Ilalang
Zamzam
Zamzam
Leksa Dalam banyak komunitas di dunia maya, Detik sering dipelesetkan sebagai media yang “basbang”, yang juga berarti “Basi Banget”.
Tetapi tidak begitu menurut Artalyta alias Ayin, si tersangka dalam kasus penyuapan Kejaksaan Agung itu. Dalam sidang hari ini, dengan gaya menjawabnya yang berbelit-belit, ternyata Detik harus berterima kasih ke Artalyta.
“OK. Dari pembicaraan itu, Anda sepertinya tahu persis perkembangan kasus BLBI II. Anda tahu dari mana?” kata Andi (Hakim Andi bachtiar -red).
“Itu ada di detikcom, yang Mulia,” kata Artalyta.
Hebat! Bermodal membaca Detik saja, Ayin bisa tahu seluk beluk kasus BLBI II sedalam itu. Selamat buat Detik. Sekaligus selamat bekerja mengumpulkan arsip berita BLBI untuk di crosscheck dengan rekaman Ayin.
Tapi jika merujuk logical fallacy, sebenarnya pernyataan itu juga tidak menjawab pertanyaan Andi. Pintar sekali wanita satu ini berkelit-kelit dalam menjawab pertanyaan hakim.
Sepertinya Arya harus traktir saya untuk kemajuan Detik satu ini.
Petra Novandi Barus Macam judul TA aja ini…..
Ide bagus sih, entah udah ada yang bikin atau belom, soalnya melihat kenyataan di lapangan sepertinya bener-bener perlu sih….. Kali-kali aja gara-ada ada ini bisa jadi tambah bagus pelayanan operator telepon yang ada selama ini.
Dari hasil pengamatan selama ini selama kerja praktek di Indosat, mesin-mesin yang dipakai di sini selalu menggenerate log data hasil pemrosesan panggilan baik mulai dari SLI, SLJJ, dan lain-lain. Hanya saja, setelah baca-baca manual-manual mesin tersebut, dari manufaktur mesin-mesin tersebut tidak menyertakan aplikasi yang sifatnya mempelajari log data yang sudah digenerate, hanya menyertakan aplikasi yang sifatnya monitoring dan controling. Yah, strategi bisnis keknya ![]()
Data entriernya baru kelar gw bikin (tinggal testing sih, sayang dokumen untuk softwarenya masih belom diketik sama sekali
dan itu juga untuk mesin-mesin tertentu), sample datanya tinggal comot, poin-poin bab I nya udah ada, metodenya dah kepikiran.
Meski data pada mesin yang gw tangani saat ini scopenya masih terbatas dalam suatu hal tertentu dan hal-hal tertentu tersebut sifatnya masih jauh daripada bidang finansial karena domain persoalannya masih sifatnya teknis, sih. Tapi dari log-log tersebut banyak sekali hal-hal baik yang bisa didapat oleh perusahaan kalau bisa diambil trendnya.
Sayang, kegedean buat dikerjain sendirian….. Udah gitu biayanya mahal banget lagi (untuk ukuran mahasiswa) buat bikin sistemnya….
Datanya udah skala ratusan ribu per menit… itu pun untuk satu mesin…. Ntahpapa, orang Indonesia keknya demen banget nelpon….
Buat mroses segitu mah butuh server yg sangat besar dan juga sistem untuk mengumpulkan data-data tersebut yang tersebar dari seluruh Indonesia. Wew, gak ada duit buat TA kek gitu….
Kalo ngajuin proposal ke perusahaan operator kira-kira dibayarin gak ya…. ![]()
Yvan Christian
Petra Novandi Barus Dapet imel dari mentor mengenai bahan kerjaan. Ngeliat footer dari emailnya, itu.
*****
“This message is intended only for recipients who are authorized to receive it.
It contains confidential and/ or legally priveleged information belong to PT INDOSAT Tbk (”INDOSAT”, therefore the authorized recipients shall protect this confidential information disclosed pursuant to provisions of Indosat’s policy.
If you are not a valid recipient of this message, please delete it from your system and/ or destroy all of the tangible material produced from the information herein together with all copies or reproductions thereof and notify the sender immediately.
Please also be notified that any disclosure, copying, distribution or taking any action based on the contents of this message is strictly prohibited and may be unlawful”.
