Cara Cepat Untuk Terkenal

May 31st, 2008 by Prasetyo Andy Wicaksono

Semua orang ingin eksis. Dalam kata lain semua orang punya hasrat ingin jadi terkenal atau minimal banyak dikenal orang lain. Terkenal dan banyak dikenal orang lain maksudnya beda lho, mirip2 tapi kalo menurut gw terkenal itu semacam selebriti, kalo dikenal orang lain ya sekedar eksis di skala yang lebih sempit daripada terkenal.

Nah, ada banyak cara untuk jadi cepat terkenal. Ada yang ikutan talent show, ikut2 jadi figuran sinetron, ngeband, ada juga yang ikutan ini itu biar diliput orang dan jadi perhatian. Naah… Sekarang ada lagi cara yang lebih cepat dibanding cara-cara tadi yang gw sebutin di atas: Pencari Sensasi.

Sudah satu tahun ini gw melihat ada beberapa kejadian yang menurut gw bisa dimasukkan ke dalam “Mencari Sensasi”. Mulai dari skandal ini itu, lalu bermodalkan metadata dan statement-statement berani, juga bermodalkan “penemuan” hebat, dan terakhir bermodalkan “kekayaan 20x APBN”.

Gw ga tau hal ini lumrah ato nggak. Tapi di jaman sekarang yang segala makin susah dan hidup pun makin keras, orang-orang mulai mengasah otak untuk bisa tenar. Lama proses agar menjadi tenar ini pun semakin lama semakin sedikit. Sekonyong-konyong dalam satu hari jadi headline dimana-mana.

Yang hebatnya, salah satu sensasi pada saat ini, yaitu “penemuan” hebat dari Nganjuk, dapat tembus sampai istana sampai didukung Presiden. Padahal setau gw yang mengikuti perkembangan berita di segala media, belum ada penjelasan ilmiah ataupun pemaparan secara teknis, sehingga “penemuan” hebat tersebut dapat diyakini sebagai sebuah penemuan hebat. Malah UGM mengatakan bahwa “penemuan” ini adalah penipuan. Menurut gw, mungkin hal baru dan kontroversial tidak dapat diterima dengan mudah, apalagi di jaman sekarang ini. Namun “penemuan” ini harus selayaknya diuji kebenarannya, bisa melalui pemaparan yang ilmiah, jangan secara awam, sehingga para orang-orang pinter lain bisa terbukakan bahwa “penemuan” tersebut memang penemuan.

Ada lagi, tentang orang yang punya “kekayaan 20x APBN”. Setelah gw baca-baca di blog om Pri yang ngitung-ngitung tentang “kekayaan” om [yang nama belakangnya sama dengan om yang ada di video di HP itu loh :P] satu itu, agak sulit juga yah menerima bahwa ada orang yang punya kekayaan segitu banyak. Tentu hal tersebut harus dibuktikan, curiga dia tukang tipu-tipu juga. <_<

Kalo ga dibuktikan dan memang ternyata semuanya hanya bualan belaka, lama-lama bangsa ini bisa resmi jadi bangsa penipu dong? Isinya tukang tipu-tipu semua.
Mau?

KISAH DARI BALIK KANDANG

May 31st, 2008 by Erry Febrian Pratama

Sebuah Kamis siang yang terik, matahari menyengat dan tiada angin yang bertiup. Tidak ada aktivitas di kampus, baik kuliah maupun ujian, membuat saya merasa bosan. Akhirnya saya memutuskan untuk melangkah keluar, menyusuri pepohonan rindang sepanjang Jalan Ganesha menuju arah Jalan Tamansari. Sampai di ujung jalan, terlihat sebuah gerbang besar dengan papan nama bertuliskan “Kebun Binatang Bandung”. Dengan maksud sekadar mencari keteduhan dan suasana segar, saya melangkahkan kaki menuju gerbang berwarna biru tersebut. Siapa sangka, dari niat yang sederhana itu, saya justru memperoleh sebuah pengalaman unik yang tak akan terlupakan seumur hidup?

Kali terakhir saya menjejakkan kaki di tempat ini adalah sekitar 8 bulan yang lalu, bersama teman dan dua orang sepupunya yang masih bersekolah di Sekolah Dasar. Sebuah hal yang wajar mengingat selama ini, kebun binatang memang identik dengan status sebagai tempat hiburan murah meriah bagi anak-anak beserta keluarganya. Dapat dilihat pada setiap akhir pekan (hari Sabtu & Minggu) serta hari-hari libur (terutama hari lebaran), Kebun Binatang Bandung (KBB) pasti penuh sesak dengan pengunjung yang umumnya terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu, anak, sampai cucu. Selain berniat melihat-lihat koleksi hewan yang dimiliki KBB, keluarga-keluarga ini pun biasanya membawa bekal makanan untuk disantap bersama-sama di atas hamparan tikar. Ini merupakan bagian tradisi orang Sunda yang dikenal dengan istilah “botram”. Memang nikmat rasanya makan siang bersama sanak famili sembari dinaungi pepohonan yang rimbun. Tipe pengunjung lainnya yang kerap mewarnai KBB adalah rombongan study tour anak-anak sekolah, biasanya usia Sekolah Dasar dan berasal dari luar kota Bandung. Kan orang Bandung masa kini lebih memilih mengunjungi pusat perbelanjaan dibanding objek wisata alam?

Sejarah mencatat bahwa asal-muasal KBB adalah peresmian sebuah taman yang terletak di sepanjang bagian barat Huygensweg (sekarang Jl. Tamansari) sampai ke tepi timur Sungai Cikapundung pada tahun 1923. Taman ini didirikan dalam rangka memperingati Jubileum Ratu Wilhelmina dari Belanda sehingga awalnya diberi nama Jubileumpark. Rancangan awal memaksudkan Jubileumpark sebagai taman botani, taman yang menghimpun berbagai jenis  tanaman keras dan tanaman hias. Pada tahun 1933, bagian selatan Jubileumpark dijadikan kebun binatang sehingga fungsinya berubah menjadi taman kebun binatang. Perubahan fungsi yang dirancang oleh Dr. W. Treffers ini merupakan penggabungan dua kebun binatang dari Cimindi dan Dago Atas. Keduanya dianggap sudah tidak layak untuk menyimpan koleksi hewan yang semakin lama semakin banyak. Selanjutnya, kepengurusan kebun binatang ini jatuh ke beberapa tangan. Hingga akhirnya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1953, pengelolaan KBB dialihkan kepada Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) milik Ema Bratakusumah. Yayasan ini lalu diwariskan kepada anak cucu keluarga Bratakusumah, sampai saat ini.

Sebelum melewati pintu masuk KBB, saya harus membeli tiket terlebih dahulu sebesar Rp10.000. Rupanya telah terjadi kenaikan harga sebesar 2000 rupiah sejak saya terakhir berkunjung ke sini. Patokan biaya masuk yang, menurut saya, sudah tidak bisa lagi digolongkan dalam kategori murah. Apakah hilangnya label “murah” berimbas pada lenyapnya label “meriah”? Apalagi hari ini bukanlah akhir pekan dan hari libur.

