Tegan and Sara – Sainthood

October 31st, 2009 by Fajar Fathurrahman

Sainthood

Tanggal 27 Oktober 2009 kemarin, Tegan and Sara meluncurkan album baru “Sainthood” yang merupakan full-album ke 6 dari Tegan Rain Quin dan Sara Keirsten Quin. Album Sainthood ini masih diproduseri oleh produser yang sama seperti album sebelumnya (The Con) yaitu Chris Walla, gitaris dari Death Cab for Cutie, dan juga untuk sesi recording dibantu oleh Hunter Burgan, bassist grup band AFI. Terdapat 13 track lagu di album Sainthood ini, berikut list-nya:

# Title Length
1. “Arrow” (Sara Quin) 3:06
2. “Don’t Rush” (Tegan Quin, Hunter Burgan) 2:43
3. “Hell” (Tegan Quin, Burgan) 3:24
4. “On Directing” (Sara Quin) 2:46
5. “Red Belt” (Sara Quin) 2:11
6. “The Cure” (Tegan Quin, Burgan) 3:22
7. “Northshore” (Tegan Quin) 2:04
8. “Night Watch” (Sara Quin) 2:33
9. “Alligator” (Sara Quin) 2:42
10. “Paperback Head” (Tegan Quin, Sara Quin) 2:38
11. “The Ocean” (Tegan Quin) 3:06
12. “Sentimental Tune” (Sara Quin) 3:23
13. “Someday” (Tegan Quin) 2:57

Bila dibandingkan dengan album – album yang sebelumnya, album Sainthood ini lebih ke arah pop – alternative, agak berbeda dengan album – album sebelumnya yang agak lebih rumit. Jujur saja, saya lebih menyukai album sebelum album Sainthood ini, yaitu The Con. Namun ada beberapa lagu yang menurut saya bagus dan enak didengar, sebut saja seperti track #12 “Sentimental Tune” dan track #13 “Someday”. Ahhh, suaranya Sara Quin semakin seksi saja di album ini . Saya beri nilai 7,5 / 10 untuk album Sainthood ini. Selamat mendengarkan )

Posted in Music, News Tagged: Sainthood, Tegan and Sara

Merry Christmas!

October 31st, 2009 by Petra Novandi Barus

Merry Christmas, you g33k! :D

       *
      * *
       *
       /\
      / .\
     / . .\
    /______\
      |__|

Pesan rahasia sang Governator…

October 30th, 2009 by Arya Antaputra

Pembaca pasti tahu Arnold Schwarzenegger kan? Binaragawan dan bintang film yang sekarang jadi Gubernur negara bagian California… (tuh gua kasih tahu, jadi semua pembaca dianggap tadinya blm tahu -P )

Nah, si Governator (Governor-Terminator) baru-baru ini kesal gara-gara menurut dia undang-undang yang dirancang oleh California State Assembly (badan legislatif negara bagian itu) banyak yang kurang penting, jadi cuma bikin repot dia aja buat membaca ulang dan mensahkannya. Akhirnya, suatu kali waktu dia diminta tanda tangan RUU baru sama badan legislatif, Arnold memutuskan untuk mem-veto RUU itu, terus berkasnya dikembaliin ke mereka ditambah sehelai catatan kecil.

Surat dari Arnold

Biasa aja suratnya sih, nunjukin kekecewaan dia karena masalah-masalah yang dia angkat nggak pernah diperhatiin. Tapi… surat ini ternyata juga mengandung pesan rahasia, sebuah steganografi. Bisakah pembaca menemukannya? Hehehe…

Kalau udah ketemu, mungkin pembaca mau nyoba teka-teki steganografi yang lebih sulit dikit (menurut gua sih, hehe). Ada di blog ini juga…

(sumber: Wired.com)

oct28

October 28th, 2009 by Dave Mangindaan

thursdae oct 28, 2004.. won’t forget ya’ !

drove ya’, for the first time.. highly nervous, get the engine turned off accidentally when took U-turn at Paskal.. haha..

phew, it’s already 5 yrs )
will ya’, somewhere out there, able to read this? dunno.. T_T gimme a buzz when you get it, will ya’? )
~thursdae~

Oct 28, 2009

suffering the dammit slavery ~_~

Sumpah Pemuda

October 27th, 2009 by Wijayanto Budi

Ceritanya lagi diminta sama si Andy untuk bikin insert tentang Sumpah Pemuda buat radio lain sebagai partisipasi dari Radio PPI Dunia. Ternyata… bikin speech +1 menit itu nggak semudah yang dibayangkan… Pernah nonton film2 Jacky Chan yang di akhir filmnya mengungkap scene2 yang gagal?

