian saya sms satu temen Mnemonic. Dia tanya, “Ngobrol apa aja dengan Gusrak, Fah?” Oalah, saya baru yakin, Mas Agus yang wawancara siang tadi Agus Rakasiwi. Seperti Galih. **

Google Translate Desktop version, my solution :D

June 5th, 2010 by Andi Rusiawan

Recently Google Translate (let’s call it GT) has added Dutch text-to-speech feature. That is very helpful for me who is strugling to get familiar with Dutch pronounciation :D.

But, often I was too lazy to switch between browser and other application (or other tabs) to see the translation. The solution is to install the desktop version of GT.

The problem is that i’m, in the name of speed and simplicity, using Xubuntu (ubuntu with pure XFCE4 desktop environment, i have removed all GNOME-thing) and so far there is no suitable GT desktop app. for XFCE (there are some application for KDE, GNOME). Actually there are also some apps that run with Adobe Air or Java, but I don’t like it, out my taste. And the most important thing is that those apps do not support the sound/speech feature.

Then I thought, why dont I write my very own app, it’s Linux afterall. The problem is that i’m not fluent in any prog. language. The only i’m comfortable with is shell scripting!  :P.

My idea is to use browser to open GT URL and window manager tools to adjust the window behaviour. Basically you can use any browser (RTFM!), but I choose Google Chrome browser because of its simplicity. I use wmctrl to control the browser window.

1. Make sure Chromium-browser and wmctrl are installed

2. Write this shell script:

#!/bin/sh
pid=`wmctrl -pl | grep “Google Translate” | awk ‘{print $3}’`
if [ $pid ]; then
wmctrl -r “Google Translate” -e 0,948,30,732,376
else
chromium-browser –app=http://translate.google.com&
sleep 0.5s
wmctrl -r “Google Translate” -e 0,948,30,732,376
fi

the -e argument is to place the GT window in the right corner and in the simplest buat readable one as depicted in the picture above.

Put for example in /usr/bin/Gtranslate (dont forget to make it executable)

Then you can execute from the terminal or you can make an applet or launcher for your panel so you can launch the translator in just one click.

And simply now you have your own desktop version of Google Translator.  Happy language learning!.


Siaware

June 4th, 2010 by Petra Novandi Barus

Udah lama gak update blog. Sekarang gw gak bakal nyoba bikin komitmen buat ngisi blog ini secara rutin karena memang yang namanya nulis gak pernah bisa dipaksakan. Anyway, as always blog ini isinya selalu curhatan gw. Jadi kali ini gw mau cerita tentang sebuah acara yg gw ikuti dan apa dampaknya ke gw.

Tiga puluh hari yang lalu (sekitar segitu) gw mengikuti sebuah acara bernama Siaware. Siaware kepanjangannya Self Insight Awareness. Awalnya gw ikutan karena pengen tau aja. Gw mengira ah mungkin ini hanya satu dari antara pelatihan-pelatihan motivasi. Tapi selanjutnya gw melihat semua temen-temen gw yang pernah ikut itu mendapat hal-hal yang positif. Gw jadi tertarik. Tapi akhirnya setelah beberapa kali gagal ikut karena jadwal tidak memungkinkan, gw baru bisa ikutan yang kemarin.

Dan ternyata gw mendapatkan banyak hal dari Siaware itu. Gw bisa kenal diri gw. Oke, mungkin sebelumnya gw ngerasa gw kenal diri gw. Gw mungkin tau sifat-sifat gw kayak apa, tapi gw gak pernah sadar apa saja yang menyebabkan sifat-sifat gw itu dan gw gak pernah peduli apa aja dampaknya terhadap diri gw. Iya, gw sekarang jadi lebih mengenal diri gw sendiri. Gw lebih bisa berekspresi dan mengungkapkan diri gw sendiri. Gw lebih yakin dengan apa yang gw inginkan, sesuatu yang selama ini gw anggap remeh dan gw sering ragu dengan itu.

Di Siaware itu gw menemukan keluarga baru. Gw menemukan banyak sekali orang-orang yang mau menerima gw apa adanya. Selama ini gw cuman berpendapat bahwa banyak sekali orang yang butuh gw cuman untuk apa yang gw punya, dan mereka meninggalkan gw setelah mereka gak butuh gw lagi. Tapi gw sadar, masih banyak juga orang yang mau menerima gw dengan segala kelebihan gw dan dengan segala kekurangan gw. Gw sadar masih banyak orang yang mau menerima gw tanpa menjudge gw. They are them. And I’m really blessed to have you all, friends.

Oke, akhir kata gw udah ngerasa kehabisan kata-kata buat mendeskripsikan apa yang gw dapatkan di Siaware. Yang jelas gw dapet banyak alasan kenapa gw harus berjuang untuk hidup gw ^_^

How To Sync Google Contacts with Phone Contacts Using SyncML

June 3rd, 2010 by Anggriawan Sugianto
Some days ago I lost all my cell phone contacts due to silly factory reset. Unfortunately, I did backup my contacts 1.5 years ago. Yeah, it's been so long time, but it's better than no backup at all, rite. To prevent this silly thing happen in the future, I should backup my cell phone contacts regularly.