Ternyata tidak.

Masuk ke area utama KBB, saya langsung disambut riuh-rendah suara anak kecil. Terlihat anak-anak berseragam olahraga warna-warni dan bertuliskan beberapa nama Sekolah Dasar berlarian ke sana kemari ditemani oleh guru-guru yang mengasuh. Ah ya, saya baru teringat bahwa pekan ini sudah merupakan masa liburan sekolah anak-anak kecil itu.

Sambil mengamati tingkah laku para pengunjung cilik yang sangat aktif tersebut dan menikmati kesejukan pohon-pohon, tak terasa saya sampai ke wahana gajah tunggang. Wahana ini sengaja disediakan oleh KBB bagi pengunjung yang ingin mencoba menaiki gajah. Seekor gajah bisa dinaiki hingga maksimal 8 orang. Cukup membayar 3000 rupiah, pengunjung anak-anak dan dewasa bisa merasakan sensasi lenggak-lenggok jalannya gajah mengitari jalur sepanjang kurang lebih 25 meter.

Di sanalah saya bertemu dengan Pak Dikdik, seseorang berseragam biru yang bertugas untuk membantu pengunjung yang akan turun dari gajah yang mereka tunggangi. Wajahnya yang ramah membuat saya tertarik untuk mengobrol dengannya.

“Saya sudah bekerja di sini sejak 20 tahun yang lalu,” ujar Pak Dikdik. Dengan umurnya yang masih 38 tahun, artinya ia telah bekerja mulai usia yang cukup belia.

“Sebenarnya tugas saya bukan di wahana gajah tunggang ini, melainkan di area hewan-hewan primata. Jabatan saya sebagai keeper (pawang) primata, terutama orang utan dan siamang. Berbagi tanggung jawab dengan 5 orang pawang lainnya yang mengurusi koleksi primata lain, seperti kera jepang, beruk, wau-wau, dan bekantan. Cuma kebetulan saja saat ini saya sedang tidak ada tugas sehingga diminta membantu di bagian gajah,” lanjut pria asal Pangalengan ini. Ceritanya berlanjut dengan menjelaskan job description hariannya sebagai seorang pawang, walau sesekali harus terputus saat si gajah tiba di tempat penurunan penumpang.

“Jam kerja saya dimulai pukul 07.00 hingga 17.00. Pagi-pagi sudah harus meninjau keadaan hewan, siapa tahu ada yang sakit. Setelah itu, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran supaya kebersihannya terjaga. Jam 08.00 memberi makan pagi, kemudian saya bebas tugas sampai sekitar pukul 15.00, saatnya makan sore. Kandang pun dibersihkan lagi sambil mengecek kondisi masing-masing hewan. Rutin seperti itu terus setiap hari,” begitu penjelasan Pak Dikdik.

Pertanyaan mengenai menu makanan primata lalu meluncur dari mulut saya. Ia menjawab bahwa pada umumnya, semua primata memiliki menu yang sama yaitu buah-buahan (terutama pisang & pepaya) dan sayur-sayuran. Selain itu, seminggu sekali mereka diberi jatah makanan ekstra di luar menu rutin. Biasanya menu ekstra ini berupa apel, jeruk, ataupun roti tawar. Dalam hati saya berpikir, alangkah beruntungnya hewan-hewan ini bisa mendapat asupan gizi yang cukup baik dan teratur. Belum tentu sang pawang bisa menikmati buah-buahan segar seperti yang mereka konsumsi setiap hari.

Kemudian Pak Dikdik menceritakan suka-dukanya selama menjadi pawang. “Pengalaman paling menarik yang pernah saya alami adalah sewaktu bertarung dengan seekor siamang di atas pohon. Waktu itu saya sedang memotong ranting pohon yang menjulur ke luar kandang. Sepertinya siamang itu merasa terganggu dengan aktivitas saya sehingga ia menyerang saya. Saya pun berusaha melawan sambil bergelantungan di atas pohon. Jelas saya yang terdesak. Untung saya menggunakan sepatu bot. Saya tendang saja siamang itu dan ia langsung melarikan diri,” ceritanya dengan antusias.

“Namun yang paling sedih adalah saat melihat hewan asuhan saya sedang sakit atau bahkan sampai mati. Kedekatan yang selama ini terjalin membuat saya merasa kehilangan. Apalagi bisa dibilang, dari merekalah saya bisa memenuhi kebutuhan anak dan istri,” lanjutnya.

Obrolan saya dengan Pak Dikdik terhenti ketika waktu menunjukkan pukul 12.30. “Waktu istirahat siang,” katanya. Sebelum ia pergi, saya sempat meminta izin untuk melihatnya memberi makan sore kepada hewan-hewan asuhannya. Sambil tersenyum, ia membolehkan dan mengundang untuk datang ke kandang orang utan pukul 15.00. Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun pergi melanjutkan jalan-jalan melihat binatang lainnya.

KBB terletak di sebuah lembah yang di bawahnya mengalir Sungai Cikapundung. Hal ini berpengaruh terhadap kontur area kebun binatang yang berundak-undak. Pada tingkat paling rendah, terdapat sebuah kolam yang digunakan sebagai wahana perahu bebek kayuh dan perahu dayung. Di bagian utara kolam, dibatasi oleh sebuah jalan setapak, ada kolam lain tempat berkubangnya dua ekor kuda nil. Di dekatnya, saya melihat seseorang berseragam biru – sama seperti yang dikenakan Pak Dikdik – sedang membersihkan lahan sekitar kolam. Saya mendekatinya dan meminta izin untuk berbincang-bincang.

Sosok pria yang tampak cukup tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Dedi Rahmat. Ia bertugas sebagai pawang buaya dan kuda nil. Deskripsi tugasnya kurang lebih sama saja dengan Pak Dikdik.

“Tapi saya juga punya tugas menguras kolam kuda nil ini seminggu sekali,” tambahnya. Saya cukup kaget mendengarnya karena melihat ukuran kolam yang tidak bisa dibilang kecil, ia harus membersihkannya seorang diri.

Pria yang berdomisili di Cileunyi ini kemudian menceritakan mengenai hewan-hewan yang menjadi tanggung jawabnya. Terdapat 8 ekor buaya muara, 2 ekor buaya irian, 1 ekor kuda nil biasa, dan 1 ekor kuda nil kerdil. Semua hewan ini berasal dari sumbangan pihak luar, terutama buaya yang dihibahkan oleh pemilik perorangan. Rupanya di Bandung pun ada beberapa orang yang memelihara buaya di pekarangan rumahnya, antara lain di daerah Buahbatu dan Soekarno-Hatta.

Tidak takut digigit buaya, Pak?