Berikut ini teks yang gw buat…

Assalamualaykum wr wb

hi saya Jaya dari radioppidunia,

saat ini saya sedang mengambil studi master di jurusan electrical engineering di Taiwan. ada alasan yg kuat mengapa saya memilih untuk meneruskan sekolah di luar negeri, bukan, bukan karena saya tidak cinta Indonesia. namun sebaliknya, saya sangat cinta Indonesia. Dengan sekolah di luar negeri, kita jadi tahu bagaimana orang-orang di luar sana melihat Indonesia, selain itu kita jadi tahu bagaimana cara mereka memajukan bangsanya. Dengan begitu kita bisa tahu apa yg kurang dan apa yg lebih dari negeri kita sehingga nantinya kita berkontribusi yg maksimal terhadap negara kita.

Mencuplik kata2 dari John F Kennedy, jangan tanyakan apa yg bisa negara berikan padamu, namun tanyakan apa yg kamu bisa berikan pada negara.

Harapan saya untuk bangsa cuma satu, Indonesia bisa menjadi negara yg maju dan tidak dipandang sebelah mata oleh negara2 lain.

Maju terus Indonesia, Indonesia Jaya!

Dan berikut ini adalah sekian kegagalan rekaman yg terjadi…

Gagal…

Gagal maning…

Gagal maning… Gagal maning…

Gagal lagi…

Gagal again…

Lagi… lagi… dan lagi… padahal dah hampir selesai…

Dan akhirnya berhasil juga…

kampanye anti mencontek (menyontek?) yang unik

October 26th, 2009 by Fat'hah Noor

Dua buah baligo dengan konten seputar kampanye anti mencontek (atau menyontek?) ini sudah terpasang di depan kampus sejak sekitar 2 minggu yang lalu, pada masa-masa UTS. Silakan klik pada gambar agar terlihat lebih jelas.



Beberapa spanduk dengan konten senada pun sudah banyak terpasang di titik-titik strategis di dalam kampus sejak akhir semester yang lalu. Berikut ini liputan di blog lain tentang kampanye anti menyontek (atau mencontek?) di kampus ITB: [Link-1], [Link-2], [Link-3]

Diet #8 - Eighties

October 25th, 2009 by Ardhi Adhary Arbain
  Lagi malas nulis … yg jelas dalam dua minggu ini berat badan cuman turun 3 kilo. Mulai makan nasi dikit-dikit, kadang makan malam juga, plus ngemil. Namanya juga diet santai .. setidaknya banyak pelajaran yang kudapat dalam dua minggu terakhir ini …  Misalnya, kalo lagi stress lebih baik libur diet dulu, sebab ternyata stress berbanding lurus [...]

Flood Fill on 3D Image

October 24th, 2009 by Peb Ruswono Aryan

Flood Fill merupakan teknik mengarsir yang menggunakan analogi menuangkan cat warna di satu titik yang kemudian cat tersebut akan bergerak meluas hingga merata (menutupi seluruh area yang dibatasi). cat akan meluberi daerah yang memiliki predikat sama (warna yang sama, atau bukan warna tertentu). Adapun jika digunakan predikat bukan warna tertentu maka dikenal sebagai variannya yaitu boundary fill. titik awal warna dituang dinamakan dengan titik bakar.