*****
Wew serem abis, lah.
Keren lah keren. ![]()
Rendy Maulana Sesuai dengan judul, sebetulnya saya berat menuliskan hal ini, tetapi apa boleh buat, karena saya suka dengan Starbucks, maka saya menuliskan kisah ini, demi kebaikan Starbucks Indonesia.
Pagi ini, (29/6/08) ada acara bebersih Bandung dari Batagor.net yang mengambil starting point di Starbucks BIP, dengan pemikiran bahwa di acara bebersih Bandung silam, Starbucks Bandung juga turut berpartisipasi dalam acara bebersih Bandung ini.
Ketika acara telah dimulai dan blogger sedang mengitari BIP memungut sampah, saya dan beberapa orang teman dari Jogja yang baru saja sampai di Bandung, duduk di teras depan Starbucks BIP sambil menunggu blogger yang sedang memungut sampah sampai satu putaran BIP, lalu akan beranjak ke Taman Balai Kota Bandung.
Saya sambil sarapan hot dog dari Hypermart saat itu, karena waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, ketika selesai sarapan, tiba tiba ada seorang pria dengan kulit hitam dan rambut yang agak cepak datang ke kami, pria tersebut menggunakan seragam dari Starbucks, sambil menghisap rokok pria tersebut menghardik kami.
“Kamu Kamu ngapain pada duduk disini? Ini tempat saya, Kalau ngga beli apa-apa disini, jangan duduk duduk, ini Buat pelanggan saja!” Sahut Pria Jelek tersebut kearah kami ber empat.
Teman saya menjawab, “Kami dari Batagor.net sedang ada acara bebersih Bandung jilid 5, sedang menunggu blogger lain, baru beranjak ke Balai kota”
“Ya tapi ini tempat saya, kamu ga boleh duduk disini kalo ga beli apa apa, disini khusus pelanggan saja, kamu bisa baca ini tulisan ini kan” dengan nada teriakan yang kasar pria yang diketahui bernama Nanda tersebut menghardik kearah saya, dan ketiga teman saya yang sedang duduk disana.
Akhirnya saya bilang, “Ok, nanti kamu tunggu saja teman saya, yang akan menjelaskan sedang apa kami disini” Sambil saya menyelesaikan kunyahan makanan yang belum selesai semua.
Memang kami belum memesan, karena sejak pagi tadi memang Starbucks belum buka, dan ketika orang tersebut datang Starbucks BIP memang baru buka, padahal tadi niatan saya ketika starbucks BIP buka, dan setelah selesai sarapan, saya ingin memesan caramel machiato yang biasa saya pesan di Starbucks Ciwalk.
Tak lama kemudian, Aki Herry datang, dan menjelaskan duduk perkaranya, seorang teman saya yang lain bilang, padahal mereka berdua saling kenal, tetapi tetap saja pria yang mengaku manager Starbucks BIP tersebut yang bernama Nanda tetap menghardik Aki Herry, yang akhirnya kami mengalah dengan meminta Jaka memesan sebuah minuman.
Ternyata Starbucks memiliki budaya yang jelek, apabila tidak membeli maka akan diusir dengan kasar, atau tidak digubris sama sekali bukan ditawari membeli minuman dengan ramah, contoh sederhananya adalah ketika mereka (Aki Herry dan Jaka) meminta nomor telepon seorang staff Starbucks BIP, tidak dilayani dan tidak ditegur, karena tidak membeli.
Ah Budaya Kapitalis yang amat tidak baik, pulangkan saja Starbucks ke negeri asalnya, dan Untuk Starbucks Indonesia, saya harap untuk memilih store manager, harap menseleksi orang dengan lebih ketat lagi, tidak baik untuk menghardik calon pembeli, saya penggemar starbucks, terus terang kecewa berat terhadap tindakan manager starbucks BIP yang bernama Nanda itu, yang tentunya menghancurkan bayangan yang ada dalam benak saya terhadap nyamannya pelayanan Starbucks, dan keunikan sistem Starbucks yang menjadikan karyawannya sebagai mitra.
Tentu saja setelah Jaka memesan sebuah minuman, saya meminta kepada Jaka, Aki Herry dan teman teman agar segera meninggalkan Starbucks BIP dengan nada agak keras “Ayo kita jangan lama-lama disini, tempatnya ga enak, pelayanannya ga sopan, managernya kasar, lain kali ga usah kesini lagi!”
