Gara-gara Kelamaan di Taiwan
Wijayanto Budi

SMS dikirim...
.
.
.
.
.

SMS diterima...
Wijayanto Budi

SMS dikirim...
.
.
.
.
.

SMS diterima...
Yvan Christian beberapa minggu belakangan gw terserang virus baru di dunia per-idol-an…as written in the title, gw kena jerat SNSD (So Nyeo Shi Dae a.k.a. Girls’ Generation)…dan semuanya berlangsung sama cepatnya kaya gw dulu terjerumus ke dunia Hello! Project…cuma dalam beberapa minggu itu, gw dah merasakan kerugian suka sama grup-cewe-imut-yang-rame ini…space harddisk gw langsung drop, sebelum gw demen SNSD, total space harddisk gw masi 16GB…dan ga nunggu lama, totalnya tinggal kurang dari 500MB…dan gw langsung berpikir untuk gadai baju buat beli harddisk external 1 TB…tapi jangan baju gw, ada yang mo minjemin baju buat digadai ga…
semua berawal dari kesukaan gw ama koreografi modern yang sharp dan mantap…lho koq gitu? iye, jadi beberapa bulan yang lalu, gw mendatangi sebuah event di Cihampelas Walk…dan di situ ada grup dance yang ngbawain dancenya Sorry Sorry dari Super Junior…ngliat gerakan2nya, gw mayan cengo…koq seru kayanya…trus gw dapet MV (baca: Music Video) Sorry Sorry dari temen gw…dan ternyata emang asik banget gerakannya, mana keroyokan lagi…hahaha…
[MV] Sorry Sorry – Super Junior (Dance Shot ver.)
lalu, hubungannya dengan SNSD apa? nah, kebetulan yang sangat betul karena SNSD ada performance ngbawain Sorry Sorry ini…dan terus terang, gw lebih cengo ngliat SNSDnya daripada Super Junior…JELAS DONG! 9 cewe manis-cakep-imut-seksi (silahkan lingkari jawaban anda, klo gw sih, nglingkarin semua, halah) pasti lebih enak gw pandang dari pada 13 cowo yang kata cewe sih, ganteng dan keren itu…di performance itu, terus terang, buat gw yang paling mencolok adalah Sooyoung…dan abis itu gw langsung liat MV Genie di laptop gw…nah, gw emang dah punya nih MV sejak direlease, tapi ya buat tontonan iseng doang…begitu gw tonton lagi MV Genie, gw pun langsung menandatangani kontrak LNG dengan negara tetangga…tapi itu klo gw duduk di kursi presiden…berhubung gw ngga duduk, tapi tiduran, itupun di ranjang kamar gw (baca: bukan ranjang presiden)…maka gw pun cuma menyatakan Sooyoung sebagai favorit gw di SNSD…
SNSD performing Sorry Sorry in MusicCore
seiring dengan waktu dan beberapa TV shows yang gw tonton…favorit gw mengembang, dan akhirnya muncul lah 4 nama yang menjadi top four SNSD gw…dan mereka adalah, *drum rolls* (ini klo member SNSD ngebaca mereka deg2an ga ya?)…
1. Sooyoung, the jack-of-all trade cute-cool-funny girl…
2. Yuri, the wavy-prankster dancer girl…
3. Yoona, the cutest-funny angel girl…
4. Hyoyeon, the powerful-sexy-silly girl…
dan bahkan SNSD ini mempengaruhi alam bawah sadar gw lebih cepet dari Hello! Project…1 minggu ini aja, gw dah 3 kali mimpiin SNSD…sayangnya, mimpi kedua gw lupa kaya gimana…dan uniknya, dalam mimpi gw itu, yang jadi bintang tamu malah bukan top four gw…cadas bukan? bahwa dalam alam bawah sadar gw pun, mereka tetep berusaha masuk ke dalam list top four gw…hahaha…
next time, bakal gw ceritain tuh mimpi…kekekeke…
Petra Novandi Barus Dulu ayah saya pernah bercerita mengenai Kisah Raja Lombok Mati Tergantung. Kisah ini sangat menarik bagi saya yang kala itu masih duduk di bangku SD. Sampai sekarang pun kisah ini sering saya renungkan karena dibalik cerita menggelitik itu terdapat makna yang menurut saya dalam.