Pada kuliah grafika komputer, dan buku teksnya. Algoritma Floodfill dideskripsikan secara rekursif sbb

{menggunakan predikat warna sama dengan warna titik bakar}
procedure floodfill(p:point, i:image; newcolor:color);
var
   oldcolor : color;
begin
   oldcolor := i.pixel[p.x][p.y];
   i.pixel[p.x][p.y] := newcolor;
   {i.pixel[neighbor.x][neighbor.y]=oldcolor merupakan predikat sebagai syarat rekurens}
   {tetangga kiri}
   if (p.x > i.left_bound) and (i.pixel[p.x-1][p.y]=oldcolor) then floodfill(point(p.x-1, p.y), i, newcolor);
  {tetangga kanan}
  if (p.x < i.right_bound) and (i.pixel[p.x+1][p.y]=oldcolor) then floodfill(point(p.x+1, p.y), i, newcolor);
  {tetangga atas}
  if (p.y > i.top_bound) and (i.pixel[p.x][p.y-1]=oldcolor) then floodfill(point(p.x, p.y-1), i, newcolor);
  {tetangga bawah}
  if (p.y < i.bottom_bound) and (i.pixel[p.x][p.y+1]=oldcolor) then floodfill(point(p.x, p.y+1), i, newcolor);
end;

Algoritma di atas merupakan contoh generik untuk citra 2D. Untuk citra 3D algoritma di atas dapat diperluas dengan ekspresi yang sama, yang berbeda hanyalah rekursif tetangganya yang bertambah yaitu tetangga depan dan tetangga belakang.

{menggunakan predikat warna sama dengan warna titik bakar}
procedure floodfill(p:point3d, i:image; newcolor:color);
var
   oldcolor : color;
begin
   oldcolor := i.pixel[p.x][p.y][p.z];
   i.pixel[p.x][p.y][p.z] := newcolor;
   {i.pixel[neighbor.x][neighbor.y][neighbor.z]=oldcolor merupakan predikat sebagai syarat rekurens}
   {tetangga kiri}
   if (p.x > i.left_bound) and (i.pixel[p.x-1][p.y][p.z]=oldcolor) then floodfill(point(p.x-1, p.y,p.z), i, newcolor);
  {tetangga kanan}
  if (p.x < i.right_bound) and (i.pixel[p.x+1][p.y][p.z]=oldcolor) then floodfill(point(p.x+1, p.y,p.z), i, newcolor);
  {tetangga atas}
  if (p.y > i.top_bound) and (i.pixel[p.x][p.y-1][p.z]=oldcolor) then floodfill(point(p.x, p.y-1,p.z), i, newcolor);
  {tetangga bawah}
  if (p.y < i.bottom_bound) and (i.pixel[p.x][p.y+1][p.z]=oldcolor) then floodfill(point(p.x, p.y+1,p.z), i, newcolor);
  {tetangga depan}
  if (p.z > i.front_bound) and (i.pixel[p.x][p.y][p.z-1]=oldcolor) then floodfill(point(p.x, p.y,p.z-1), i, newcolor);
  {tetangga belakang}
  if (p.z < i.rear_bound) and (i.pixel[p.x][p.y][p.z+1]=oldcolor) then floodfill(point(p.x, p.y,p.z+1), i, newcolor);
end;

algoritma rekursif memang memiliki ekspresi yang sederhana namun seringkali implementasinya terganggu dengan pesan stack overflow yang diakibatkan ukuran stack di heap untuk procedure call yang terbatas. Hal ini dapat diatasi dengan mengubah algoritma di atas menjadi iteratif dan mensimulasikan stack sebagai struktur data eksternal. Apakah kedua hal tersebut sudah cukup? tentu belum, jika mekanisme mencari tetangganya sama persis dengan algoritma rekursif di atas maka justru algoritma versi iteratif lebih buruk performanya. Kita perlu mengoptimasi pencarian tetangga sehingga ukuran untuk stack dapat dikurangi.