Dan tentunya saya tidak jadi memesan caramel machiato yang tadi saya idamkan, buat apa beli di Starbucks BIP? nanti dimaki maki lagi? bahkan setelah memaki maki tidak sama sekali meminta maaf. Kalau pesan dimanja-manja, kalau minuman sudah habis diusir-usir sambil dimaki? tentu saja saya malu sekali terhadap kedua tamu dari Jogja tersebut, dimana keramahan orang Bandung? Kok bisa orang seperti itu jadi Store Manager Starbucks BIP?
Prasetyo Andy Wicaksono Bukan, ini bukan salah satu serial iklan merk rokok yang apalah itu merknya gw ga apal dan gw ga perlu tau. Well, kali ini gw mau cerita, gw punya sebuah obsesi yang makin kesini makin menggebu-gebu, hehe.. Entah mengapa makin ke sini gw pengen iseng-iseng jadi photojournalist, ya ato jadi fotografer.
Foto sendiri menurut gw [hasil pengamatan dan ngubek2 di beberapa artikel, forum, dan sebagainya] punya beberapa point, atau bisa dibilang punya beberapa unsur yang membangun sebuah foto. Ada komposisi, tonal warna, pencahayaan, teknik pengambilan, momen, cerita dari foto, olah digital, dan lain2. Nah, biasanya gw dominan menilai foto-foto dari segi momen dan cerita [bisa berarti foto2 gw (masih) mementingkan moment dan cerita ketimbang yang lainnya, ya walaupun gw tetep mau mempelajari unsur2 lainnya, termasuk ngegoreng foto PS :P]. Nah dari sini gw jadi concern sama fotografer olahraga, lalu foto2 di koran, majalah dan media lainnya. Dari sini gw kepikiran, kayaknya seru juga bisa ngerekam moment2 penting dan fotonya pun bercerita. Mau candid [obsesi gw lain adalah candid-in kelakuan polisi :P], ato mau yang bener2 liputan, gw pengen-pengen aja. Eits, ada tapinya, masih kendala di modal seorang tukang foto: kamera. Hehehe..
Kamera yg biasa gw pake lagi rusak, dan blum diperbaiki. Mau ada rencana beli kamera tapi belum terealisasi karna satu dan lain hal. Jadi ya obsesi dan salah satu hobi baru gw blum bisa tersalurkan dengan matang. Hehehe… Jadi kalo ada yg mau ngasih dslr, nikon boleh, canon jadi, gw terima dengan tangan terbuka dan hati yang lapang.. ![]()

Irvan Tambunan
Zamzam
Dari kiri ke kanan, Mr. Tan Po Goan (Menteri Negara), Mr. Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan), Agus Yaman (Badan Penghubung), Mr. Maria Ulfah (Menteri Sosial), Dr. Johannes Leimena (Menteri Kesehatan), Mr. Ali Budiardjo (Sekretaris Negara), Adnan Kapau Gani (Menteri Kemakmuran) dan Sutan Syahrir (Perdana Menteri)
Kalo sekarang gimana (Pak menteri)?

Prasetyo Andy Wicaksono Kali ini gw mau cerita [hati2 curhat colongan is included too.. :P] tentang suka duka ngurus beberapa acara ngumpul, khususnya ngurus Friday Nite Out [selanjutnya disebut FNO]. Ya sperti yg kita ketahui FNO KP-ers Jakarta juga baru 2 kali dalam waktu 3 minggu ini. Pertama tanggal 13 Juni dan kedua 27 Juni. Gw cerita kilas balik dulu yah..