There are two major ways to do backup your cell phone contacts: offline backup and online backup. Offline backup means you store your phone contacts in a file located on your phone memory card or your PC. Your cell phone usually has this feature (to backup contacts to memory card). Otherwise, you can use cable data (or bluetooth) and your phone PC suite to sync your contacts to your PC.

Another method is online backup. You can store your phone contacts in the cloud. I prefer Google Contacts for this purpose, because I use Gmail for my primary email. Actually Google has a service called Google Sync, which is using Exchange ActiveSync technology, that implemented in recent smartphones, such as BlackBerry, iPhone, Windows Mobile phone, Nokia S60. For "not-so-classic phones" user, like me with my LG KU380, you can still use Google Sync service by using SyncML, which is platform-independent information synchronization standard. Here I will describe how to sync your cell phone contacts (in my case: LG KU380) with Google Contacts using SyncML:
  1. On your cellphone, go to menu [0] Connectivity → [2] Server sync → [3] Server synch. centre. You may find it on another menu if you use different phone.
  2. Add new server synch. centre
    • Profile name: Google
    • Host address: https://m.google.com/syncml
    • Username: <your gmail address>
    • Password: <your gmail password>
    • Contacts: On
    • Contact name: contacts
    • Sync type: Normal
    • Access point: <your cellphone APN>
  3. Prepare your Google Contacts, especialy "My Contacts" group, because only this group that will be synchronized with your cell phone contacts.
  4. Synchronize your contacts
    • Go to menu [8] Contacts → [8] Settings → [2] Synchronize contact, or
    • Go to menu [0] Connectivity → [2] Server sync → [1] Connect
Voilà! Your phone contacts is synchronized with Google contacts. Now you can add/update/delete contacts through your cellphone or Google, then sync it later. If your cell phone doesn't have feature for autosync, then you should sync it manually and regularly.
    Just my another $0.02. Cheers! :)

    Pindah …

    June 2nd, 2010 by Ardhi Adhary Arbain
    Tak terasa empat tahun sudah … empat tahun bukan waktu yang singkat, sudah empat tahun lebih aku menuangkan ide, pengalaman, pengakuan dan uneg-uned di blog ini …  Berat rasanya, tapi berhubung dukungan teknis untuk webblog ini (blogsome) sudah semakin berkurang, maka kuputuskan untuk berganti webhosting ke blogger/blogspot … webblog pertamaku. Berhubung belum ada tool yang bisa dipakai untuk [...]

    On Sequential thinning in pygame

    June 1st, 2010 by Peb Ruswono Aryan

    Yeah, beberapa waktu lalu lagi iseng bikin kode untuk thinning di pygame. Bukan karena bosan pake delphi seperti biasanya tapi kode di delphi udah terlalu penuh dan agak males untuk bikin satu program kecil cuma buat ngetes2 P jadinya bermain-main di pygame aja. Thinning yang dilakukan disini sifatnya sekuensial, jadi untuk menghapusnya dijalankan tiap kali ketemu titik yang bisa dihapus (bukan disimpan dulu ke list dan kalo udah dicek semuanya baru dihapuskan). Cara kerjanya secara umum adalah memeriksa ujung di setiap scanline dalam beberapa arah sumbu (untuk citra 2d ada dua sumbu yaitu vertikal dan horizontal, untuk citra volum ada 3). Namun dibandingkan teknik lain yang memeriksa tiap arah di tiap sumbu secara terpisah, algoritma yang dipakai di sini memeriksa kedua ujung di tiap sumbu secara bersamaan. Tujuan akhirnya adalah membentuk citra biner yang tiap pikselnya memiliki ketebalan 1 yang saling terhubung dalam ketetanggaan 4. Dengan kata lain, mencari tulang dengan cara menggerus tepinya (menipiskan) sampai ketebalan yang diinginkan.

    Secara umum prosesnya cukup cepat karena pemeriksaan piksel yang akan dihapus hanya dilakukan untuk piksel ‘ujung’ (yang punya tetangga putih). Sebetulnya untuk penipisan 2D yang paralel, algoritma semacam Zhang-suen pun bisa dipercepat melalui ‘hashing’ seluruh kemungkinan ketetanggaan 8 (menjadi tabel 256 elemen boolean) sehingga pemeriksaan hapus-tidaknya hanya melibatkan lookup ke tabel tersebut.