“Saya sudah sejak tahun 1979 bekerja di KBB dan menjadi pawang buaya dari tahun 1982. Dalam 1 – 2 minggu pertama sih memang masih takut, tapi lama-lama jadi biasa. Saya belajar menangani buaya dengan membaca buku dan bertanya kepada orang-orang yang sudah lebih berpengalaman. Selain itu, saya juga pernah ikut studi banding ke kebun binatang lainnya khusus mempelajari trik-trik menghadapi buaya,” jawabnya.

Ketika disinggung mengenai menu makanan hewan, Pak Dedi menjelaskan bahwa untuk kuda nil, menunya sayur-mayur dan buah-buahan – mirip dengan menu primata. Lain halnya dengan buaya. Sajian untuk mereka ialah satu ekor bebek hidup bagi masing-masing buaya.

“Bebek itu langsung dilemparkan hidup-hidup ke kandang buaya. Nanti buayanya akan mengejar si bebek sampai dapat, jadi buaya juga diajarkan harus berusaha demi mendapat mangsa. Proses buaya mulai makan bebek sampai mencernanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Makanya jadwal pemberian makan untuk buaya juga 10 hari sekali,” tambahnya.

Bapak dari 5 orang anak ini menceritakan pula pengalaman yang ia rasa paling menarik selama bekerja di KBB. Salah satunya adalah saat memindahkan buaya dari satu kandang ke kandang barunya. Teknik yang ia gunakan yaitu dengan membungkam mulut buaya dengan jerat serta menutup seluruh kepalanya dengan karung.

“Tapi yang paling lucu ialah waktu ada pengunjung yang protes kepada saya, menuduh buaya-buaya yang ada di kandang cuma patung. Soalnya kan buaya memang punya kegemaran berdiam diri lama sekali sambil berjemur. Pengunjung tersebut merasa setiap ia datang ke KBB, buaya yang ia lihat sama sekali tidak pernah bergerak dan posisinya tidak pernah berubah. Padahal memang hobinya buaya kayak gitu,” ujarnya sambil terbahak-bahak.

Terakhir, pawang berusia 43 tahun ini melengkapi, “Saya juga punya tugas tambahan sebagai serep (cadangan) pawang ular. Kalau pawangnya lagi libur, saya menggantikan dia. Begitu juga sebaliknya.”

Kasus pawang cadangan ini mirip dengan Pak Dikdik yang membantu di bagian gajah. Mungkin mereka tidak merasa terpaksa dalam mengerjakannya, tapi saya merasa ini adalah sebuah bentuk kurangnya profesionalisme dalam pembagian tugas oleh manajemen KBB. Semestinya seorang pawang cukup memfokuskan diri kepada hewan yang menjadi tanggung jawabnya, tidak perlu memecah konsentrasi dengan menjadi cadangan pawang hewan lain. Namun mungkin saja ini adalah akibat dari kekurangan personel.

Setelah puas memperoleh informasi dari Pak Dedi, saya meneruskan perjalanan dengan kembali ke tingkatan atas KBB. Melihat-lihat berbagai koleksi unggas, seperti burung kakatua, merak, kutilang, ayam bekisar, dan sebagainya, yang berada di kandang-kandang khusus yang lebih lapang. Kondisi ini memberi ruang yang cukup bagi berbagai spesies burung untuk beterbangan bebas ke segala penjuru.

Usai rehat sejenak sambil menunaikan salat zuhur di musala, saya melangkah ke arah barisan kandang hewan-hewan yang dijuluki “raja hutan”. Ya, KBB menyimpan pula koleksi karnivora buas seperti harimau sumatera, harimau putih, macan kumbang, dan singa. Saat saya melihat dari dekat, hewan-hewan ini sepertinya sedang beristirahat karena semuanya sedang berbaring di lantai kandang. Tidak tampak keberingasan layaknya raja hutan.

Penasaran akan kondisi mereka, saya pun mencari pawangnya untuk meminta informasi lebih lanjut. Setelah bertanya sana-sini, saya lalu menemukan sang pawang bernama Asep Saepudin sedang ikut serta dalam sebuah penggalian yang sepertinya untuk membuat kandang baru. Ia mengenakan kaus hijau, celana jins, dan sepatu bot yang dikotori dengan tanah. Sangat berbeda dengan penampilan dua pawang yang sebelumnya sudah saya temui.

“Iya, ini lagi membuat kandang baru untuk komodo,” ucap Pak Asep menghampiri saya sambil mengusap peluh. Wah, kok pawang singa dan harimau malah ikut bekerja membuat kandang? Apalagi kandang komodo yang bukan merupakan tanggung jawabnya.

Saya mengutarakan maksud kedatangan untuk menanyakan informasi tentang hewan-hewan asuhannya. Ia menyambutnya dengan senang hati. “Sekalian istirahat sebentar,” katanya sambil tertawa.

Pria asli Bandung ini kemudian menjelaskan bahwa dua jam lagi, singa dan harimau itu akan diberi makan. Hidangan rutin mereka adalah daging ayam utuh sebanyak 4 ekor untuk setiap singa dan harimau. Biasanya mereka makan setiap hari tetapi karena harga daging ayam meningkat, jatah makan pun dikurangi menjadi dua hari sekali. Oo, mungkin mereka cuma berbaring saja gara-gara perutnya sudah kelaparan, pikir saya. Namun lagi-lagi saya merasa miris saat di dalam hati mencoba membandingkan menu makanan para karnivora ini dengan menu yang mungkin biasa disantap keluarga pawangnya. Apakah Pak Asep, istri, dan 4 orang anaknya juga bisa dengan leluasa melahap daging ayam?

“Saya juga bertugas untuk mengontrol kesehatan singa dan harimau-harimau ini. Kebersihan kandang harus dijaga, begitupun kebersihan hewan. Saya memandikannya dengan cara menyemprot dari luar pakai selang. Selain itu, kalau ada koleksi yang baru masuk, saya juga bertugas menjinakkannya supaya tidak membahayakan pengunjung,” tambahnya. Untungnya selama 17 tahun bekerja sebagai pawang, ia belum pernah terkena luka berat. Padahal salah satu temannya pernah diserang harimau yang sedang ganas-ganasnya sehingga harus dirawat di rumah sakit dan mendapat 79 jahitan di sekujur tubuh.

Tidak terlalu lama saya bisa bercengkrama dengan Pak Asep karena ia harus segera kembali ke tempat penggalian. Sebelum berpisah, ia mempersilakan saya untuk datang pukul 16.00 kalau ingin melihatnya memberi makan singa dan harimau. Tentu saya tidak akan melewatkan ajakan tersebut.

Sambil menunggu jadwal memberi makan orang utan yang Pak Dikdik akan lakukan, saya duduk melepas lelah di sebuah bangku panjang. Terpikir oleh saya betapa dekatnya hubungan antara pawang dan hewan asuhannya. Ketiga pawang yang saya temui selalu menyebutkan bahwa duka terdalam yang mereka rasakan ialah jika hewan asuhannya sakit dan kemudian mati, sementara sukanya jika melihat hewan yang sehat. Merawat binatang bukanlah hal yang mudah. Pawang harus memiliki kelembutan hati untuk mampu memahami perasaan hewan yang menjadi tanggung jawabnya.