Untuk mengurangi pengisian stack tersebut kita dapat mengubah ide dari algoritma di atas dengan cara memusatkan perhatian pada tetangga yang berada di satu sumbu. Misalkan kita perhatikan di sumbu vertikal (sumbu Y), maka kita akan mendapatkan sebuah rentang minimum-maksimum yang memiliki predikat sama. Rentang ini kemudian ditelusuri. Selama menelusuri rentang tersebut, barulah kita memperhatikan tetangga di sumbu lainnya (sumbu X). Karena kita secara konstan menelusuri rentang vertikal maka kita cukup memperhatikan perubahan di tetangga. Kita hanya perlu menyimpan ke stack, tetangga yang baru kita temukan pertama. Tetangga yang letaknya di bawah tetangga tersebut jika memiliki predikat yang sama tidak perlu disimpan karena pasti dikunjungi ketika titik tersebut diproses pertama kali secara vertikal.

Algoritma tersebut diekspresikan dalam kode berikut:

{menggunakan predikat warna sama dengan warna titik bakar}
procedure floodfill(p:point3d, i:image; newcolor:color);
var
   oldcolor : color;
   stpt : stack;// stack of point3d;
   pt : point3d;
   y1, y2, yy : integer;
   span_left, span_right, span_front, span_rear: boolean;
begin
   oldcolor := i.pixel[p.x][p.y];
   stpt.push(p.x,p.y,p.z);
   while not stpt.is_empty() do begin
      pt := stpt.pop();
      y1 := pt.y;
      while (y1 > i.top_bound) and (i.pixel[pt.x][y1-1][pt.z]=oldcolor) do dec(y1);
      y2 := pt.y;
      while (y2 < i.bottom_bound) and (i.pixel[pt.x][y1+1][pt.z]=oldcolor) do inc(y2);
      span_left := false;
      span_right := false;
      span_front := false;
      span_rear := false;
      for yy := y1 to y2 do begin
         if (pt.x > i.left_bound) then begin
            if not span_left and (i.pixel[pt.x-1][yy][pt.z]=oldcolor) then begin
               span_left := true;
               stpt.push(pt.x-1, yy, pt.z);
            end else if span_left and not (i.pixel[pt.x-1][yy][pt.z]=oldcolor) then span_left := false;
         end;
         if (pt.x < i.right_bound) then begin
            if not span_right and (i.pixel[pt.x+1][yy][pt.z]=oldcolor) then begin
               span_right := true;
               stpt.push(pt.x+1, yy, pt.z);
            end else if span_right and not (i.pixel[pt.x+1][yy][pt.z]=oldcolor) then span_right := false;
         end;
         if (pt.z > i.front_bound) then begin
            if not span_front and (i.pixel[pt.x][yy][pt.z-1]=oldcolor) then begin
               span_front := true;
               stpt.push(pt.x, yy, pt.z-1);
            end else if span_front and not (i.pixel[pt.x][yy][pt.z-1]=oldcolor) then span_front := false;
         end;
         if (pt.z < i.rear_bound) then begin
            if not span_rear and (i.pixel[pt.x][yy][pt.z+1]=oldcolor) then begin
               span_rear := true;
               stpt.push(pt.x, yy, pt.z+1);
            end else if span_rear and not (i.pixel[pt.x][yy][pt.z+1]=oldcolor) then span_rear := false;
         end;
         i.pixel[pt.x][yy][pt.z] := newcolor;
      end;
   end;
end;

Puisi Untuk-Nya (bagian 2)

October 23rd, 2009 by Ardhi Adhary Arbain
Senyum itu terus mengembang di bibirku … entah kenapa begitu … aku pun tak tahu … semua perasaan itu … senang, sedih, tegang, lega dan takut menjadi satu … Mungkin aku sudah gila … sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota yang bernama Jakarta … hanya untuk mengejar cita dan cinta … yang masih tidak jelas [...]

Foto Udara PLTU Indramayu

October 23rd, 2009 by Sawung



Foto diatas diambil tanggal21 oktober 2009 menggunakan kamera Canon Ixus 90IS

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

Beginilah Kalo Ngeadd Dosen Sendiri di Facebook

October 23rd, 2009 by Petra Novandi Barus

Sering kejadian orang-orang yang kena batunya gara-gara ngeadd bos sendiri. Well, ini gak kena batu banget seh, cuman rada lucu aja. Akibat ngeadd dosen sendiri di Facebook.

