Perpanjangan SIM

August 31st, 2009 by Anggriawan Sugianto


Weekend kemarin, ketika saya pulang ke Cimahi, saya menyempatkan diri untuk memperpanjang SIM C saya yang bulan depan akan habis masa berlakunya. Untuk keperluan ini, saya mengurus semuanya sendiri, ditemani ibu saya, tanpa menggunakan bantuan calo / biro jasa. Dan ternyata, mengurus perpanjangan SIM sendiri secara legal itu tidak susah lho, asalkan kita rajin-rajin bertanya dengan orang-orang di sana. Total biaya yang saya keluarkan untuk perpanjangan SIM tersebut adalah Rp. 80.000 (sepertinya berlaku untuk semua jenis SIM), dan semua urusan beres dalam waktu kira-kira 1,5 jam (ini pada hari Sabtu, mungkin lebih cepat lagi kalau di hari kerja dan datang lebih pagi lagi).

Adapun prosedur perpanjangan SIM yang saya lakukan di Samsat (Sistem Administrasi Manunggal di bawah Satu Atap) Cimahi sebagai berikut: (hal ini mungkin berlaku sama untuk semua kantor Samsat)
  1. Siapkan 2 buah fotokopi KTP dan SIM, serta bawalah bolpoin
    Kalau Anda tidak sempat memfotokopi keduanya, biasanya di kantor Samsat ada jasa fotokopi. Tenang saja, tarifnya normal kok :-). Lalu, sebaiknya Anda membawa bolpoin. Kalau lupa, ya Anda bisa membantu penjual bolpoin di sana untuk melariskan dagangannya :). Oya, KTP dan SIM asli jangan lupa dibawa.
  2. Datang pagi-pagi ke kantor Samsat
    Semakin pagi tentunya semakin sepi antrian orang-orang yang akan mengurus-urus sesuatu di kantor polisi. Ada baiknya tidak lebih pagi dari jam 8 :). Dan kalau Anda datang di hari Sabtu, pastikan Anda tidak datang setelah jam 10, karena biasanya loket Pelayanan SIM hanya buka setengah hari pada hari itu.
  3. Rajin-rajin bertanya
    Di Kantor Samsat Cimahi, papan petunjuk prosedur perpanjangan SIM tidak dapat ditemukan dengan mudah, tidak seperti papan petunjuk pembuatan paspor di kantor Imigrasi Bandung, yang jelas-jelas dipajang di depan gedung sebelum pintu masuk utama. Karena itu, jangan sungkan untuk bertanya ke petugas (saya pilih yang tampangnya ramah, hehe.. :). Pertanyaan yang umum diajukan yakni bagaimana cara memperpanjang SIM, saya harus kemana dulu, setelah itu kemana, dan tempatnya di mana.
  4. Pencatatan sidik jari
    Ternyata, prosedur pertama mengurus perpanjangan SIM di Samsat Cimahi adalah melakukan pencatatan sidik jari. Kita bisa membeli form sidik jari seharga Rp. 5000 di loket pelayanan sidik jari. Di situ ada beberapa kolom data diri yang harus diisi, lalu kita harus mencapkan sidik semua jari tangan kita. Tentunya, Anda tidak usah repot-repot menyertakan cap jari kaki :).
  5. Cek kesehatan
    Setelah cap sidik jari, prosedur berikutnya adalah melakukan cek kesehatan. Pada cek kesehatan ini, hal-hal yang diperiksa hanyalah tinggi badan, tekanan darah, dan tes buta warna. Di klinik ini sebenarnya ada poster alat test mata juga, tapi sepertinya itu cuma pajangan (mungkin karena melihat saya tidak memakai kacamata ya, jadi dianggapnya bermata normal). Biaya untuk cek kesehatan ini adalah Rp. 15.000.
  6. Pendaftaran perpanjangan SIM
    Setelah cek kesehatan, kita beranjak ke kantor Pelayanan SIM. Kebetulan kalau di Samsat Cimahi, tempat pengambilan sidik jari, cek kesehatan, dan kantor pelayanan SIM ini gedung berbeda-beda. Jadi, harus jalan-jalan sebentar. Di dalam kantor pelayanan SIM, biasanya ada banyak loket, carilah loket pendaftaran perpanjangan SIM. Di situ, kita serahkan hasil cek medis, lembar kedua form sidik jari, serta fotokopi KTP dan SIM. Nanti kita akan diberikan sebuah map berisi form perpanjangan SIM dan diminta untuk melakukan pembayaran.
  7. Pembayaran
    Pembayaran administrasi perpanjangan SIM ini dilakukan di Bank BRI yang kebetulan ada di dalam kantor itu juga. Biaya perpanjangan SIM adalah Rp. 60.000 (untuk semua jenis SIM). Sedangkan, biaya membuat SIM baru adalah Rp. 75.000.
  8. Entri data ke komputer
    Setelah melakukan pembayaran dan mengisi form perpanjangan SIM, bawalah map beserta segala isinya tersebut ke loket yang lain, yang mengurusi entri data ke komputer. Untuk mencari loket ini harus bertanya-tanya ke orang yang ada di situ karena biasanya ruangan di dalam kantor itu dipenuhi orang-orang yang sedang mengurus SIM juga.
  9. Pengambilan foto dan sidik jari (lagi?)
    Selesai data kita dientri ke sistem basis data kepolisian, saatnya kita masuk ruang foto untuk difoto dan diambil sidik jari. Foto dan sidik jari ini digunakan untuk dicetak pada kartu SIM kita. Menurut saya, pengambilan sidik jari ini sebenarnya redundant karena toh sebelumnya sudah cap sidik jari (secara manual). Oya, sebelum difoto kita akan diminta mengisi pesan-kesan tentang pelayanan mengurus SIM yang baru saja kita lakukan.
  10. SIM baru pun jadi
    Tidak perlu menunggu waktu lama, kartu SIM kita yang baru pun selesai dicetak. Selamat memandangi wajah ganteng/cantik Anda yang lagi nyengir saat difoto :D.
Saya cukup puas dengan pelayanan perpanjangan SIM kemarin. Saran saya buat petugas, tingkatkan profesionalitas sehingga benar-benar bebas dari praktik kecurangan (kalau masih ada). Untuk SOP administrasi SIM ini sebenarnya bisa lebih ditingkatkan lagi, misalnya: penggunaan komputer untuk scan semua sidik jari sehingga mempercepat antrian dan mengurangi adanya pengulangan prosedur, pengadaan papan informasi pembuatan/perpanjangan SIM yang mudah dilihat warga, dll. Semoga pelayanannya semakin hari semakin baik :).