Suatu saat datanglah karnaval ke sebuah desa. Karnaval ini, seperti seharusnya sebuah karnaval, mendirikan tenda-tenda yang berisi pertunjukan menarik bagi warga desa: mahkluk aneh, sirkus, atraksi menantang maut serta atraksi lainnya. Di sebuah pojokan kompleks karnaval didirikan sebuah tenda yang ramai oleh warga desa. Di depan tenda ini ada papan bertuliskan “Raja Lombok Mati Tergantung. Masuk dan Saksikan!” Memang dengan tulisan tersebut warga tidak ayal mengerubungi tenda tersebut mengantri untuk karcis masuk.
Tetapi apa yang warga lihat? Sebuah cabai seukuran tangan manusia yang tergantung di tengah-tengah tenda.
Untuk warga desa yang sebagian besar petani mungkin atraksi itu seharusnya cukup menarik mengingat sepertinya sulit untuk menanam dan memelihara lombok menjadi sebesar itu. Tetapi saya yakin yang ada di dalam pikiran mereka saat mengantri karcis bukanlah hal itu yang ingin dilihat. Keinginan warga sangatlah kuat untuk melihat seorang yang memiliki status tertinggi di sebuah pulau besar di Indonesia meninggal dalam keadaan mengenaskan di sebuah tenda kotor yang didirikan di desa mereka. Apa daya, meski warga cukup terkagum, ada banyak kekecewaan. Dan celakanya pengelola karnaval pun tidak bisa dituntut karena apa yang dipertunjukkan tidak menyimpang. Warga pun terpaksa pulang sambil menggerutu.
*saya yakin pembaca tulisan ini banyak yang tidak jauh berbeda dengan warga desa
*
Saya sering merenungi kisah ini ketika saya membaca sebuah situs berita elektronik di Indonesia yang paling aktual tapi tidak berisi dan acara-acara seputar artis yang selalu ditayangkan di televisi secara redundan pada jam yang sama.
Saya bukan jurnalis dan saya tidak tahu seperti apa seharusnya menulis berita. Saya juga jarang membaca berita-berita di koran Indonesia. Tapi kadang-kadang saya sering melihat banyak berita yang sepertinya menggiring penerima berita kepada sebuah opini layaknya warga desa yang ingin melihat Raja Lombok Mati Tergantung. Dan sialnya opini tersebut seringkali berlebihan, terlalu sensasional, dan cenderung kontroversial. Yang seperti ini memang sering terlihat di berita-berita seputar artis dan di media-media berita formal dan besar. Yang cukup sering saya renungkan adalah reaksi masyarakat yang seolah-olah menelan opini tersebut bulat-bulat dan memberikan reaksi yang juga berlebihan.
Di satu pihak, bagi media hal itu penting karena di situlah sumber pendapatan mereka. Kalau masyarakat adem ayem maka barang dagangan mereka tidak laku. Dan di lain pihak, masyarakat juga tertarik dengan opini yang dibentuk oleh media. Yah, saya juga tidak bisa memberikan semacam solusi atau nasihat. Buat saya pribadi juga tidak terlalu penting karena saya jarang menonton berita-berita di televisi Indonesia. Hanya saja setiap kali saya melihat berita-berita seperti itu, saya cuma bisa tersenyum. Miris.
Peb Ruswono Aryan Convex Hull merupakan persoalan klasik dalam geometri komputasional. Persoalan ini saya ketahui pertama kali ketika lomba pemrograman waktu SMA. Persoalannya digambarkan secara sederhana dalam ruang dimensi dua (bidang) sebagai mencari subset dari himpunan titik pada bidang tersebut sedemikian rupa sehingga jika titik-titik tersebut dijadikan poligon maka akan membentuk poligon yang konveks. Suatu poligon dikatakan konveks jika digambarkan garis yang menghubungkan antar titik maka tidak ada garis yang memotong garis yang menjadi batas luar poligon. Definisi lain dari convex hull adalah poligon yang disusun dari subset titik sedemikian sehingga tidak ada titik dari himpunan awal yang berada di luar poligon tersebut (semua titik berada di batas luar atau di dalam area yang dilingkupi oleh poligon tersebut).

convex hull
Petunjuk untuk menyelesaikan persoalan ini adalah persamaan garis pada bidang. Persamaan garis pada bidang memisahkan bidang menjadi dua bagian yaitu area di sebelah kanan bidang (relatif terhadap orientasi garis). Sebagai contoh garis berorientasi adalah sumbu koordinat. Misalkan saja sumbu vertikal (ordinat, arah orientasi ke atas), seluruh titik di sebelah kanan garis ini memiliki nilai komponen koordinat horizontal (X) yang positif sedangkan seluruh titik di sebelah kiri garis memiliki nilai komponen koordinat horizontal negatif.