FNO pertama bertempat di foodcourt senayan city. Jumlah yang dateng gw ga terlalu ngitung, tapi kalo g salah kita pake 5 meja food court, dan kisaran gw ada 25-30 orang yang dateng. Awalnya gw bingung buat nginisiasi si FNO ini gara2 gw juga mikirin meeting point yang strategis, enak, asik buat rame2an, dan ga mahal. Dari kriteria ini terpilih lah senayan city dan kemang, buat jadi kandidat tempat FNO. Setelah dipikir-pikir, hari kamis yang notabene H-1 ditetapin bahwa FNO pertama ada di foodcourt senayan city. Dengan pertimbangan senayan city lebih memenuhi kriteria yang gw sebutin sebelumnya. Kita janjian jam 1/2 7 an udah mulai ngumpul, namun ya bukan jakarta yang punya tingkat kemacetan tahap akut, yang membuat orang-orang pada telat nyampe. Gw dan iqbal yang brangkat dari bsd jam 1/2 6 pun baru nyampe venue jam 1/2 8 [well, dari bsd kita ke setiabudi dulu njemput BIers dan fany di sana, baru ke senci]. Acara dirancang cuman buat makan2 doang, sekedar makan malam bersama lalu ngobrol2 sharing pengalamannya. Nah, di sini gw agak kecewa karna kayak gw baru nyampe, taunya udah pada balik anak2nya, hehehe.. Itu juga gara2 gw telat dateng sih.. hehehe… Tapi ga apa2, gw seneng bisa ketemu teman2 yang dateng ke FNO
Ok, sejujurnya gw agak kecewa sama FNO pertama karna gw berpikir “ah, ternyata gitu2 doang, gw over ekspektasi sama FNO pertama”. Itu yang membuat gw agak males menginisiasi FNO di minggu selanjutnya, walaupun sebenernya gw mau bantu2 aja buat adain FNO, tapi ternyata ga ada yg mau ngurusin. Di samping alasan ga punya duit dan sebagainya [padahal ujung2nya tim geje nemenin tim setiabudi midnight sale hunting, lagi2 di senayan city :P], dan di minggu itu juga kerjaan gw jalan2 mulu, hehe.
Nah, pada minggu ketiga, gw mulai bersemangat lagi untuk menginisiasi FNO kedua. Kali ini gw ga mau di mall, knapa? Simpel aja alasannya: bosan. Lalu juga karna ga ada film yang bagus buat ditonton bareng dan gw rasa kalo jumat malem kita nonton film bareng2, curiga pada kecapean. Walhasil kali ini gw buat formatnya mirip2 kayak yang pertama: makan2 sambil ngobrol. Naasnya, gw kurang punya referensi tempat makan di jakarta yang memenuhi kriteria tempat FNO yang gw udah jelasin. Di sini nih dukanya, gw meminta pendapat ke anak2 via shoutbox, YM dan statusnya, broadcast YM, dll. Tapi gw tanyain juga pada ga punya pendapat, jadi lah gw bingung. Lalu untung saja datang andin dengan memberikan opsi-opsi tempat makan. Makasih ndien ![]()
Lalu dapetlah pilihan antara menteng dan kemang. Setelah dapet pilihan itu, si andin mengajukan ke:kun [gitu ga sih tulisannya? cmiiw]. Dari info di kafegaul sih tempatnya menjanjikan, namun setelah dicek di internet, ternyata harganya ga bersahabat ![]()
Walhasil kita cari tempat lainnya. Lalu andien [lagi] mengajukan Lemon Kitchen. Nah, ini gw bener2 ga tau ada tempat ginian [maklumlah, udah lama ga tinggal di jakarta jadi selain mall, gw agak2 buta tempat kongkow]. Dan ternyata lemon kitchen ada di tebet! Wah, tebet cukup strategis dan harganya juga ga mahal2 banget, dan bisa ngereserve buat 30 orang. OK, tanpa banyak babibu [lebih tepatnya gw udah kehabisan ide buat nyari tempat makan, karena gw juga lagi ngejar deadline di hari jumat yang sama], gw usulkan [secara kasar memutuskan sepihak :P] kalo FNO di lemon kitchen. Hehe.. Setelah tau tempatnya gw nanya2 ke beberapa orang yang punya mobil, bukan apa2, itu agar orang2 itu bisa membantu transportasi teman2nya. Walhasil jumat ini kita cuman ber-17 [plus 1 ponakannya andin :P]. Tapi kali ini gw lebih puas sama FNO kali ini, karena ga tau aja, ya walaupun gw membuat beberapa kesalahan [maaf..] tapi gw lebih puas aja sama FNO kedua. Dan ternyata si lemon kitchen itu seperti milik kita doang, jadi bisa bebas mo ribut juga hayu.. Hehehe…
Tapi ntah mengapa dari dulu gw sangat semangat kalo ngurusin acara ngumpul2 bareng temen2 [coba tanya aja ke ndul, kerjaan gw tiap liburan sama pas bulan puasa pasti ngajak kumpul temen2 smp :P]. Walaupun puyeng ngurusin tempat, acara, lalu transportasi dengan segala keterbatasan yang ada, tapi gw enjoy2 aja ngurusin kayak ginian. Apa gw jadi EO aja yah? Daripada coding mulu sampe puyeng?? Hahahahaha…
Jadi minggu depan kmana kita? Hehehe… Udah ah, gw mo tidur dulu.. udah 1/2 2 pagi..