Penutup, ada tulisan yang menarik yang saya baca di salah satu tembok di Samsat Cimahi kemarin, kalau tidak salah, tulisannya seperti ini: "Kejahatan akan tumbuh jika orang-orang baik tidak bertindak."

Rockets, realism, rights…

August 30th, 2009 by Arya Antaputra

AT4, peluncur roket andalan NATO

AT4, peluncur roket andalan NATO saat ini

Mungkin karena kebanyakan main game kaya Grand Theft Auto IV atau Killzone 2, kalau melihat sesuatu yang bikin gua kesel, salah satu fantasi gua adalah meluncurkan roket ke sesuatu itu (waha, kalau Jack Thompson ketemu gua pasti gua dianggap “korban simulator pembunuhan”). Di sini gua cantumin beberapa hal yang perlu diroket.

  • Angkot yang ngetem lebih dari 5 menit. WUUSH… BLAR! 5 menit aja sebenarnya udah kelamaan. Seringkali ini disebabkan oleh…
  • … kenek yg suka nahan-nahan si supir angkot kalau ada orang lewat, padahal si supir angkot udah mau jalan, dan orang lewat itu belum tentu mau naik angkotnya, kadang-kadang justru karena angkotnya ngetem. WUSSSH… BLAR! Yang kaya gini cocoknya pakai hulu ledak napalm biar gosong.
  • Motor yang pake knalpot racing, ngebut, nyelip-nyelip, terus kalau nabrak mobil pasti nyalahin mobilnya walaupun seringan dia sendiri yang salah. Selain bikin jalan jadi nggak aman, yang paling nyebelin adalah BERISIKNYA ITU. Pingin liat berapa lama dia bisa menghindar dari kejaran roket atau rudal pencari panas kaya rudal TOW (Tube-launched, Optically tracked, Wire-guided), wahahahahaha… WUSSSH… BLAR! Kalau naik motornya rame-rame sama gengnya, ini juga enak pakai napalm.