Petunjuk di atas dimanfaatkan dengan membuat definisi bahwa garis yang dibentuk oleh titik-titik poligon jika diasumsikan memiliki orientasi yang sama, maka setiap titik berada di sebelah kanan seluruh garis batas tersebut. Definisi ini kemudian dimanfaatkan untuk menentukan aksi awal yaitu memilih titik yang berada paling luar pertama. Mencari titik pertama cukup mudah yaitu cukup memilih titik yang memiliki nilai komponen koordinat (horizontal atau vertikal) yang ekstrim (minimum atau maksimum). Titik-titik convex hull lainnya ditentukan berdasarkan titik pertama tadi.
Algoritma awal yang intuitif dari deskripsi paragraf sebelumnya adalah.
Algoritma tersebut menggunakan pendekatan exhaustive (brute-force). kompleksitas algoritma tersebut mendekati O(n2). Algoritma tersebut dapat dioptimasi dengan membuat agar kumpulan titik-titik tersebut terurut secara lexicografis (urutkan dulu berdasarkan koordinat sumbu-X lalu untuk koordinat pada sumbu-X yang sama urutkan berdasarkan koordinat pada sumbu-Y). Sifat keterurutan ini kemudian dimanfaatkan sehingga pada setiap fase tiap titik hanya dikunjungi satu kali (kompleksitas linier). Adapun fase-fase yang perlu dilalui terdiri dari dua fase yaitu batas bagian atas (upper boundary) dan batas bagian bawah (lower boundary). Misal pada contoh algoritma berikut :
procedure TForm1.ConvexHull( ap: array of TPoint );
var
pi : array of integer;
hull : array of integer;
h, i, j, k, l : integer;
dx, dy, dx2, dy2 : integer;
found : boolean;
begin
{ initialize index }
setlength( pi, length( ap ) );
for i := 0 to high( pi ) do
pi[i] := i;
{ sort the index lexicographically, shown here using simple quadratic complexity sort algorithm }
for i := 0 to high( pi ) - 1 do begin
for j := i + 1 to high( pi ) do begin
if ( ap[pi[j]].X < ap[pi[i]].X ) or ( ( ap[pi[j]].X < ap[pi[i]].X ) and ( ap[pi[j]].Y > ap[pi[i]].Y ) ) then begin
k := pi[j];
pi[j] := pi[i];
pi[i] := k;
end;
end;
end;
{ build upper boundary }
setlength( hull, 2 );
hull[0] := pi[0];
hull[1] := pi[1];
h := 1;
for i := 2 to high( pi ) do begin
found := false;
for k := 1 to high( hull ) do begin
dx := ap[hull[k]].X - ap[hull[k - 1]].X;
dy := ap[hull[k]].Y - ap[hull[k - 1]].Y;
dx2 := ap[pi[i]].X - ap[hull[k]].X;
dy2 := ap[pi[i]].Y - ap[hull[k]].Y;
j := dy * dx2 - dx * dy2;
{ delete previous non-convex edge w.r.t current point }
if j > 0 then begin
hull[k] := pi[i];
setlength( hull, k + 1 );
found := true;
break;
end;
end;
{ add if current point lies on the right side of previous upper edges }
if not found then begin
setlength( hull, length( hull ) + 1 );
hull[high( hull )] := pi[i];
end;
end;
{ build lower boundary }
h := high( hull ) - 1;
for i := high( pi ) downto 0 do begin
found := false;
for k := h to high( hull ) do begin
dx := ap[hull[k]].X - ap[hull[k - 1]].X;
dy := ap[hull[k]].Y - ap[hull[k - 1]].Y;
dx2 := ap[pi[i]].X - ap[hull[k]].X;
dy2 := ap[pi[i]].Y - ap[hull[k]].Y;
j := dy * dx2 - dx * dy2;
if j > 0 then begin
hull[k] := pi[i];
setlength( hull, k + 1 );
found := true;
break;
end;
end;
if not found then begin
setlength( hull, length( hull ) + 1 );
hull[high( hull )] := pi[i];
end;
end;
{ display result }
Image1.Canvas.Pen.Color := clLime;
Image1.Canvas.MoveTo( ap[hull[0]].X, ap[hull[0]].Y );
for i := 1 to high( hull ) do
Image1.Canvas.LineTo( ap[hull[i]].X, ap[hull[i]].Y );
for i := 0 to high( hull ) do
drawpt( ap[hull[i]].X, ap[hull[i]].Y, clRed );
end;
Algoritma di atas terdiri dari tiga bagian yaitu pengurutan titik, penyusunan batas bagian atas, dan penyusunan batas bagian bawah. Pada contoh di atas kompleksitas ditentukan oleh algoritma pengurutan titik yang cenderung kuadratik (O(n2)) untuk mempermudah pemahaman, jika dibutuhkan algoritma pengurutan dapat menggunakan algoritma yang memiliki kompleksitas lebih rendah/linearitmik (O(n.log n)).