NB : gw nunggu cerita2 lucu dari KP kalian loh.. ya smacam cerita ada yg dikerjain, ato yg seragaman ke kantor.. ato mungkin ada yg ngantor pake jaket himpunan? hahahahaha.. ![]()

Leksa
Hari sudah hampir berakhir. Warna langit sudah digores-gores oleh kuning dengan paduan emas dan biru gelap. Kendaraan-kendaraan diluar bus ini terlihat berlalu semakin cepat. Seperti ada yang mereka kejar di tujuan masing-masing. Kadang aku melihat ada muka lelah namun justru matanya menunjukkan sebuah semangat untuk bertemu sesuatu di ujung perjalanannya. Lain lagi jika melihat dalam perhentian lampu merah, ada wanita-wanita bermuka cerah yang memeluk mesra pengemudi motor yang memboncengnya. Harum tubuh mereka serasa bisa kucium, walaupun ada kaca tebal antara tempat ku duduk di bus mini ini dengan mereka yang saling menikmati senja diluar sana.
Senja memang selalu indah. Aku selalu menyebutnya tapal batas. Ada keindahan yang disorongkan di sana. Ada sebuah kisah hari yang akan ditutup seketika, hanya sebentar tidak lebih dari satu jam. Dan dalam hitungan itu pula ada geliat hidup-hidup lain yang justru baru akan dimulai.
Senja kali ini, aku sudah membulatkan diri memburu sang Senja lainnya. Sebenarnya senja sendiri tidak perlu diburu. Aku selalu tahu itu. Seperti ketika di kota lamaku dulu, aku bisa menikmati senja dengan angin lembut berhembus kencang di lantai delapan gedung antar universitas itu. 4-5 tahun lalu aku biasa menikmatinya sendiri. Hanya dengan alasan untuk meminjam mushala gedung itu di lantai 3, aku justru menekan tombol lift ke lantai 7. Lalu melanjutkan langkah kaki menuju lantai 8, berbelok ke lorong utara gedung itu, menuju sebuah pintu yang hanya terbuka 4-5 tahun lalu. Dan goresan senja pun terhampar sejauh mata memandang ke arah Bandung Utara.
Berbeda jika pagi atau siang hari di antara tapal batas jadwal kuliah, aku menuju titik ini bertiga atau berempat bersama teman-teman, karena menemani seorang wanita yang mencari sekepul asap rokok. Hanya untuk merokok, dia harus berjuang ke pinggiran lantai 8 gedung ini. Karena asap rokok dari bibir seorang wanita di kampus masih tabu di masa itu. Kami mengepulkan asap rokok bersama-sama, ditambah dengan cerita-cerita konyol, dengan derai tawa tertahan takut ketahuan oleh pegawai gedung. Kadang juga dipaksakan bermain kartu. Selalu ada kartu baru dibeli untuk dimainkan jika kami disini, dan kami baru berhenti ketika sudah ada kartu yang berhasil diterbangkan angin.
Kisah lama bersama si wanita perokok tadi begitu saja teringat setelah dua hari lalu seorang wanita (lainnya) sekantor dengannya menghampiriku di Jogja, berlibur membunuh penat dari perusahaan asing tempatnya bekerja di Kalimantan. Dia mengoceh “Gile temen lu itu… Tiap gw mau ke pasar, selalu nitip.. Riiiin, Marlboro Menthol 1 Selop, eh.. ga ding dua yak,.. dua selop..!!… Gelok siah..!!” . Aku cuma menyambut cerita puasnya itu dengan tawa membahana di cafe pelataran benteng. Rupanya merk rokoknya masih sama saja, dan candunya semakin parah ternyata.