Wkwkwkwk

How Can Something Life Without Becoming A God?

October 21st, 2009 by Fajar Fauzi Hakim
impian terliarku adalah menjadi tuhan. tidak penting bagaimana aku disembah. karena menjadi tuhan adalah memiliki kehendak yang tidak satupun dapat ditahan. tidak ada suara rakyat yang bisa menandingi suaraku. karenanya segala hal akan berjalan sesuai keinginanku. segala sesuatu berasal dari hukumku. semua tunduk, mungkin tanpa harus mereka tahu bahwa mereka sedang tunduk. semua hal tertuju pada aku.

menjadi tuhan juga berarti sangat berkuasa untuk menguasi diri. aku akan menjadi seperti yang kuinginkan dengan hanya menginginkannya. aku akan menjadi seseorang yang paling bersyukur tanpa harus menahan perihnya kekurangan. tanpa bersabar. aku akan menjadi diri sendiri tanpa harus berbohong dan menderita. kita tahu, menjadi diri sendiri hanyalah dusta. semua orang menginginkan orang lain sama sepertinya, tanpa harus repot-repot bertoleransi. dengan menjadi tuhan, maka aku akan menjadi diri sendiri sepenuhnya.

aku bukan lagi manusia. semua hal yang berkaitan dengan sifat-sifat kemanusiaan sudah kubuang. tidak perlu lagi merasa dan berempati. tidak lagi terikat oleh jahat dan baik. tidak lagi berada dalam keraguan. tidak perlu lagi menahan rasa. sebab semua rasa, akal, dan usaha ada dalam kendali penuh. aku memiliki kendali penuh atas diriku.

energi abadi adalah aku. tidak ada rasa ngantuk dan lapar. energi abadi. yang mustahil dicapai manusia yang fana. yang tak mampu memakmurkan dunia karena keterbatasan energinya. tak ada mengeluh. tak ada yang bisa membuat lelah.

kuciptakan surga bagi diriku. tiada penderitaan bagiku dan bagi selain aku.

tidak memerlukan musuh maupun kawan.

tiada kepuasan di atasku. akulah puncak kepuasan manusia yang tidak ada habisnya. akulah syukur yang tanpa derita sabar.

akulah hati yang maha kuat dan maha besar.

namun di sini akulah manusia kecil. yang tidak mengetahui siapa dan di mana dirinya. juga tidak mengetahui kesulitan sebagai tuhan. mungkin memang tidak ada. namun tidak ada satupun yang dapat menjadi tuhan. sebab mungkin tuhan itu tidak ada. selain Allah. yang setiap nama-Nya kutulis, hati menjadi berat.

Code Generation for Software Maintenance

October 21st, 2009 by Peb Ruswono Aryan

Sebetulnya UTS hari ini (jam 9 nanti) tentang intelejensia kolektif yang bahannya tentang EA (evolutionary algorithm) dan ACO (ant colony optimization), tapi yang dibaca sebelum tidur malah buku Practical Software Maintenance-nya Tom Pigoski. Kebetulan memang untuk kuliah pengujian perangkat lunak kebagian bab tentang testing pada saat maintenance. Baru baca bab-bab awal. Persepsi awal tentang isinya lumayan menarik sambil merefleksikan masa-masa yang pernah dialami (sebetulnya istilah pengalaman lebih singkat tapi punya makna konotasi yang bisa baik bisa juga jelek D ).

Singkat kata, dari bacaan awal bisa diceritakan bahwa perawatan (padanan untuk maintenance) seringkali memiliki banyak interpretasi. Perawatan bisa jadi merupakan pengeluaran yang kecil dibanding biaya pengembangan atau justru menjadi pengeluaran utama dibanding biaya pengembangan. Interpretasi pertama dicirikan dengan adanya alokasi sekitar 10% untuk ‘support & maintenance‘, sedangkan interpretasi kedua mengalokasikan 80% untuk hal tersebut. Pertanyaan pertama yang muncul adalah “Yang mana yang lebih baik? untuk developer, maintainer, dan customer” (pengguna dibedakan dengan customer dan dikesampingkan dulu karena berdasarkan buku tsb, tersangka utama penyedot biaya perawatan adalah pengguna).