Hal lain yang menarik dari ketiga pawang ini adalah kesamaan awal mula mereka menjadi pawang. Baik Pak Dikdik, Pak Dedi, maupun Pak Asep menyatakan bahwa alasan mereka bekerja di KBB adalah karena ajakan dari anggota keluarga lainnya.

“Saya diajak oleh kakak yang sudah lebih dulu bekerja di sini,” demikian kata Pak Dikdik. Sementara Pak Dedi memberitahu bahwa almarhum orang tuanya dulu bekerja di KBB sebagai penyabit rumput untuk pakan hewan. Keduanya yang berjasa memasukkan dirinya ke kebun binatang ini. Ia pun kemudian merekomendasikan dua orang adiknya untuk bekerja di tempat ini – satu orang sebagai pawang dan satu orang lagi sebagai staf kantor KBB. Begitupun Pak Asep yang menjadi pekerja di KBB berkat dorongan ayahnya yang juga pawang harimau. Pertama masuk, kerjanya masih serabutan. Baru sekitar 2 tahun setelahnya, ia dipercaya oleh sang ayah untuk membantunya menjadi pengasuh singa dan harimau.

Saat ditanya mengenai kesejahteraan mereka sebagai pawang di KBB, hanya Pak Dedi yang mengaku gajinya bisa mencukupi kehidupan keluarganya. Namun ia pun menambahkan bahwa dua orang anak tertuanya telah memiliki pekerjaan, sehingga bisa ikut membantu kebutuhan keluarga. Selain itu, posisinya sebagai salah satu pawang paling senior di KBB mungkin juga berpengaruh terhadap besaran penghasilan yang ia terima. Berkat pengabdiannya selama hampir 30 tahun ini, ia pernah menerima penghargaan berupa sejumlah uang dan piagam penghargaan.

Lain halnya dengan kedua pawang yang lebih junior dibanding Pak Dedi.

“Yah, terus terang saja, pegangan saya mah belum cukup untuk memberi makan anak istri,” tukas Pak Dikdik sambil tersenyum pahit. Ia memilih menyebut “gaji” sebagai “pegangan”. Sepertinya sebuah makna tersirat bahwa pekerjaan ini benar-benar telah menjadi sandaran hidupnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

“Istri saya terpaksa ikut membantu dengan bekerja juga di sini sebagai penjaga WC,” lanjutnya, “sementara istri-istri pegawai lainnya juga ada yang mencari tambahan penghasilan dengan cara membuka warung di dalam area KBB ini.”

Di tempat lain, Pak Asep mengeluhkan kenaikan BBM yang baru-baru ini terjadi. Lokasi rumahnya sangat jauh, di daerah Cibiru, sementara ia belum memiliki alat transportasi pribadi. Akibatnya, ia harus naik ojek dan angkutan kota setiap hari untuk pulang-pergi ke tempat kerjanya ini.

“Kalau dihitung-hitung, sekarang setiap hari bisa habis tiga puluh ribu rupiah untuk pulang-pergi,” keluhnya. Lewat perhitungan kasar, dengan asumsi hari kerja efektif setiap bulan (setelah dipotong jatah libur) sebanyak 25 hari, Pak Asep harus mengeluarkan Rp750.000 untuk ongkos transport saja. Saya memang tidak menanyakan besaran gaji pawang, tetapi saya yakin jumlahnya tidak akan jauh dari angka 1 juta rupiah. Bisa lebih, tapi bisa juga kurang dari itu. Sulit membayangkan, sisa uang 250 ribu rupiah harus digunakan untuk mencukupi kebutuhan seorang istri dan empat orang anak selama 1 bulan.

Sempat terlarut dalam perenungan, saya melihat jam dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang utan feeding time! Bergegas saya pergi ke kandang orang utan yang berbentuk semacam pulau dengan sungai buatan di sekelilingnya. Pak Dikdik dari kejauhan telah melihat saya dan melambaikan tangan. Di balik kandang, saya bertemu dengan orang utan tertua di KBB. Namanya Simon, berusia lebih dari 30 tahun. Timbul rasa ngeri melihat ukuran tubuhnya yang sangat besar dan rambutnya yang lebat, mirip gorila. Saat diberi makan, tangannya langsung meraih pepaya, pisang, jeruk, dan roti tawar (menu ekstra pekan ini). Pak Dikdik memberitahu bahwa kekuatan tangan orang utan besarnya sepuluh kali lipat kekuatan tangan manusia dewasa. Oleh karena itu, saya diingatkan supaya tidak berdiri terlalu dekat dengan kandang agar berada di luar jangkauan Simon.

Selepas menyaksikan orang utan, giliran jam makan para karnivora yang mesti saya hadiri. Sangat menarik melihat mereka dengan tak sabar menunggu di balik celah tempat daging ayam dilempar ke dalam kandang mereka. Yang saya perhatikan, cara makan harimau lebih rapi dibanding singa. Harimau menghabiskan 4 ekor ayam satu persatu, sementara singa melahapnya secara acak. Pemandangan yang unik dan baru pertama kali saya saksikan.

Setelah selesai memberi makan hewan asuhannya, Pak Asep muncul bersama anak dan istrinya. Namun yang menarik perhatian saya ialah seekor hewan yang mirip kucing tapi bertubuh besar yang turut mengiringi langkah mereka.

“Ini anak hasil perkawinan singa yang saya asuh. Usianya baru dua bulan. Namanya Marsha karena lahirnya bulan Maret hari Selasa. Sekarang sih masih jinak, nggak tahu nanti kalau sudah besar,” katanya sambil menggiringnya ke arah saya. Melihat tingkahnya yang menggemaskan bagai kucing, tak akan ada yang menyangka kalau hewan ini adalah anak singa. Bahkan anak Pak Asep yang masih kecil saja berani bermain-main dengan Marsha.

Tanpa terasa, hari telah semakin sore. Mungkin saya adalah pengunjung terakhir yang berada di dalam KBB ini. Seusai menyempatkan diri berfoto sambil memangku Marsha si anak singa, saya pun berpamitan kepada Pak Asep dan keluarganya. Sembari berjalan menuju gerbang keluar, terselip secercah rasa yang belum pernah saya rasakan selama beberapa kali kunjungan ke KBB. Sebuah kepuasan akan pengalaman yang baru saya lewati, berdialog dengan tokoh-tokoh perawat hewan ini. Beragam cerita yang mereka ungkapkan menambah wawasan saya bahwa ternyata banyak kisah menarik dari balik layar – lebih tepatnya, dari balik kandang – satu-satunya kebun binatang di kota ini.  (*)

(Feature ini dibuat untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah KU4214 Jurnalisme Sains dan Teknologi)

******

Baca di koran PR (dan katanya juga ada di Tribun Jabar) hari ini, ada berita ttg satwa baru di KBB. Trus ada foto Marsa juga… Wew, beruntunglah aku udah pernah foto duluan bareng si anak singa sebelum dipublikasikan ke media massa.