Bus mini ini masih berjalan diantara lampu halogen yang mulai menyala satu persatu. Senja semakin mendekati batasnya, tujuan ku pun sudah hampir tiba. Malam sebentar lagi turun. Tetapi siapa yang bisa membandingkan syahdunya senja dan malam? Sejauh yang aku tahu, senja memang lebih syahdu.
Berbeda dengan malam yang sering membelah hening dengan tawa, dengan teriakan kalut, dengan makian, dengan erangan dan lebih sering lagi dengan dentuman suara musik dan bas. Senja hanya memiliki suara azan. Anak-anak memilih untuk pulang ke rumah-rumah mereka setelah lelah bermain dan berjanji lagi bertemu kalau purnama muncul malam nanti. Ibu-ibu mengambil jemuran di pagar-pagar rumah mengakhiri gosip sore mereka diantara tetangga. Bapak-bapak baru saja memasukkan kendaraan ke garasi dan teras mereka, bersiap-siap menuju mushala terdekat. Anak-anak muda menyelesaikan seruputan terakhir kopi di warung-warung mereka, bersiap mengatur rencana untuk bersembunyi dimana sebelum malamnya mulai lagi dengan petualangan liar mereka. Itulah senja yang tersisa dari memori ku di kota tsunami ujung barat sana. Selalu lebih syahdu daripada malam-malam ku di kota-kota lainnya.
Bus berhenti, aku turun dan memilih berjalan ke dalam lorong-lorong yang mulai gelap berdinding tembok putih bertuliskan “Dilarang mencoret tembok disini”. Sebuah pesan anti vandlism terhadap dinding-dinding tua kraton. Berbeda dengan dinding-dinding beton di bawah tol, atau di setiap kelokan di pinggir kampung kaum marginal kota-kota besar. Pesan seperti itu bisa saja bersanding dengan coretan kekuasaan di sebelahnya. Seperti anjing yang kencing memarkir batas kekuasaan. Tembok putih disini, warna putihnya sang beton hampir sama dengan luhurnya kultur yang menusuk sampai ke tengkuk belakang ku. Walau gelap semakin gelap, putihnya seperti menjadi lampu jalan-jalan gelap disini. Membantu mata ku untuk tetap awas mencari di mana Senja itu berada. Sesaat aku teringat pesan Sapardi dalam puisi “Pada Suatu Malam”,
Sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua
Waktu hari hampir lengkap, menunggu senja
Putih, kita pun putih memandangnya setia
Sampai habis semua senja
Hanya bedanya, saat ini aku berada di Yogya. Bukan di Solo seperti cerita Sapardi dalam puisi itu. Tapi apalah bedanya. Karena toh senja sama saja di semua penghujung dunia.
Tepat di sebuah pinggiran jalan yang bersih, depan warung makan yang terang, Senja itu kokoh berdiri. Tuanya masih menyiratkan kegagahan kisah-kisah lama. Seperti senja matahari yang entah berapa kali telah menyaksikan berbagai wajah manusia sejak bumi diciptakan. Gelapnya hanya ditemani lampu temaram, tetapi cukup memberikan sebuah Senja yang teduh, senja yang gagah. Teras dengan hamparan luas disertai meja-meja lesehan berlampu temaram, tikar lusuh yang bersih, dan seorang bapak tua yang sedang memebereskan meja-meja, seperti berkata “ayo singgah dan beristirahatlah..”
–0o0–
Dua porsi teh poci, sepiring nasi gulai kambing, dan kisah-kisah dari bapak tua di Warung Senja itu masih tersisa dalam langkah-langkah ku menuju jalanan Malioboro. Hanya bedanya, senja sudah selesai sejak kepulan terakhir dari kretek ku di warung tadi. Kini malam yang biasa sudah hadir. Sebuah derai tawa lain sedang menunggu di nol kilometer Jogja.
Malioboro, kiri kanan ramai oleh wisatawan lokal. Seperti senja, Juni dan Juli adalah juga tapal batas untuk mereka yang bersekolah. Liburan bisa berarti hadiah kenaikan kelas, bisa juga berarti membantai lelah dari penat ujian-ujian semester kuliah. Untuk Yogyakarta, Juni Juli bisa juga menjadi awal dari sebuah hidup baru anak-anak manusia yang memilih kota ini menjadi tempat mengejar mimpi. Di saat yang sama pula, pancaroba membawa udara dingin di setiap malam Jogja.