RPG-7, peluncur roket dari Uni Soviet

RPG-7, peluncur roket dari Uni Soviet

  • Mall atau pusat perbelanjaan yang menjamur dan terlalu dekat sama mall lain di Bandung. Contoh yang paling gampang itu yang lagi dibangun di Balubur. Argh, udah ngerusak pemandangan, ganti rugi bermasalah, terlalu dekat sama Pasar Balubur lagi. Mumpung gedungnya belum jadi, lebih gampang buat ngebidik fondasi-fondasinya. WUSSH… BLAR!
  • Mobil yang hobi main klakson terus nyalip-nyalip juga nyebelin. WUSSH… BLAR!

BTW judul post ini diambil dari pakem industri game AS, menurut seorang praktisi di sana. Rockets = banyak ledakannya, realism = serealistik mungkin, rights = dapatkan lisensi dari film, novel, dll. biar pembeli mudah merasa familiar. Menurut dia juga, pakem industri game Jepang itu fun, fantasy (cerita yang fantastis dan mendalam), freedom (desainer bebas berkreasi, membuat game yang aneh-aneh pun boleh).

Firefox Punya Rasa Malu

August 26th, 2009 by Irvan Tambunan
Tidak hanya manusia yang memiliki rasa malu, software pun punya. Contohnya adalah Firefox. Dari gambar di bawah ini, Firefox mengaku kalau dia malu karena tidak bisa menampilkan kembali jendela dan tab yang sudah saya buka. Masalah ini muncul ketika komputer saya dalam keadaan stand-by sehingga muncul halaman autentikasi di Windows. Karena saya terburu-buru, komputer [...]

Cara Ngajak Nonton Yang Keren

August 26th, 2009 by Petra Novandi Barus

Well, kalo sebelumnya gw sempet nulis tentang cara kenalan yang lucu kali ini ngepost tentang cara ngajak nonton yang keren. Well kali ini bukan pengalaman pribadi sih emang, tapi ngambil dari xkcd.


Sumpah keren abis

Cerita di Bulan Puasa

August 26th, 2009 by Petra Novandi Barus

Untuk negara yang mayoritasnya penganut agama Islam, tentunya bulan puasa mendatangkan perbedaan yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal ini juga memberikan pengaruh terhadap penganut agama lain. Dan perubahan ini berlangsung sangat lama, 29 hari. Well, ada hal ihwal yang pengen gw tulis di jurnal ini.

  • Susahnya nyari sarapan di pagi hari. Bulan puasa gini jalan di pasar simpang Dago tuh yang biasanya penuh dengan tukang-tukang makanan, sekarang jadi kosong melompong. Dan gw harus berjalan cukup jauh untuk mencari sarapan.
  • Susahnya nyari makan siang. Kantin-kantin di ITB sudah jelas tutup. Sedangkan kantin-kantin yang buka hanya di sekitaran Taman Sari dari Gelap Nyawang. Dan itupun langsung penuh sesak dengan orang-orang yang tidak menjalankan ibadah puasa (terutama non muslim). Gak jarang gw harus mampir ke warung-warung satu per satu buat ngeliat apa tempatnya penuh atau enggak.
  • Mudah dan enaknya nyari makan malam. Makanan-makanan yang jarang ditemui dijual di sekitar pasar simpang Dago tiba-tiba jadi ada. Mulai dari es cincau, es campur, es shanghai, es kelapa… dan makanan-makanan lainnya yang sarat 2 karakteristik : <strong>dingin</strong> dan <strong>manis</strong>.
  • Macet! Sumpah, itu jalan Juanda yang sore-sore biasanya gak terlalu macet, kok tiba-tiba jadi macet. Bayangin, naik Caringin-SadangSerang dari ITB ke Dago bisa memakan waktu setengah jam.
  • Gampang laper dan lemes. Entah kenapa gw yang gak ikutan puasa kok jadinya lebih laper dari biasanya yah
  • Iseng-iseng ikutan berburu ta’jil gratis. Kalo udah sore-sore biasanya suka ada yang bagi-bagi cemilan gratis. Ada beberapa teman yang suka ngajak-ngajak nongkrong di dekat tempat-tempat tersebut hanya buat iseng berburu cemilan. Hahaha.
  • Kalo pagi-pagi buta kosan jadi rame. Pada sahur semua. Jadi kadang-kadang malah ikutan terbangun.
  • Susahnya ngatur jadwal kehadiran buka puasa. Entah kenapa gw sering dapat undangan buka puasa. Dan biasanya jadwalnya suka bentrok. Gak bisa membelah diri neh. ^___^