KISAH DARI BALIK KANDANG

May 31st, 2008 by Erry Febrian Pratama
Sebuah Kamis siang yang terik, matahari menyengat dan tiada angin yang bertiup. Tidak ada aktivitas di kampus, baik kuliah maupun ujian, membuat saya merasa bosan. Akhirnya saya memutuskan untuk melangkah keluar, menyusuri pepohonan rindang sepanjang Jalan Ganesha menuju arah Jalan...

Ingatan

May 31st, 2008 by Sawung
Membaca koran dan situs tentang berita penyerbuan UNAS ada nama yang seperti gw kenal. Kepala Humas Polri Abubakar Nataprawira. Setelah telusur sana-sini ketemu juga. Abu bakar adalah kapolres Jakarta Pusat ketika pristiwa 27 juli 1996 terjadi. Polisi dilapangan dibawah komando die. Ga aneh die tetap bagus kariernya karena pejabat yang terlibat masih pada ada sampai sekrang. SBY misalnya adalah Kasdam Jaya, pasukan dari yonkav yang dipakai menyerbu. Dari yonkav ini ada prajurit yang desersi ga mau ikutan nyerbu. Kepala BIN Syamsir menjabat sebagai kepala BIA waktu itu. Om Suti aka matrix menjabat sebagai pangdam waktu itu. Wah ternyata kalo di list banyak sekali pejabat lama yang ikutan kasus-kasus jaman dulu yang menjabat sekarang.

di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

Artikel IPv6

May 30th, 2008 by Fajar Fathurrahman

Alhahmdulillah, artikel saya masuk CHIP lagi (edisi bulan ke-5) , tapi kali ini saya tidak menulis tentang teknologi dari Microsoft, melainkan tentang Internet Protocol version 6. Sebenarnya sudah lama juga saya diminta oleh mas Reza Wahyudi untuk menulis tentang ini.

Sebelumnya saya juga sempat menulis untuk majalah Info Komputer tentang Microsoft Exchange Server 2007 dan Web Server IIS 7 pada edisi bulan ke-3 dan ke-4. Pada artikel ini saya kurang lebih membahas tentang pengertian dari IPv6 itu sendiri juga perbedaan atau perbandingannya dengan IPv4. Kemudian saya juga menjelaskan fitur - fitur yang ada serta contoh implementasi nyata dari IPv6 ini. Tidak perlu jauh - jauh saya mencontohkannya, saya mencontohkan jaringan ITB sebagai jaringan yang sudah enable IPv6. Berbekal ilmu yang saya dapatkan ketika masih aktif menjadi anggot SOI dan pernah ditraining oleh mas Wahyu dan mas Affan yang merupakan Senior saya, saya kurang lebih dapat menjelaskan seluk beluk serta implementasi nyata dari IPv6 di dalam sebuah jaringan yang sudah establish IPv4 terlebih dahulu (dual-stack). Yah saya rasa ITB bisa dibilang merupakan satu - satunya Institut di Indonesia yang menggunakan IPv6 bukan hanya sebagai bahan riset dan penelitian saja melainkan juga sebagai sarana pendukung produksi (harus berjalan 24/7) , sama seperti sistem operasi FreeBSD di ITB, bukan hanya sekedar oprekan semata . Mungkin lain kali saya bisa share artikel saya ini dalam format PDF ) , terima kasih.

SP USM DMM

May 30th, 2008 by Muhammad Insan Al Amin
uas berakhir. pengumuman semester pendek taun ini diperdengarkan ke saentoro kampus.  ya uda deh ikutan daptar 9 sks hevi subject like termo anum jeung mkm yg ‘belum’ dinyatakan lulus untuk sementara waktu. dan besok katanya ada usm serentak di kampus gw dan di kampus tetangga sebelah. katanya bandung bakalan macet dipenuhi anak2 dari dalam dan luar kota yg [...]

Some Good Stuff This Month

May 30th, 2008 by Herry Kurniawan
Bulan ini terlewati dengan banyak kejadian penting yang menimpaku, (hahaha....) , mulai dari hp temen yang ilang, dilema masa depan, kebosanan yang terus menerus, sampai peristiwa gatal gatal karena makan masakan laut, dan tentu saja hiruk pikuknya kenaikan harga BBM di Indonesia , bah ! Just wanna share my stuff, some good stuff this month ! Goodbye May ! Welcome June !

Water Fai - Girls In The White Dream 2008, band wanita berasal dari Jepang memainkan musik yang betul betul enerjik , yah, inilah EITS versi wanita, maybe.

Maybeshewill - Not For Want Of Trying - 2008, album yang ditunggu tunggu, setelah sukses EP nya tahun lalu. Dengan cover album yang aduhai, inilah racikan terbaik dari maybeshewill, simak The Paris Hilton Sex Tape , sangat bergejolak,hehee.

Mooncake - Lagrange Points (2008), post rock band asal rusia ini benar benar melakukan pembuktian pasca rilisnya EP , More Oxygen I Said (2007), dan sekarang pembuktian itu benar benar terjadi dengan nyaris sempurna !

The Ting Tings - We Started Nothing (2008), rilisan terbaik bulan ini untuk wilayah indie pop/dance/electronic. The Tings Tings bukan saja memainkan musik enerjik dan cerita, tapi juga sekaligus memadukannya dengan keseksian sang vokalis bahkan kebinalannya berucap. Aksen inggris nya yang kental membuat lelaki seperti saya tergoda untuk bisa melihat langsung aksi panggung mereka.

Death Cab for Cutie - Narrow Stairs (2008), album yang ditunggu tunggu sejak beberapa bulan silam. Ditandai dengan isu bocornya materi album ini ke internet yang ternyata adalah fake sampai isu april mop bulan lalu. Dan penantian itu terbayarkan dengan track sepanjang 8 menit lebih untuk single I Will Possess Your Heart , membuat DCFC menuai ganjaran pujian dari berbagai media.

Mogwai - Young Team (2008), Mogwai adalah legenda. Legenda hidup perpostrockan dunia ! tidak berlebihan jika melihat prestasi yang mereka buat. Tahun ini, Mogwai mengeluarkan double CD yang merupukan re issue album mereka sebelumnya dengan tambahan beberapa track yang di rekam secara live. Semakin tua semakin edan , itulah Mogwai.