Fat'hah Noor 
Aulia Ibrahim Yeru
Dave Mangindaan Garis versus Apatis Autis Egois Sinis
garis= line
apatis autis egois sinis = apathetic, autism, egoistic, cynical
never expect that the truth would be that damn simply linear tho..
this is the chart, full of linear series that describes how apathetic, autism, egoistic, cynical something could be..
(click to toggle full screen)
well, the chart is stripped down to its minimum information.. but, an observant surely could figure out something..
ignored observer
Rorschach
[the answer is on: http://thursdae.blog.friendster.com/2009/09/garis2/ ]
Cecep Mahbub Jika Anda mengkonfigurasi autentikasi di squid menggunakan ntlm_auth, seperti contoh di bawah ini.
auth_param ntlm program /usr/bin/ntlm_auth --helper-protocol=squid-2.5-ntlmssp auth_param ntlm children 5 auth_param ntlm max_challenge_reuses 0 auth_param ntlm max_challenge_lifetime 2 minutes auth_param ntlm use_ntlm_negotiate off auth_param basic program /usr/bin/ntlm_auth --helper-protocol=squid-2.5-basic auth_param basic children 5 auth_param basic realm Squid proxy-caching web server auth_param basic credentialsttl 2 hours
Di ubuntu, jika Anda cari ada dua ntlm_auth, pertama yang dibawa oleh paket squid. Dan yang kedua yang dibawa dari paket winbind. Dan untuk konfigurasi di atas, yang digunakan adalah ntlm_auth dari paket winbind.
Dan path yang tepat untuk konfigurasi nya seperti tertulis di atas, ke /usr/bin/ntlm_auth, dan BUKAN ke /usr/lib/squid/ntlm_auth.
Eric Lontong
Anton Rifco
Sawung Kamis, 24 September 2009 | 02:42 WIB
Satryo Soemantri Brodjonegoro
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, penganggur yang sarjana telah mencapai lebih dari 600.000. Keadaan ini jauh lebih berbahaya daripada penganggur yang bukan sarjana karena dapat menimbulkan masalah sosial.
Berbagai upaya telah ditempuh guna mengatasi hal ini, tetapi tiap tahun angka pengangguran meningkat. Beberapa pihak lalu mencari kambing hitam penyebab pengangguran massal tersebut.
Tanggalkan gelar
Masyarakat kita sudah terbius dengan kehausan akan gelar. Setiap orang ingin mempunyai gelar sebanyak mungkin, ada yang melalui pendidikan, ada yang membeli gelar. Seolah seseorang menjadi tidak berharga jika tidak mempunyai gelar. Hanya masyarakat miskin yang tidak mempunyai gelar karena tidak mampu membayar pendidikan dan tidak mampu membeli gelar.
Perguruan tinggi menangkap gejala ini dengan menyediakan berbagai layanan untuk mendapatkan gelar, baik melalui pendidikan sebenarnya maupun seadanya, bahkan dengan menjual gelar. Perguruan tinggi membutuhkan uang, sedangkan masyarakat yang mampu akan rela membayar untuk mendapatkan gelar. Maka, terjadilah perpaduan yang menyesatkan.
Mudahnya memperoleh gelar membuat masyarakat berduyun- duyun ”lulus” dari perguruan tinggi dengan menyandang gelar tanpa dibarengi keahlian atau kompetensi. Ketika mencari peluang kerja, mereka tidak memenuhi syarat sehingga terjadilah penganggur bergelar. Seharusnya mereka segera menanggalkan gelarnya karena tidak bermanfaat sama sekali.
Penjenjangan
Perusahaan swasta dan industri menerapkan pola rekrutmen pegawai berdasarkan kemampuan/kompetensi, tidak semata- mata berdasarkan gelar. Para calon pegawai ketat diseleksi secara ketat melalui uji kemampuan/kompetensi disesuaikan jenis pekerjaan yang akan ditangani.