Apa lagi yah….

Tesis – First Contact

August 25th, 2009 by Peb Ruswono Aryan

Hari pertama kuliah if 6099 (tesis), ada sedikit pencerahan dibanding kuliah metode penelitian semester lalu. Khususnya pada definisi mendasar ‘informatika’ dan ‘algoritma’ selain cakupan dan batasan dari tugas akhir sarjana dengan tesis magister.

Dari sepuluh orang yang hadir hari ini, ternyata ketika diminta menuliskan definisi ‘informatika’ bisa didapat 10 definisi yang berbeda. Kalau cara anak sma atau mahasiswa sarjana mungkin mudah saja ‘mencontek’ dari definisi yang sudah dipublikasi dan diduplikasi di ranah internet, tetapi bagi mahasiswa pasca sarjana pendefinisian informatika sebagai ‘lahan garapan’ tentu mencerminkan visi dan akumulasi pengalaman historis.

Beberapa definisi yang sempat terbahas di kelas ternyata tidak lepas dari istilah ‘komputer’. Adapun komentar yang muncul adalah, kalau komputer itu merupakan bagian dari esensi mendasar informatika mengapa istilah ‘informatika’ tidak mengandung suku kata dari ‘komputer’?

Kemudian dilontarkan lagi pertanyaan mengenai kata kunci atau akar kata dari istilah ‘informatika’. Kebanyakan jawaban adalah hanya satu kata yaitu ‘informasi’ yang menyulut komentar berikutnya yaitu “jika memang hanya informasi, mengapa namanya tidak departemen informasi saja?”. Ada salah satu jawaban yang menyebut bahwa kata ‘informatika’ bisa disusun dari dua kata yaitu ‘infor’ yang berasal dari informasi dan ‘matika’ yang berasal dari…

..
otomatika (catatan: bukan matematika).

Definisi yang saya tulis sebagai jawaban pertanyaan waktu itu yang tersingkat dalam benak saya adalah “bidang ilmu yang mengkaji otomatisasi pengolahan informasi”. Jawaban terpendek yang sudah mencakup objek (informasi), predikat (pengolahan), dan kata sifat (otomatis). Walaupun masih meleset karena ternyata kerekayasaan juga masuk dalam kajian informatika. ha ha ha.

Jadi kata kunci hari itu adalah otomatis yang didefinisikan sebagai “perubahan keadaan tanpa campur tangan manusia (saat eksekusi/dijalankan)”. Kualitas ‘otomatisasi’ dijadikan sebagai ukuran keberhasilan terhadap aktivitas yang diotomatiskan (yang secara mendasar di dalam informatika kita kenal sebagai algoritma).