    Kembali ke topik awal tentang penipisan sekuensial, algoritmanya dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

    • penentuan hapus-jangan piksel
    • pemrosesan scanline tiap sumbu
    • iterasi

    Bagian pertama adalah penentuan apakah suatu piksel yang diduga jika dihapus maka tidak akan mengubah topologi dari objek keseluruhan.

    nn = [(-1,-1),(0,-1),(1,-1),(1,0),(1,1),(0,1),(-1,1),(-1,0)]
    
    def test(ab,x,y):
    	cn = 0
    	cc = 0
    	global nn
    	for n in xrange(len(nn)):
    		if ab[y+nn[n][1]][x+nn[n][0]]:
    			cn += 1
    			if not ab[y+nn[n-1][1]][x+nn[n-1][0]]:
    				cc += 1
    	if cc == 1 and cn != 1:
    		ab[y][x] = False
    		return 1
    	return 0

    kode diatas menghitung dua variabel yang dijadikan dasar pengambilan keputusan yaitu cn dan cc. cn menyatakan banyaknya piksel objek yang ada di sekitar piksel yang sedang diperiksa sedangkan cc menyatakan banyaknya kelompok piksel objek (connected component) yang terhubung. Suatu piksel boleh dihapus jika piksel tersebut hanya memiliki satu kelompok piksel dan piksel tetangga tersebut lebih dari satu. Dengan kata lain, piksel yang sedang diperiksa merupakan piksel luar yang ketidakhadirannya tidak mengganggu topologi citra. jadi boleh dihapus.

    def thinh(ab,w,h):
    	ret = 0
    	for y in xrange(h):
    		x = 0
    		while x<w-1:
    			while (x<w-1) and not ab[y][x]:
    				x += 1
    			if x==w-1:
    				break
    			start = x
    			while (x<w-1) and ab[y][x]:
    				x += 1
    			stop = x-1
    			if stop-start>0:
    				ret += test(ab, start, y)
    				ret += test(ab, stop, y)
    			if x==w-1:
    				break
    	return ret
    
    def thinv(ab,w,h):
    	ret = 0
    	for x in xrange(w):
    		y = 0
    		while y<h-1:
    			while (y<h-1) and not ab[y][x]:
    				y += 1
    			if y==h-1:
    				break
    			start = y
    			while (y<h-1) and ab[y][x]:
    				y += 1
    			stop = y-1
    			if stop-start>0:
    				ret += test(ab, x, start)
    				ret += test(ab, x, stop)
    			if y==h-1:
    				break
    	return ret

    Kode di atas menguraikan citra menjadi ‘baris-baris’ dan mengirimkan tiap ujung dari ‘baris’ tersebut ke pengujian penghapusan piksel. Kode di atas analog dengan algoritma yang dipelajari mahasiswa tingkat 2 IF di kuliah algoritma pemrograman bagian mesin kata. Pada kasus thinning di sini, piksel yang dihapus adalah ‘huruf’ yang berada di awal dan akhir ‘kata’.

    def thin(ab,w,h):
    	step = 0
    	while True:
    		r = 0
    		r += thinv(ab,w,h)
    		r += thinh(ab,w,h)
    		if r == 0:
    			break
    		step += 1
    	return step

    Bagian terakhir adalah bagian yang melakukan iterasi dari proses di atas. Pada tiap tahapan pengulangan, banyaknya piksel yang dihapus dicatat dan akan digunakan sebagai kondisi berhenti pengulangan (berhenti jika tak ada lagi piksel yang dihapus). Pada kode di atas proses penipisan dilakukan terhadap sumbu vertikal terlebih dahulu dibanding horizontal. Hal ini disebabkan objek yang akan ditipiskan (alfabet/angka) pada umumnya memang lebih panjang di sumbu vertikal dibandingkan horizontal.

    Kode sisanya merupakan kode untuk visualisasi dan pembacaan citra ke dalam array 2 dimensi boolean.

    from pygame import *
    import os, sys
    
    def thinning(img):
    	buf = []
    	for y in xrange(img.get_height()):
    		l = []
    		for x in xrange(img.get_width()):
    			l += [img.get_at((x,y))[0]==0]
    		buf += [l]
    	#thin
    	r = thin(buf, img.get_width(), img.get_height())
    	#update back
    	for y in xrange(img.get_height()):
    		for x in xrange(img.get_width()):
    			c = 255
    			if buf[y][x]:
    				c = 0
    			tmp = (c,c,c,255)
    			img.set_at((x,y), tmp)
    	return r
    
    init()
    display.init()
    im = None
    if len(sys.argv)>1:
    	im = image.load(sys.argv[1])
    else:
    	im = image.load('/data/HWR/12.bmp')
    imo = im.copy()
    print imo == im
    scl = 8
    im2x = transform.scale(im, (im.get_width()*scl, im.get_height()*scl))
    scr = display.set_mode((im2x.get_width(),im2x.get_height()), HWSURFACE|DOUBLEBUF)
    
    r = True
    while r:
    	scr.fill((0,0,0))
    	scr.blit(im2x, (0,0))
    	display.flip()
    	for e in event.get():
    		if e.type == QUIT or e.type==KEYDOWN and e.key==K_ESCAPE:
    			r = False
    			break
    		if e.type==KEYDOWN:
    			if e.key == K_r:
    				im.blit(imo, (0,0))
    				transform.scale(im, (im.get_width()*scl, im.get_height()*scl), im2x)
    			elif e.key == K_t:
    				thinning(im)
    				transform.scale(im, (im.get_width()*scl, im.get_height()*scl), im2x)