Pihak yang melakukan perawatan pun bisa jadi bukan pengembang perangkat lunak awal melainkan pihak lain yang mengkhususkan diri di bidang perawatan perangkat lunak (itu cerita di bukunya dengan situasi di US, kalau di Indonesia ada tidak yah (organisasi spesialis perawatan)?).

Sebelum mencoba menjawab pertanyaan di atas, cerita lain tentang isi buku tsb adalah bahwa aktivitas yang dilakukan dalam proses perawatan bisa digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu:

  • corrective
  • adaptive
  • perfective/improvement

Kunci dari keberhasilan proses perawatan (lagi-lagi berdasarkan buku tsb.) adalah mengklasifikasikan hal-hal yang perlu berubah ke dalam kelompok tersebut. Pengklasifikasian di atas disusun berdasarkan prioritas dan resikonya. Kisaran proporsi ketiga kelompok tersebut berturut-turut 20%, 25%, dan 55%. intinya, kebanyakan dari perawatan adalah improvement. Celakanya permintaan atas improvement ini nggak melihat struktur perangkat lunak ada. Jadi ingat pernah ada yang minta ganti grid (standar VCL Delphi) biar tampak lebih menarik (Dibandinginnya dengan DataGrid defaultnya Flex). Ibaratnya, lagi nyetir mobil kecepatan tinggi tiba-tiba punggung itu gatal!.

IMHO, situasinya akan lebih enak kalau deskripsi sistem yang mau dibikin itu bisa selesai di 10% (lebih enak lagi kalau verifikasi kesesuaian dengan spesifikasinya bisa dilakukan otomatis menggunakan metode formal) waktu total pengembangan sistem sehingga 90 persen sisanya adalah proses maintenance & testing untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang diyakini selalu berubah. Aspek adaptif dan perfektif berhubungan dengan antarmuka dengan sistem lain (infrastruktur perangkat keras, API, sistem operasi, target deployment platform), dan manusia (user interaction).

Saya sendiri sebetulnya lebih tertarik ke interaksi. Bayangan saya adalah user interface yang dinamis (bukan sekedar style/theme yang hanya mencakup aspek estetis, tetapi juga struktur hierarki, tata letak, dan pemilihan komponen interaksi) yang menyesuaikan dengan target deployment platform (desktop, web, mobile) dan selera pengguna. Untuk itu diperlukan tool untuk membantu perancang interaksi (paradigma Microsoft) atau menjadi fasilitas yang terintegrasi dengan sistem yang digunakan oleh pengguna (end-user development). Satu hal yang pasti dengan adanya sistem antarmuka yang dinamis dan universal ini lahir kebutuhan baru yaitu pembuatan manual penggunaan yang otomatis juga.

Kalau diinventarisasi, untuk menyelesaikan persoalan di atas (pembangkitan antarmuka dan manual ~ user interface and instruction manual generation) perlu beberapa hal berikut:

  • pemodelan domain arsitektur informasi, interaksi, dan kapabilitas platform (domain spesific modeling, MDA) termasuk model pembangkitan teks narasi untuk menceritakan skenario interaksi(natural language processing) menjadi bahasa spesifik (domain spesific language).
  • teknik kompilasi, khususnya untuk proses generation dari domain spesific language ke kode target platform
  • pengetahuan tentang interaksi (teori aktivitas dan teori kognitif) yang menjadi batasan pada proses pencarian solusi
  • Teknik optimasi kombinatorial untuk menghasilkan solusi berupa konfigurasi yang diharapkan

Tampak terlalu besar cakupannya untuk dijadikan tesis (mungkin harusnya jadi program riset kk/unggulan?) dengan sisa waktu kurang dari satu semester. Mungkin bisa dibatasi lagi supaya lebih layak mengingat masih ada konsep-konsep yang sifatnya vague.