Lalu mengenai perbedaan antara cakupan tugas akhir sarjana dengan tesis magister dideskripsikan sebagai sebuah analogi membuat jembatan untuk menyeberang. Suatu tugas akhir sarjana hanya mensyaratkan mahasiswa agar ‘berhasil menyeberang’ atau ’sampai di seberang’. Adapun pertanggung jawaban yang dibutuhkan adalah ceritera pengalaman ketika menyeberang serta keputusan-keputusan yang diambil selama perjalanan. Sedangkan pada tesis magister, ada tambahan pertanggung jawaban selain prasyarat bahwa harus sudah bisa menyeberang/sampai di seberang yaitu nilai tambah (atau nilai kompetitif) dari jembatan yang dibuat. Nilai kompetitif inilah yang perlu dicari/digali melalui proses yang bernama penelitian. Memang tidak jarang ada tugas akhir sarjana yang memiliki kualitas seperti tesis magister jika kondisinya mendukung, namun jika tesis magister hanya memiliki kualitas seperti tugas akhir sarjana tentu menjadi hal yang menyedihkan.

DjokSan naik mimbar di Salman

August 24th, 2009 by T Rusmansjah
Marhaban Ya Ramadhan. Dengan posting ini saya memohon maaf lahir dan bathin kepada seluruh nyawa yang pernah saya sakiti. Semoga di bulan suci ini kita dapat mengkatrol lebih ibadah. Hari ini adalah hari ke 3 shaum ramadhan. Hari pertamakalinya saya sahur karena 2 hari belakangan saya absen. Masjid Salman ITB pun menjadi pilihan utama saya bersama [...]

Diet #4 - Halfway

August 23rd, 2009 by Ardhi Adhary Arbain
Dua minggu yang kacau …. mungkin itu tema tulisanku kali ini. Dimulai sejak kedatangan rombongan orang Jepang itu sampai dengan beberapa saat yg lalu, sebelum berbuka puasa. Bisa dibilang pola dietku kacau balau dalam dua minggu ini. Nggak jarang aku melanggar aturan-aturan yang sudah aku buat sendiri dalam dua bulan terakhir, mulai dari makan malam, jajan [...]

Dan Sandal Jepit Pun Melayang

August 23rd, 2009 by Aulia Ibrahim Yeru
setan bukan makhluk bergarpu yang merah
dan bermata kilat tajam
ia hadir di aliran darah
dengan berbagai wajah
menutup dan membalikkan daya hidup
dengan nafsu

SETAN ALAS!MODAR SIA!
(auliaibrahimyeru,23agustus2009)

Ciwaringin

August 22nd, 2009 by Sawung



Periode kedua akan makin panas. Ada yang sudah berjanji tidak akan memotong pesantren. Ribuan bisa diturunkan dalam sekejap. Apa susahnya sih menggeser sedikit saja dari pemukiman.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

Linux FTP Connection Tracking

August 20th, 2009 by Cecep Mahbub

Untuk versi sebelum 2.6.20, load module berikut,

ip_nat_ftp
ip_conntrack_ftp 

Dan untuk versi 2.6.20 dan selanjutnya, modulenya ganti menjadi,

nf_nat_ftp
nf_conntrack_ftp

Jika pakai shorewall, tinggal baca petunjuknya di dokumentasi, Shorewall and FTP.

Marhaban Ya Ramadhan

August 20th, 2009 by Fajar Fathurrahman

Tengku Tengah Zaharah Mosque

Tengku Tengah Zaharah Mosque

Marhaban Ya Ramadhan, Selamat datang bulan Ramadhan. Bulan dimana Allah SWT melimpahkan semua ampunan, hidayah dan rahmatnya kepada kita semua yang beriman lagi bertaqwa. Semoga kita semua tidak menyia – nyiakan tibanya bulan ini, dan berharap kita masih dapat bertemu bulan Ramadhan berikutnya, amin, amin ya rabbal alamin.

Photo Credit : **

Posted in Life, Religi Tagged: Ramadhan

Kriya Kontemporer??

August 20th, 2009 by Aulia Ibrahim Yeru
"Kontemporer" jika didefinisikan secara harfiah maka artinya adalah "kekinian" atau "gejala kekinian". Bahkan ada yang menyama artikan dengan "modern", dimana arti "modern" sendiri tidak jauh dari "sesuatu yang berhubungan dengan kekinian (present)". Dengan kata lain, kriya kontemporer adalah "kriya kini".