Juni Juli di Jogja, bagi ku menjadi sebuah Sekaten Postmodern baru dengan festival kesenian, diramaikan wisatawan yang memburu souvenir murah dalam lilitan susahnya ekonomi negeri, dipenuhi wajah-wajah baru membaca mimpi 4-5 tahun kedepan, hingga udara dingin yang membuat sepasang kekasih di nol kilometer Jogja dengan terbuka saling menempelkan pipi-pipi mereka.
Pacar senja sangat pendiam : ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap, Malu dilihat lanskap”
(Pacar Senja - Joko Pinurbo 2003, hal 1)
Dave Mangindaan /findfriends.php?expand=pymk&ref=hpbi383036804
1. kenapa juga dia musti nongol setelah sekian lama dan dgn asumsi (yang sepertinya akurat) bhw pasti dia ogah FS/FB (dan ternyata fakta bicara lain -_-)??
pgn (banget) gw add, tapi malesbangetdotkom gini yah…
liFe, yesssss right, you are facing new life
as just graduated 3 days ago..
gw sebel ngomong ini, ILU.
2. kenapa juga dia musti nongol setelah kemarin gw akhirnya merasakan kembali perasaan ini? arghhhhhhhh
CYCU, 20080726, 8th CMT, poster session,
“Controlling cell spatial arrangement by micro-patterned layer-by-layer polyelectrolyte multilayer film”
terima kasih untuk bu Transport Phenomena (LOL) yang memperkenalkannya ![]()
arghhhhh
Dave Mangindaan
Cecep Mahbub Hari ini gw melakukan upgrade wordpress dari versi 2.0.5 ke versi 2.6 beta (ya, masih beta). Upgrade dengan lompatan cukup jauh. Tapi semuanya berjalan dengan lancar, proses upgrade hanya 2 kali klik saja.
Yang jadi masalah ketika update template/tema. Karena ini menyangkut desain dan tata letak di blog ini, banyak yang harus di perbaiki. Selain itu, sekarang pengelompokan tulisan berdasarkan kategori diaktifkan lagi. Setelah dipikir-pikir, kategori itu bisa menghemat banyak dalam proses navigasi ke tulisan yang dituju.
Daftar Antrian:
Muhammad Arif Wicaksana
Muhammad Arif Wicaksana
Petra Novandi Barus
Hamlet*, the Great Programming Prince of Denmark **, once said
To code, or not to code, that is the Question
Wheter ’tis Coder in his mind to suffer
The Classes and Objects of outragious Programs,
or to make Designs against a Sea of Requirements,
And by opposing end them : to die, to sleep
No more; and by a sleep, to say we end.
What might be the sole root of the wise words is the boredom of programming.
Along with Hamlet, The Great Programming Prince of Denmark, in the republic far far away in the middle of the equator, there lived an unworthy peasant *** who had the very deep feeling of the same root inside his heart. This feeling, in contrary of this humble peasant’s affection of the world of coding, had keep telling him to halt his workings. At the very beginning, this humble peasant had a very sorry feeling just from thinking of the halt of his workings, which had been comforting him through his very life. The two feelings then consciously fought each other in the narrow dark room inside this little peasant.
“What hath thou in thy minde, little one?“, the gods might ask for the rumble inside his heart could cause a huge disturbance to peace of the heavens
“‘Tis the boredom, O’Thy Mightiness“, said the peasant himself.
He had many things he had wanted to do yet nothing he wanted to. Either to code or to doc, neither would satisfy him. Making a paradox out of him, doing code would be boring him to death. Doing documentation would be torturing him no less. So he make out a resolution for the gods.
“Grant Thou Thy Power unto Thine unworthy servant for this unworthiness hath none to release himself from the captivity of this boredom. Shall I die from this boredom, grant Thou Thy Kindness let me die in peace
So doeth he die, said the gods one to the other.
So does he die.
”
Sawung
Sawung
Andi Rusiawan Belum apa-apa gosip sudah beredar luas. Di kantor, di kantor cabang X, di kantor cabang F, di kampung eheheh.. kok kyna semua sudah pada tau kalau aku akan ke N.