My Brand New Guitar

October 17th, 2009 by Fajar Fathurrahman

Epiphone Dot Cherry

Epiphone Dot Cherry

Epiphone Dot Cherry, versi murah dari Gibson ES-335

Spec:

  • Pickups: 2-Humbuckers
  • Hardware: Chrome
  • Scale: 24.75″
  • Nut width: 1.68″
  • Neck: Set, Mahogany
  • FB inlay: Rosewood-Dot
  • Binding: B
  • Body Material: Laminated Maple
  • Top: Laminated Maple
  • Tailpiece: Stopbar

Love this guitar -)

Posted in Others Tagged: Dot, Epiphone, Gibson, Guitar

When I’m Quiet

October 16th, 2009 by Petra Novandi Barus

means

  1. I really don’t know whether to greet you with “Hello“, “Hi“, “Howdy“, “Good Morning“.
  2. I am confused on how to start a nice conversation with you.
  3. I have something to say but I’m calculating all possibilities of the conversations following.
  4. I see you tired and I don’t want to disturb you.
  5. I feel so happy my lips are sealed with smile.
  6. I enjoy very much you just being around.
  7. I become quite speechless since your face talking is filling up my mind.
  8. I don’t have time to reply since time flies so fast every time you’re near.
  9. I feel that your angelic voice is so soothing and I’d rather shut my mouth than interrupt.

lagi iseng-iseng aja ngelanjutin postingan orang :P
it could also mean this many when you’re quiet, actually ^_^

7 on Cisco UCS

October 16th, 2009 by Fajar Fathurrahman

Kemaren coba – coba install windows 7 di Cisco UCS, semacam solusi server virtualisasi dari Cisco. Hmm hasil score nya lumayan untuk ratingnya, kecuali dari segi grafis P

Windows 7 on Cisco UCS

Windows 7 on Cisco UCS

Score nya 7.8 dari 7.9, maklum saya baru pertama kali liat P

Windows 7 Profile

Windows 7 Profile

Posted in IT, Microsoft, Networking, Technology Tagged: Cisco UCS, Windows 7

October 14th, 2009 by Muhammad Arif Wicaksana
Di UNIX/Linux, untuk melihat adanya koneksi mencurigakan yang membuka soket di mesin, biasanya digunakan perintah netstat/sockstat. Setelah PIDnya ketemu, baru proses tersebut dibunuh dengan kill. Saya baru tahu cara melakukan proses serupa di Windows –setelah ada kejadian komputer ditelnet dari IP aneh — dari baca-baca di Internet : pertama, gunakan ‘netstat -b’. Terlihat semua [...]

Piknik ke Kebun Binatang Bandung

October 13th, 2009 by Petra Novandi Barus


*Diawali dengan foto super gak jelas*

Beberapa minggu lalu gw dan temen-temen anak IF angkatan 2005 pergi piknik bersama ke kebun binatang Bandung. Banyak dari kita tuh yang ternyata selama 4 tahun di ITB gak pernah sama sekali ke kebun binatang padahal sebelahan. Katanya sih ada takhayul bahwa kalau masuk ke kebun binatang sebelum lulus nantinya dapet kutukan lulus lama. Gak tau seh bener apa enggaknya

Tapi menarik juga seh main ke kebun binatang. Dulu gw yang suka bilang, “Ah kebun binatang pindahin aja, udah bikin macet, bikin bau pula” sekarang… yah tetep seh, tapi lebih rada simpatik lah. Dan yg rada gak suka di sana itu kasian binatangnya kurus-kurus banget. Cem gak pernah dikasih makan.

Karena kebetulan lagi males nulis dan gambar lebih bercerita daripada kata-kata, silakan nikmati album fotonya di sini.

http://www.facebook.com/album.php?aid=114327&id=701827341&l=45d9f8388c

Masterpiece

October 13th, 2009 by Muhammad Arif Wicaksana
Menurut kamus online Merriam-Webster : Main Entry: mas·ter·piece Pronunciation: \’mas-t?r-?pes\ Function: noun Date: 1600 1 : a work done with extraordinary skill; especially : a supreme intellectual or artistic achievement 2 : a piece of work presented to a medieval guild as evidence of qualification for the rank of master Jadi, judul artikel dari Detikhot di atas kurang tepat. Almarhum Chrisye bukanlah [...]