Jadi, tentu untuk menerawang kriya kontemporer, kita harus melihat lebih jauh gejala-gejalanya. Tetapi sampai sini, kita mesti awas terhadap istilah kontemporer itu sendiri. Dengan definisi praktis kontemporer adalah "kekinian", sampai manakah batasan kontemporer? Pada akhirnya, kita bertemu dengan batasan waktu. Kekinian bisa kita sebut dua jam , satu hari , satu tahun, dua tahun, bahkan sepuluh tahun belakangan. Jika batas akhir dari kontemporer itu tidak terbatas, maka perlu ditandai garis tegas batas awal dari kontemporer.

Menoleh sejarah seni rupa, penandaan seni rupa kontemporer dimulai dari era 60-70an sampai sekarang. Dilanjutkan dengan asumsi bahwa kriya adalah sama dengan "crafts", maka kisah mengenai kriya kontemporer dapat kita mulai dengan sejarah gerakan "Art and Crafts" yang diprakarsai oleh William Morris dan John Ruskin. Namun, apakah sejarah kriya dimulai dari "Arts and Crafts"? Bagaimana dengan ikat tenun, ukir kayu, atau keris?

Kalau begitu asumsi yang dibangun bahwa kriya sama dengan "crafts" perlu dipertanyakan, walaupun hasil akhirnya menunjukkan pertemuan, namun aspek-aspek yang mendirikannya adalah berbeda. Jika kita tinjau kebelakang, memang terdapat beberapa pihak yang berusaha mendefinisikan "kriya" itu sendiri. Namun, beberapa karakteristik yang ada dalam rumusan tersebut juga ada dalam karakteristik seni rupa dan desain.

Pada akhirnya kita harus meninjau hasil-hasil karya yang berkenaan dengan istilah ini. Kita mesti meninjau pameran-pameran sebagai ajang untuk melihat sejauh mana dan bagaimana kriya saat ini. Namun, pameran yang mengidentifikasi dirinya sebagai pameran kriya sekarang kebanyakan pameran "trade fair". Sejauh ini jarang pameran kriya yang dilaksanakan di tempat yang representatif dengan kurasi dan display, sehingga masyarakat belum bisa mengapresiasi karya secara cermat.

Jika dilihat secara berjarak, tidak sedikit produk desain atau karya seni yang bertalian dengan beberapa tipe karya yang sering diasosiasikan dengan bidang kriya itu sendiri, seperti tatah kulit, jewellry, ataupun batik. Maka arah cipta kriya sendiri agaknya harus dikembalikan berdasarkan tendensi dari si pembuatnya, apakah dia hendak membuat produk sebuah desain, kriya hias, atau karya seni. Dalam hal ini, kriya disepakati bertumpu pada suatu kekhasan yaitu craftmanship atau keseriusan dan ketepatan dalam mengolah medium. Dengan kondisi ini, kita tidak perlu meributkan lagi pengkategorian karya apakah kriya atau tidak, namun kita mesti melihat dari kacamata yang benar. Misalnya, dalam melihat karya keramik Albert Yonathan atau karya bordir Erik Pauhrizi tentu kita sudah tidak lagi membicarakan kriya atau seni, karena sudah jelas pembuat bermaksud membuat karya seni, namun tentu tidak ada yang mengesampingkan kekentalan orientasi kekriyaan dalam karyanya.

Agaknya memang kriya menjadi suatu istilah yang licin, begitu pula kontemporer. Perkawinan kedua istilah itu mengundang pertanyaan besar, lantaran begitu samarnya batasan-batasan istilah tersebut. Hal ini dapat dipandang sebagai hal yang mengkhawatirkan, namun disamping itu ternyata kesamaran ini menyimpan banyak potensi dengan arah yang berbeda-beda dan dapat dikembangkan, apakah nantinya orientasi kekaryaan itu lebih ke benda hias, karya seni, atau desain yang fungsional. Tentu perguruan tinggi sebagai penghasil lulusan-lulusan harus bersiap dengan luasnya spektrum dari kriya ini sendiri.

shocked

August 19th, 2009 by Dave Mangindaan

eaaaaaa ga bakal balik deh.. (
kenapa juga lab meeting musti bertepatan saat mo pamitan argh… T_T

well, telpon tadi bikin campur aduk, seneng, nyesel, kaget, bingung, linglung haha… ah well

btw ttg telpon, besok nelpon ga ya… argh, udah 9 tahun….