Terus terang sudah setahun ini aku terjun 100% di dunia profesional. Bekerja, ya bekerja. Berbeda dengan kerja paruh waktu yang sudah biasa kutekuni di bangku kuliah dulu.
Berhubung merasa sudah mencapai titik saturasi di kandang gajah, pergilah aku merantau ke Jakarta. Pada awalnya niat bekerja adalah mencari pengalaman dan pengetahuan baru. Aku haus ilmu baru, peduli amat dengan uang, begitu idealisme ku bergolak kala itu. Kuambillah sebuah pekerjaan di suatu sistem yang -kuharap- kaya dengan ilmu praktis di bidang yang aku sukai kala itu. Lambat laun, ketika mulai terasa ternyata tidak sesuai yang diharapkan ditambah ketika muncul tanggung jawab lain, menghidupi belahan hati mertua yang sekarang menjadi belahan hatiku, idealismu itu mulai bergeser. Wajar sepertinya, tujuan pokok bekerja adalah mencari penghasilan.
Sekali lagi aku dihadapkan pada kondisi yang membuat akalku berpikir sepertinya aku harus berubah haluan, tidak mungkin aku seperti ini terus. Tujuan utamaku bekerja ternyata belum tercapai dengan sepantasnya. Mungkin memang Allah, alhamdulillah, menjawab ketidaksabaranku dengan kondisi ini dengan karunia rizki (dan tetep Kurnia adalah rizki yg sangat kusyukuri
) yang lain, yang kata teman-teman adalah juga “rejekine wong nikah”, rejeki-nya orang menikah :D.
Aku diberi kesempatan untuk memuaskan idealisme pertamaku dalam coretan non-fiksi ini. Kesempatan untuk bisa lebih fokus mencari ilmu. Sebuah kesempatan yang juga sumbangan rakyat Indonesia, ya, kesempatan dan juga beban buatku. Banyak pertimbangan yang harus kubuat untuk memutuskan mengambil kesempatan ini, di sisi lain kesempatan mengejar idealismeku bisa tersalurkan namun secara bersamaan di sisi yang lain tanggung jawabku kepada keluarga intiku pastinya menjadi akan lebih berat untuk diperjuangkan.
Saat masih berkutat dengan euroforia eh euforia keingintahuanku tentang kesempatan di dunia baru bagiku tadi sekaligus ketakutan akan tanggungjawab dan beban yang harus kupikul, lagi-lagi aku dihadapkan pada kondisi yang membuatku kembali mempertanyakan idealismeku, idealisme yang selama ini menjadi salah satu dasar mengambil pilihan. Allah kembali memberi rizki sebuah kesempatan untuk bekerja profesional di tempat yang banyak diidamkan mahasiswa yang baru lulus, pekerjaan di sektor yang dianggap paling basah di negeri ini, perusahaan minyak, itu dia ! :P. Orang bilang sih yang terbesar revenue-nya, yang tentunya terbesar memberi gaji kepada karyawannya (setidaknya untuk entry level seperti aku ini hehehe.. ). Tinggal 2 tahap lagi menuju kesitu. Idealismeku bertanya, hayo km sebenarnya maunya apa ? Melanjutkan untuk mewujudkan euroforia idealisme tentang ilmu atau mengejar transferan per bulan yg 2 digit itu ? Masih terasa melayang….
Akankah idealisme itu untuk selamanya ? ataukah ada idealisme berjangka ?
Apakah idealisme menjadi tujuan hidup ? ataukah idealisme adalah teman seperjalanan menuju tujuan hidup ?
Yang jelas aku sudah mendapat pelajaran berharga tentang kesabaran dan idealisme dari setahun ini aku bekerja. Mewujudkan idealisme butuh kesabaran, namun kesabaran tidak boleh menahan kita mencari jalur yang lebih baik untuk mewujudkannya.
Bersabar dengan kondisi yang ada, jujur dan kuat atas idealisme, berjuang mencapai tujuan hidup. Terdengar normatif, tapi layak untuk diusahakan.
B-2 menuju euroforia, insya Allah.
Sementara masih 0-0 Jerman vs Turki

TukangKomentar adalah aggregat blog. Penghuninya berasal dari satu forum yang sama. Sebuah forum yang hanya bisa diakses dari network 167.205.0.0/16 saja.