Set The White Flags On Fire Slowly - Even If The Proletariat Takes The Power Into Its Own Hands The Spring Will Be Left For Us And The Aims Of War Will Remain The Aims Of War (2008), nama band dan judul album super panjang bulan ini ! nama sebenarnya band ini adalah Белые Флаги Зажигайте Медленно Album: Даже Если Пролетариат Возьмет Власть В Свои Руки, Весна Все Равно Достанется Нам, А Цели Войны Останутся Целями Войны (2008), sebuah band dahsyat dari Moskow Russia. Kedatangannya benar benar mengagetkan saya sebagai penikmat postrock. Begitu menderu deru dengan diselingi track singkat yang beberapa menampilkan suara orasi. Cover album yang sangat anti Amerika , sangat berani ! http://www.myspace.com/oubfzm

September Malevolence - After This Darkness, There'S A Next (2008), salah satu album terbaik dan lumayan sering saya perdengarkan, gabungan atmosfer ambient/experimental sekaligus suara vokal yang sayup sayup semakin membuat misterius band asal Swedia ini. Nice album !

The Ivy League - This Is Ivy League (2008), indie pop yang sangat ringan. Nyaman di dengar sehabis mandi sore hari, berdiri di teras rumah bersama seduhan teh hangat dan tentunya The Ivy League ! Indie pop yang ringan, itulah mereka.

OVUM - Microcosmos (2008), menakjubkan ! band ini sungguh menakjubkan ! mathrock/postrock asal Jepang yang membuat saya tercengang ketika pertama kali mendengar materi album mereka. So powerful !

Followed By Ghosts - Dear Monsters, Be Patient (2008), album fantastis ! FBG bermain sangat baik sekali dalam album ini. Saya rasa album ini bakalan bertengger di jajaran teratas untuk album terbaik tahun ini. Simak saja sendiri 7 track monster mereka dalam album ini ! siap menerkam telinga Anda !

Sigur Ros - Gobbledigook (Single, 2008), sepakat saya kira kawan kawan semua kalau bulan Mei ini ditutup dengan gemilang oleh single rilisan Sigur Ros yang dapat diunduh gratis via internet melalui situs http://www.sigurros.com/dvd3.asp, jangan berpikir macam macam dengan melihat cover album single mereka yang sangat "terbuka" itu. Dengarkan saja single mereka yang luar biasa, berusaha keluar dari trademark Sigur Ros selama ini, keluar dari pakem. Dan itu menjadi semacam pembuktian mereka ! Jonsi dkk sungguh jenius dalam album yang rencana rilisnya pertengahan bulan Juni ini. Again, don't judge their music from their cover album ! so awesome ........



--------------------------------------------------------
demikian lah album album yang bulan Mei ini nyangkut di kepala dan selalu menghiasi playlist PC saya. Disamping beberapa album lainnya yang biasa biasa saja dan tidak relevan saya review disini.
(Friday, May 30th, 2008)

Setengah Hari, Menjelang Siang…

May 30th, 2008 by Leksa

Setengah Hari, Menjelang Siang…

Matahari sudah mulai tinggi ketika saya beranjak malas menuju jalan raya, mencari angkutan umum, bus lokal Yogya yang bukan Transjogja. Tujuan saya hari ini adalah Babarsari. Kawasan Babarsari dikenal bagi pendatang baru sebagai kawasan yang notabene dekat dengan “kebebasan” mahasiswa-mahasiswi Yogya-nya. Salah satu kawasan yang memang ramai oleh kampus-kampus swasta. Tetapi saya kesana bukan untuk menikmati pemandangan kerlap kerlip mahasiswi muda di area itu. Ada tanggung jawab tersisa dengan seorang dosen, mengharuskan saya datang ke kampus Atmajaya yang berlokasi di sana.

Sayangnya tidak ada Transjogja yang melewati daerah ini. Terasa aneh untuk sebuah kawasan ramai pendidikan tidak dilengkapi halte bis berlabel “Kawasan Bebas Copet” tersebut. Terpaksa saya menggunakan alternatif lain menggunakan bus lokal saja. Dan itu pun tidak lebih baik. Tidak ada bus yang melewati jalan sepanjang kawasan Babarsari. Saya harus turun di sekitaran Flyover Janti, dan kemudian berjalan kaki menuju Atmajaya. Sial. Padahal kantor Dinas Perhubungan Kota Yogya berlokasi di jalan Babarsari ini. Aneh saja kalau mereka tidak menyadari kebutuhan strategis angkutan di ruas 2 jalur depan kantor mereka.

Walau sekian lama saya menjadi pelanggan Tejo (panggilan khas Transjogja), bukan berarti saya tidak menikmati bus-bus lokal butut yang sudah lebih dulu mewarnai Yogya. Seperti hari ini misalnya, saya bisa menikmatinya dengan cara saya. Menjadi Pemerhati Kelas Marginal Kota.

Bus berwarna kuning dengan karat di sana sini itu terasa sumuk. Tetapi bukan itu yang membuatnya sepi penumpang. Persaingan angkutan umum yang murah dan nyaman sudah mewarnai trasportasi kota Yogyakarta sejak Transjogja beroperasi di bulan Februari 2008. Apalagi ditambah dengan naiknya BBM beberapa hari lalu. Wajar kalau pengguna angkutan umum jadi berhitung, dan pengusaha transportasi kota juga mulai mengencangkan ikat pinggang armadanya.

Di dalam bus ini hanya ada saya, pak supir dan seorang nenek. Penampilan nenek itu khas sekali seperti kebanyakan warga miskin kota. Dengan kebaya hijau dan sarung lusuh, ditambah bawaannya -yang entah apa , dibalut kain selendang bermotif batik dengan bahan kelas dua. Namun saya bisa melihat sumringah di setiap lipatan kerut wajahnya.

Obrolan sederhana si nenek dan pak supir sempat terdengar oleh saya. Walau dengan penguasaan bahasa jawa yang belum sempurna, tetapi saya cukup dong dengan obrolan tersebut. Kira-kira beginilah isi percakapan tersebut,

“Pulang dari pasar, Mbah?” tanya pak Supir

“Iya. Belanja buat dapur. Tadi baru saja dapat duit dari kantor pos.” jawab si nenek.

“Ooo bantuan BBM itu.”

“Iyoo,..Sekarang semua-semuanya mahal”

“Ditabung, Mbah. Buat belanja-belanja lagi nanti. Wis,..Sak penting dicukup-cukupkan”

“Rejeki cucu saya ini. Anak itu mau daftar SMP. Alhamdulillah…”

“Bagus itu. Tak doakan jadi orang pinter, iso bantu-bantu si Mbah nanti.”

Bus berhenti. Si Mbah turun tertatih dengan ucapan terima kasih berkali-kali setelah ke pak supir menolak 2000 rupiah pemberiannya. Dua ribu rupiah yang menjadi ongkos normal yang belum kunjung naik mengikuti harga BBM.

Seketika saya jadi teringat kisah Subadra atau Dewi Rara Ireng dalam Mahabharata. Cerita wayang menggambarkan bagaimana bersedihnya beliau dalam mangu menyaksikan Arjuna sang suami pulang perang tanpa disertai sang putra satu-satunya Abimanyu. Tetapi dalam rasa yang berat itu, Rara Ireng masih menyisakan senyum, nasihat-nasihat dan energi bijak untuk cucunya. Putra Abimanyu yang kelak menjadi Pewaris 2 kerajaan Mahabharata, sang Prabu Parikesit.