The Maeda Mystery (Part 1- The Background)

August 18th, 2009 by metallurgistguy
Rear Admiral Maeda, picture taken in 1940s (from national archives of Singapore)

If we talk about Indonesian independence proclamation on 17th of August 1945, there is one foreigner who is often mentioned even tough he only described as a supporting actor. The figure was no other than Rear Admiral Tadashi Maeda.


Who was Real Admiral Maeda?

Maeda was born on 3rd of March 1898 in Kajikimachi in Kagoshima Province. He enrolled the Marine College for three years and became navigation specialist. After that, he began his career in Japanese Navy on various tasks including aide-de-camp to high rank admirals, Naval Attache in Holland and collecting Dutch millitary secrets during Kobayashi mission in October 1940 at Jakarta. After Pacific War was declared, he initially worked as deputy chief of the European section of the Naval General staff. Interestingly, his brother, Admiral Minoru Maeda was the chief of the section. In August 1942, he was appointed as Navy liaison officer to the Japanese 16th Army, stationed in Java.

The mystery or controversy involving Maeda started after the so-called Premier Koiso Promise in October 1944. The promise mentioned that Indonesia would be given independence "in the very near future". Following that, Japanese army occupation government in Java and Sumatra started relaxing their control over the Indonesian nationalist leaders and their movement. During that period, Maeda assisted by his staffs Tomegoro Yoshizumi and Shigetada Nishijima founded the Asrama Indonesia Merdeka (AIM). Regarding his intention, Maeda told Bennedict Anderson (Professor of International Studies and Director of the Modern Indonesia Project at Cornell University, New York) in an interview on 8th April 1962

The Asrama was set up after Koiso Declaration, which was very disappointing, since there was no follow-up. I felt very strongly that Indonesia would need capable leaders of the younger generation. I invited almost all the top Indonesian leaders to lecture there on whatever they liked. Even Sjahrir appeared-of course not collaborating with us! The first group of candidates (about thirty people) graduated in April 1945; a second, larger group about eighty strong, begin training in May, but their training had to be stopped halfway through due to the surrender

Maeda idea of establishing this kind of school was opposed by the Japanese Army. However they were unable to closed it, mostly due to tradition of respect and non intervention between Japanese army and navy. On the other hand, some Indonesian (especially Sjahrir) was suspicious to Maeda intention. As to test Maeda words that he could teach anything at AIM, Sjahrir tried making open propaganda for Indonesian independence and went as far as attacking the policy of Japanese army administration in Java and Sumatra. Nevertheless, no action was taken against him by Maeda and his staffs or even by the Japanese army. Moreover, it was reported that Maeda repeatedly intervene with the infamous kenpeitai (millitary police) on behalf of Indonesians suspected of subversive activities.

Prior to the proclamation independence, Maeda became the first Japanese who was contacted by Sukarno, Hatta and Ahmad Subardjo to confirm the Japan unconditional surrender. Later on, as written in many school historical textbook, he lent his house on the eve of the declaration of independence as a place to draft the text for the declaration and also as place for protection due to unfriendly attitude showed by army millitary administration who prefer status quo prior to the Allies arrival in Indonesia.

Rear Admiral Maeda`s Official Resident at Imam Bonjol street No 1 (Nowadays, It becomes a museum)

At this stage, perhaps some of us can guess the meaning of "Maeda Mystery" . Yup, the mystery is about the motives that lead a high ranked japanese millitary officer could do so much to help a foreign country toward independence. Was it done based on sincere humanitarian ideas or there was something behind it?

The answers are going to be discussed in part 2-The Three Theories :D

(To be continued)

Jadwal imsakiyah.