Adapun untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), seleksi hanya dilakukan terhadap gelar yang dimiliki calon pegawai, tanpa ada uji kemampuan/kompetensi. Karena sebagian besar masyarakat masih amat ingin menjadi PNS, mereka semua memburu gelar dengan berbagai cara, termasuk dengan memalsukan ijazah.
Penjenjangan karier di PNS juga hanya memerhatikan masa kerja dan gelar. Bagi mereka yang sudah bergelar S-2 atau magister akan dapat dipromosi ke golongan lebih tinggi, bahkan bagi mereka yang sudah bergelar S-3 atau doktor dapat dipromosi ke golongan tertinggi. Badan Kepegawaian Negara dan Kantor Menneg PAN menganggap para penyandang gelar itu mempunyai kemampuan memadai. Padahal, kenyataannya mereka hanya memburu gelar melalui berbagai cara, termasuk cara tidak wajar, yaitu membeli gelar atau mengikuti kelas jauh, kelas eksekutif, kelas Sabtu-Minggu, kelas paralel, kelas ekstensi, dan berbagai macam nama lain.
Lengkap sudah kekalutan yang ada di Indonesia ini tentang gelar. Masyarakat amat terbius dengan gelar, pendidikan hanya sebatas formalitas untuk memberi gelar para ”lulusan” dan sistem kepegawaian kita terjebak gelar.
Berikan contoh
Bagaimana mengatasi hal ini? Mudah sekali. Mulai hari ini kita semua menanggalkan semua gelar yang tercantum di kartu nama, papan nama, foto, surat menyurat, undangan, panggilan pada acara resmi, dan lainnya.
Mulai hari ini kita semua hanya menggunakan nama masing- masing yang sudah diberikan oleh orangtua sebagai suatu amanah. Nama sudah amat membanggakan seandainya kita memiliki keahlian, sedangkan gelar sama sekali tidak memberi nilai tambah terhadap keahlian. Jika semua orang tidak menggunakan gelar, termasuk para pemimpin, masyarakat akan menjadi lebih realistis dan tidak lagi terbius oleh gelar.
Mudah-mudahan, setelah itu mereka semua mencari keahlian dan perguruan tinggi akan memberi keahlian kepada lulusan, dan akhirnya penganggur bergelar akan berubah menjadi pekerja ataupun pemberdaya yang andal.
Satryo Soemantri Brodjonegoro Guru Besar Toyohashi University of Technology; Mantan Dirjen Dikti
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/24/02422099/penganggur.bergelar
ps: tulisan pak satrio ini sangat menarik sekali. pemikiran mantan pejabat dikti yang bergelut dengan persoalan gelar-gelaran. solusi yg simple dan tampaknya sulit diwujudkan dalam iklim negeri ini yang masih memuja gelar. btw usul ini tampaknya perlu diajukan kepada pejabat yg suka mencantumkan gelar dalam setiap UU yang disahkan, di era pemerintahan sekarang baru terjadi :P.
Solusi yang mirip bisa diterapkan terhadap kebijakan Ujian nasional, beberapa akhli pendidikan sudah mengusulkan ini. Memperbaiki mental dan fasilitas sekolah dulu baru dikasih ujian nasional.
Fajar Fathurrahman Sewaktu lebaran kemarin saya dan keluarga mengunjungi keluarga besar kami di derah Parung, Bogor. Kelurga besar saya merupakan keluarga besar betawi yang bisa dibilang masih asli. Saya menjadi cengar – cengir sendiri sewaktu berkumpul kemudian mendengar obrolan, logat, kelakar – kelakar serta lawakan – lawakan orang Betawi. Sesuatu yang jarang saya jumpai kecuali ketika menonton film Almarhum Benyamin S.
Sungguh ironis memang, orang Betawi yang aslinya berasal dari Jakarta secara turun temurun harus tersingkir hingga di pinggiran Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tanggerang, Condet, Citayem dll. Kalau mau mundur sejenak, dahulu sebelum tahun 50-an keluarga besar saya berdomisili di daerah Senayan Jakarta. Menurut cerita dari tetangga saya yang asli betawi, dahulu di daerah Senayan merupakan kampung Betawi, dimana banyak orang Betawi yang tinggal di daerah tersebut, ada beberapa yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Di daerah tersebut dibagi menjadi 3 bagian yaitu daerah Senayan, Petunduan, dan Bendungan, dimana ketiga kampung tersebut dipisahkan oleh sebuah jalan saja. Kemudian arus pembangunan bergerak sangat cepat, di daerah senayan tersebut akan dibangun lapangan Istora Senayan (sekarang Gelora Bung Karno). Oleh karena itu daerah tersebut terpaksa digusur, untuk orang Senayan dan Petunduan digusur ke daerah Tebet Barat (tempat tinggal saya sekarang) dan Tebet Timur. Hingga sekarang masih bisa dijumpai di daerah Tebet barat dan Tebet timur orang betawi gusuran Senayan. Namun apa boleh dikata, arus urbanisasi semakin deras sehingga memaksa orang betawi tersebut untuk menyingkir dari tanah kelahirannya. Satu persatu tetangga yang saya kenal betawi asli mulai menjual tanahnya kepada orang luar dan memilih untuk pindah ke pinggiran Jakarta.