“Mas, turun dimana? Saya cuma sampai kantor imigrasi.” tanya si pak supir memecah lamunan saya yang hampir pilu.

“Disini saja, pak. Kiri.” jawab saya seketika, beberapa belas meter menjelang tikungan kantor Imigrasi.

Sejumlah pecahan 500-an rupiah saya berikan.

“Mas..mas.. ini kelebihan..” panggilnya, sambil membalik badan menyodorkan saya dua keping logam 500 rupiah.

Tangan saya menerimanya dengan tanpa sadar. Mulut saya terkunci untuk mengatakan “Simpan saja, Pak”. Padahal, saya memang sekenanya saja mengambil lebih recehan 500-an rupiah dalam saku saya tadi. Karena toh ongkos perjalanan singkat ini saya anggap pas untuk sejumlah recehan tersebut.

Saya melihat teriknya sinar matahari di jumat siang ini. Asap kendaraan mengepul dari knalpot mobil-mobil berkaca gelap yang melaju. Panasnya matahari mulai menyengat setiap pori. Dan tujuan saya masih beberapa puluh meter lagi..

Sistem Administrasi Sekolah DKI Jakarta

May 30th, 2008 by Petra Novandi Barus

Pagi ini saya kembali ke almamater saya, sebuah sekolah menengah tinggi di Jakarta. Rencana ingin bertemu dengan para guru yang telah mengajar saya, ingin bercanda melepas rindu dan mengingat kembali kenangan-kenangan mengajar saya yang terkenal bandel dulu .
Akan tetapi saat saya kembali ke sana, ternyata berbeda dengan jaman saya dulu di SMA, hampir tidak ada guru yang ada di ruangan guru. Mereka semua berada di ruang MGMP.
Sesampai di ruang MGMP, nampak guru-guru dengan wajah serius berhadapan dengan komputer.

Apa yang mereka lakukan?

Ternyata mereka sedang mengentry data. Tampak serius sekali mengentry data. Tidak ada raut canda tawa di wajah mereka. Wajah guru-guru SMA yang saya kenal selama ini. Ketika saya masih menjadi alumni baru, mereka dengan senang hati menerima saya dan mengajak saya untuk bercanda tawa. Tapi sekarang tampak di wajah mereka rasa lelah untuk mengentry data tersebut.
Guru-guru saya yang dulu senang berkumpul bersama bercanda tawa ria, sekarang masing-masing menginput data. Kalau tidak saya menegur duluan, mungkin saya akan diacuhkan seolah-olah mereka hanya mementingkan data di depan mereka. Saya berjalan-jalan ke luar menunggu guru yang selesai mengajar, siapa tahu selesai mengajar ada kesempatan untuk berbincang-bincang. Akan tetapi beberapa guru yang saya sapa langsung pergi ke ruang MGMP untuk mengentry data.

Lama-lama penasaran. Entry data apa sih?

Saya mengamati alamat situs tempat mereka mengentry data.

Sistem Administrasi Sekolah

(more&#8230

Film Sci-Fi dan Kenangan Manis/Pahit Manusia

May 30th, 2008 by Cecep Mahbub

Dalam tulisan ini, gw ingin menulis cerita 3 buah film. Vanila Sky, Eternal Sunshine dan sebuah bagian dari episode serial Heroes. Banyak spoiler bertebaran, jadi jangan dibaca kalau anda berniat menontonnya (dan anda belum pernah menontonnya).

Catatan atas (catatan yg ditaruh diatas, ntar anda menemukan penandanya di bagian bawah).

(*) Sebagian orang menganggapnya film yang datar. Tapi menurut gw menarik. Walaupun alurnya agak lambat, tapi menarik. Mungkin karena waktu nontonnya mood gw lagi bagus?

(*) (*) Untuk memahami film ini, gw harus menontonnya berkali-kali, dan berdiskusi dengan temen yang ikutan nonton juga. Filmnya yang terlalu serius, atau gw-nya yang oon?

* * *

Vanila Sky (*)

David Aarmes (Tom Cruise) seorang pria yang sangat beruntung. Sudah tampan, kaya juga (atau bisa juga sebaliknya udah kaya, tampan juga. terserah mana yang lebih penting buat anda hehe). Dengan modal itu, tidak susah bagi dia untuk menaklukkan seorang wanita.

Tapi semuanya berubah, saat dia mengantar pulang pacarnya Julie (Cameron Diaz), dia mengalami kecelakaan hebat. Julie meninggal, dan dia sedikit beruntung karena bisa hidup. Kenapa sedikit? karena kecelakaan itu meninggalkan bekas luka di wajah pria tampan ini. Sekaligus trauma yang lumayan berat. Sekarang dia menjadi pria yang paling malang, sudah tampang rusak, pemarah juga. Sehingga dia ditinggal kolega-koleganya dan dijauhi wanita (ini sepertinya yang paling berat buat dia, juga buat gw hehe).

[...]

Tribun Jabar

May 29th, 2008 by Sawung
Wah blog ini headline di tribun jabar 26 mei 2008.
Berhubung ga berlangganan tribun gw baca ketika mampir di kantor www.qwords.com.
Wah bohong banget itu wartawan tribun berusaha menghubungi gw.
Email yang tertera dibawah setiap postingan di blog ini masih hidup kok.
Kalo mau kontak gw lewat telpon ga susah juga, bisa kontak ke temen-temen yang wartawan juga atau beberapa aparat yang kenal gw :p.
Gw ga tau apa motifnya dijadiin headline. Seorang temen yang wartawan di jakarta bilang ke gw korannya mau meres kali :)).
Di detik juga ada sama juga detik ga mengontak gw padahal detik bandung sepelemparan batu dari tempat gw tinggal di bandung.

Kalo om yang di senopati cuma komen dasar intel melayu. Mungkin die komen karena ini bukan "breaching" atau "leak" :D.
Oh ya buat para anggota intel tolong jangan pasang status yang berhubungan dengan pekerjaan anda disitus jejaring sosial. Gw ga tau kebijakan internal lembaga intelejen di indonesia seperti apa soal keanggotaan disitus jejaring sosial. Yang gw tau NSA sama CIA melarang anggota ikut situs jejaring sosial karena dikhawatirkan akan timbul "leak". Yang pasti seh anak muda yang di senopati ga ada yang ikut situs jejaring sosial, soalnya gw ga nemu nama yang gw cari di situs jejaring sosial.



di muntahkan oleh sawung@psik-itb.org
jendral tanpa pasukan, tentara tanpa senjata

Ubud yang malang

May 29th, 2008 by Peb Ruswono Aryan

Belum genap dua minggu saya menggunakan Ubud,UMPC dari zyrex kini sudah harus dikembalikan lagi karena tidak mau bangun. Kejadiannya berawal siang tadi ketika tiba-tiba hang saat akan terhubung dengan jaringan nirkabel di kampus dan tidak bangun-bangun lagi. Hanya tersisa lampu indikator power yang ditemani indikator caps lock. entah kenapa akhirnya segera melakukan klaim untuk penggantian (replacement) dengan yang baru.