August 18th, 2009 by Sawung

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

The Full Sukarno`s Speech of The Declaration of Independence

August 17th, 2009 by metallurgistguy

Time has been passing by very quickly since 17th of August 1945. Now it has been 64 years since the declaration of independence was proclaimed. Speaking about the declaration of independence, some of us maybe puzzled with the simplicity of the proclamation text. Especially recalling that Sukarno was known as great orator. Hence, in my opinion, it is not too much for us to expect a more "heroic declaration", isn`t it?

Actually Sukarno did say something before and after reading the proclamation text. The full text of the speech wasn`t published widely due to some unclear reasons. According to the famous Indonesianist from Cornell University, George McKahin, it was done to prevent harsh respond from the Japanese army and the military police/kenpentai who had nearly zero tolerance for any assertive Indonesian nationalism. The full text of the speech was obtained by Kahin from Haji Agus Salim, The minister of foreign affairs, in 1948 along with its English translation. Unfortunately in his publication, Kahin only quoted the English translation only. Nevertheless, the English translation is quite sufficient if we want to know at large about the Soekarno`s speech.

Here is the English translation of the speech

Brothers and Sisters All!

I have asked you to be in attendance here in order to witness an event in our history of the utmost importance.

For decades we, the People of Indonesia, have struggled for the freedom of our country—even for hundreds of years!

There have been waves in our actions to win independence which rose, and there have been those that fell, but our spirit still was set in the direction of our ideals.

Also during the Japanese period our efforts to achieve national independence never ceased. In this Japanese period it merely appeared that we leant upon them. But fundamentally, we still continued to build up our own powers, we still believed in our own strengths.

Now has come the moment when truly we take the fate of our actions and the fate of our country into our own hands. Only a nation bold enough to take its fate into its own hands will be able to stand in strength.

Therefore last night we had deliberations with prominent Indonesians from all over Indonesia. That deliberative gathering was unanimously of the opinion that NOW has come the time to declare our independence.

Brothers and Sisters:

Herewith we declare the solidarity of that determination.

Listen to our proclamation:

PROCLAMATION
WE THE PEOPLE OF INDONESIA HEREBY DECLARE THE INDEPENDENCE OF
INDONESIA. MATTERS WHICH CONCERN THE TRANSFER OF POWER AND
OTHER THINGS WILL BE EXECUTED BY CAREFUL MEANS AND IN THE
SHORTEST POSSIBLE TIME.
DJAKARTA, 17 AUGUST 1945
IN THE NAME OF THE PEOPLE OF INDONESIA
SUKARNO—HATTA

So it is, Brothers and Sisters!

We are now already free!

There is not another single tie binding our country and our people!

As from this moment we build our state. A free state, the State of the Republic of Indonesia—evermore and eternally independent. Allah willing, God blesses and makes safe this independence of ours!

Merdeka !! ^_^


Reference
Kahin, G. 2000. Sukarno Proclamation of The Indonesian Independence. Indonesia: volume 69. South East Asia Program Publication. Cornell University

Dirgahayu Indonesia

August 17th, 2009 by Petra Novandi Barus

Selamat hari Kemerdekaan Indonesia.

A nice celebration from Google

-petra yg masih belum merdeka dari T* -

Mungkinkah…

August 17th, 2009 by Arya Antaputra

… dalam mimpi orang yang sedang koma, terdapat jawaban atas segala pertanyaan di alam semesta? Tapi langsung hilang begitu dia bangun…

(baru baca tentang kasus euthanasia)

Kehandalan Seorang Engineer

August 16th, 2009 by Irvan Tambunan
Menjadi engineer itu sebuah pilihan. Engineer merupakan salah satu dari sekian banyak profesi di dunia ini. Akan tetapi, mengapa engineer? Ada 2 jawaban untuk menjawab pertanyaan ini. Untuk jawaban klise adalah karena sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni. Untuk jawaban prestige adalah karena engineer merupakan passion. Dalam tulisan ini, saya akan membahas sehandal apakah anda sebagai [...]

« Previous Entries