Air Bandung Yang Bermartabat

October 12th, 2009 by Leksa

sungai cikapundungIni keluhan yang sangat sangat sangat mengganggu.

Kebetulan saya baru kembali dari Bandung. Menumpang 4 hari di rumah teman di sekitar daerah Kanayakan, Dago. Dan saya harus katakan kesal luar biasa.

Saya baru saja tiba dari Bandara Sukarho Hatta waktu itu, dan langsung bergerak menuju Bandung. Berharap sampai di Bandung bisa merasakan segarnya air Bandung menutupi penat nya badan karena udara kotor Jakarta. Tapi apa dinyana. Air di tempat saya tinggal tersebut mati.

Menunggulah saya dan teman-teman di rumah itu, berharap ini cuma giliran pemadaman saja. Seperti biasanya. Tapi, ternyata lebih parah. Sampai kemarin saya kembali ke Yogyakarta, air belum juga mengalir. Info terbaru malah sampai hari ini (berarti hari ke-5) belum juga mengalir. Keluhan serupa datang dari berbagai penjuru kawasan Dago, yang saya baca di twitter, juga dengar dari cerita teman-teman dan tetangga.

Ini bukan cerita aneh buat kota Bandung memang. Tapi sampai 5 hari tanpa informasi jelas atau lewat permintaan maaf dari pihak PDAM Bandung -media massa/atau dimanapun yang bisa dijangkau publik infonya, bagi saya ini berarti sebuah kekeliruan manajemen kota yang serius!

Masyarakat diminta untuk terus membayar. Tapi pelayanan pun semakin menyesakkan dengan bertambahnya hari-hari panas di Bandung. Setahu saya, PDAM bandung sendiri pernah merilis bahwa mereka menyadari semakin kekurangan debit air untuk kebutuhan publik. Tapi di sisi lain, pihak manajemen mengakui juga kalau mereka mengalami kerugian karena berbagai sebab secara berkala, dengan nilai rupiah hingga puluhan miliar pertahunnya (34 miliar terakhir saya baca dari Pikiran Rakyat).

Jika sudah begini Persoalan air kota Bandung bukan lagi urusan PDAM semata. Pemerintah kota, atau bahkan Pemda Jabar harus proaktif turun tangan. Institusi pendidikan teknologi terhebat di Indonesia yang berlokasi di kota yang sama pun mengakui bahwa muka air tanah kota Bandung semakin rendah. Ironisnya, kontribusi institut ini buat permasalahan tata kota mereka sendiri belum bisa diselesaikan secara nyata. Padahal mereka sendiri baru membanggakan diri karena kenaikan peringkat institusi pendidikan tersebut naik menjadi 80 besar di dunia. Terakhir yang saya lihat, sebuah mall disiapkan lagi didepan gedung rektoratnya. Sungguh ironis.

Sebabnya kekuarangan air ini bisa ditebak. Daya serap air tanah semakin rendah, aliran air semakin sedikit dengan kondisi iklim yang sulit ditebak juga karena pengaruh iklim. Sementara disana, bangunan-bangunan gedung yang menggila terus dibangun karena tuntutan sebagai “kota satelitnya orang jakarta”. Dan membludaknya kebutuhan air dari mobilisasi penduduk, plus kebutuhan air untuk gedung-gedung besar ini jelas menyedot air Bandung yang semakin sedikit. Jika sudah begini, akan dibawa kemana tata kota Bandung yang akunya Bermartabat itu?

Jangan-jangan memang martabat kota Bandung harus dipertanyakan kembali. Dulu sempat dipertanyakan karena sampah. Apakah sekarang harus bertaruh nama kembali lantaran permasalahan air?


Sumber :

Research singkat dari google persoalan air dan tata kota Bandung.

http://coretankelambu.wordpress.com/author/yudhaspiza/page/14/

« Previous Entries