Tidak bisa dipungkiri memang kalau orang betawi itu terkenal dengan juragan tanah, mempunyai banyak tanah di Jakarta ini. Bukan bermaksud sombong, keluarga besar saya mempunyai tanah yang luas di daerah Tebet (bekas gusuran Senayan), namun hingga hari ini satu persatu tanah tersebut dijual, kemudian saudara saya mulai pindah ke daerah Parung Bogor. Keluarga saya mempunyai Pesantren di daerah Parung tersebut, saudara – saudara saya mempunyai pendapat lebih bak tanah di Jakarta dijual dan kemudian dana hasil penjualan tanah tersebut dapat dialokasikan ke pesantren. Kalau menurut saya alasan tersebut masih bisa masuk di akal, namun bagaimana dengan alasan orang betawi yang lain, yang rela menjual tanahnya kepada etnis lain dan berpindah ke daerah Depok, Citayem, Condet dll.
Yah, kasihan juga orang Betawi, juragan tanah yang tidak mempunyai kampung halaman lagi.
Photo Credit : **
Posted in Life, Others, Social Tagged: Betawi, Ondel - Ondel
Aulia Ibrahim Yeru
Rendy Maulana Masih ingat film Killwithme.com? 88% dari pengunjung situs tersebut nyaris tidak memiliki moral meskipun telah diperingatkan bahwa jika mengunjungi situs tersebut maka anda akan menyakiti orang lain.
Rasa penasaran akan kejadian tersebut membuat pengunjung semakin banyak berdatangan, hanya sekedar ingin tahu apa yang akan terjadi jika ia membuka website tersebut, apakah benar ada orang lain yang disakiti?
Ternyata hal ini juga terjadi di Twitter. Tersebutlah sebuah nama, Joko Anwar, saya tidak kenal siapa orang ini, namun efek viral yang saya temui di twitter menunjukkan bahwa account twitter dia banyak sekali dibicarakan orang dalam waktu kurang dari 1 jam. Dan membuat Circle K & PIM menjadi sebuah trending topics di Twitter.
Setelah ditelusuri, hal tersebut dikarenakan account @JokoAnwar tersebut melontarkan sebuah joke yang cukup renyah yang sekaligus menantang orang-orang untuk memfollow twitter tersebut.
If I got my 3000th follower today, I'll go into a Circle K naked.
Ok, akibatnya adalah, Joko mendapatkan banjiran follower yang amat banyak dalam kurun waktu 1-2 jam, dan mendapatkan lebih dari 4300 follower (22/09/09/ 15:40 WIB – UTC+7).
Fenomena ini masih terkait dengan banyaknya orang yang memforward pesan tersebut kedalam twitter mereka dan dilihat oleh teman-teman mereka, serta diforward kembali, efek viral yang amat luar biasa bukan, terlebih twitter saat ini sedang maraknya digandrungi oleh pengguna internet selain facebook.
Bahkan dari sana terbuatlah rumor bahwa orang tersebut akan melakukan hal yang lebih gila lagi seperti di PIM, atau di Carrefour. Luar biasa memang efek twitter, dan juga (mungkin) orang orang yang sudah bosan dengan hal-hal yang biasa, anda mau coba?
addthis_url = 'http%3A%2F%2Fwww.rendymaulana.com%2Farchives%2F2009%2F09%2F22%2Ffenomena-joko-anwar-di-twitter-killwithme-com%2F'; addthis_title = 'Fenomena+Joko+Anwar+di+Twitter+%26%23038%3B+Killwithme.com'; addthis_pub = '';
Ardhi Adhary Arbain
Ardhi Adhary Arbain
Dimas Muhammad Zakki TukangKomentar adalah aggregat blog. Penghuninya berasal dari satu forum yang sama. Sebuah forum yang hanya bisa diakses dari network 167.205.0.0/16 saja.