Sebelumnya, di umurmu yang kedua hari setelah berhasil terhubung ke internet (untung sudah diatur) ternyata minta aktivasi Vista starter (aneh, laptop mungil begitu kok pakai Vista? laptop besarku saja masih pakai XP Pro biar hemat).

bud, bud.. kamu kok ngono to bud..? P

Gerakan Anti Anarki

May 29th, 2008 by Irvan Tambunan
Sudah banyak rangkaian kata-kata yang ditulis media untuk mendeskripsikan aksi mereka. Bahkan, sudah ratusan halaman yang memberitakan tindakan mereka. Tidak jarang pula, mereka semua terekam jelas di layar kamera. Mereka berorasi, bernyanyi, dan berasumsi bahwa semua tindakan yang sudah diambil itu salah. Tidak sampai di situ saja, mereka juga akan melakukan aksi-aksi yang tidak perlu, [...]

Menggabungkan nilai standar deviasi

May 29th, 2008 by Peb Ruswono Aryan

Melanjutkan tulisan yang ini, hanya saja untuk sekarang kasusnya adalah diketahui statistik dari n buah kelompok (rata-rata, banyaknya data, dan standar deviasi). persoalannya adalah bagaimana jika ingin menghitung statistik keseluruhan hanya berdasarkan data statistik saja tanpa perlu menghitung ulang dari keseluruhan data yang ada satu-per-satu.

Untuk menghitung rata-rata gabungan tentunya sangat mudah, yaitu dengan menghitung kembali jumlah seluruh data dari banyaknya data dan rata-rata.

rata-rata = jumlah_nilai / banyaknya_data
yang ekivalen dengan
rata-rata * banyaknya_data = jumlah_nilai

selanjutnya kita menjumlahkan jumlah_nilai dari seluruh data menjadi jumlah_nilai_gabungan dan banyaknya_data menjadi banyaknya_data_gabungan sehingga untuk menghitung rata-rata_gabungan cukup menggunakan persamaan

rata-rata_gabungan = jumlah_nilai_gabungan / banyaknya_data_gabungan

Lalu bagaimana caranya menghitung standar deviasi gabungan?

Seperti kita merekonstruksi jumlah_nilai dari banyaknya_data dan rata-rata, maka sesuai dengan persamaan di tulisan terdahulu maka kita perlu merekonstruksi nilai dari variabel jumlah dari kuadrat nilai (sum of square)

misalkan :
n = banyaknya data
sum = jumlah nilai
m = rata-rata nilai dari n
sumsq = jumlah dari kuadrat nilai
s = standar deviasi

diketahui persamaan:

  1. m = sum / n
  2. s2 = (n * sumsq - sum2) / ( n * (n - 1))

maka nilai sumsq dapat diketahui dari persamaan:
(s2 * n * (n - 1) + sum2) / n = sumsq

dari persamaan (1) maka nilai sum dapat disubtitusi dengan
m * n

maka persamaan tadi menjadi
(s2 * n * (n - 1) + m2 * n2) / n = sumsq

distribusi n ditarik keluar sehingga menjadi
(s2 * (n - 1) + m2 * n) = sumsq

nah, dari sini kita perlu mendefinisikan nilai-nilai gabungan yaitu

n’ = n1 + n2 + n3 + … + nk

yang berlaku juga untuk variabel sum dan sumsq

oleh sebab itu untuk menghitung standar deviasi gabungan dilakukan dengan menggunakan persamaan

s’2 = (n’ * sumsq’ - sum’2) / (n’ * (n’ - 1))

Install NS2 on Ubuntu 8.04 Hardy

May 29th, 2008 by Anggriawan Sugianto
This semester I got an assignment from Wireless/Mobile Computing lecture. It's all about NS2, the most popular network simulator. Today I tried to install it on my Ubuntu 8.04. And, here is the story :)br / br / 1. Download ns-allinone-2.33.tar from a href="http://sourceforge.net/projects/nsnam/"here/a.br / br / 2. Place it in somewhere, e.g. /home/programmer, then extract it.br / blockquote$ cd /home/programmerbr / $ tar -xvf ns-allinone-2.33.tar/blockquotebr / 3. Download amp; install some packages from repository :)br / blockquote$ sudo apt-get install build-essential autoconf automake libxmu-dev/blockquotebr / 4. Install the ns2br / blockquote$ cd ns-allinone-2.33br / $ ./install/blockquotebr / 5. Edit some paths ==abr / blockquote$ gedit ~/.bashrc/blockquotebr / Put these lines on that file. Off course, you might change /home/programmer for it depends on where you extract ns-allinone-2.33.tar.br / blockquote# LD_LIBRARY_PATHbr / OTCL_LIB=/home/programmer/ns-allinone-2.33/otcl-1.13br / NS2_LIB=/home/programmer/ns-allinone-2.33/libbr / X11_LIB=/usr/X11R6/libbr / USR_LOCAL_LIB=/usr/local/libbr / export LD_LIBRARY_PATH=$LD_LIBRARY_PATH:$OTCL_LIB:$NS2_LIB:$X11_LIB:$USR_LOCAL_LIBbr / br / # TCL_LIBRARYbr / TCL_LIB=/home/programmer/ns-allinone-2.33/tcl8.4.18/librarybr / USR_LIB=/usr/libbr / export TCL_LIBRARY=$TCL_LIB:$USR_LIBbr / br / # PATHbr / XGRAPH=/home/programmer/ns-allinone-2.33/bin:/home/programmer/ns-allinone-2.33/tcl8.4.18/unix:/home/programmer/ns-allinone-2.33/tk8.4.18/unixbr / NS=/home/programmer/ns-allinone-2.33/ns-2.33/br / NAM=/home/programmer/ns-allinone-2.33/nam-1.13/br / export PATH=$PATH:$XGRAPH:$NS:$NAM/blockquotebr / 6. Validate itbr / blockquote$ cd ns-2.33br / $ ./validate/blockquotebr / 7. (Optionally) Create a symlink, so that ns can be called from everywherebr / blockquote$ sudo ln -s /home/programmer/ns-allinone-2.33/ns-2.33/ns /usr/bin/ns/blockquotebr / 8. Try to run it (and pray :)br / blockquote$ ns/blockquotebr / br / Cheers.. ^__~div class="feedflare" a href="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?a=11ctTj"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?i=11ctTj" border="0"/img/a a href="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?a=jN42TJ"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?i=jN42TJ" border="0"/img/a a href="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?a=ay5Nzj"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?i=ay5Nzj" border="0"/img/a a href="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?a=U1VdvJ"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/anggriawan?i=U1VdvJ" border="0"/img/a /div

Ical For President

May 29th, 2008 by Leksa

Dengan ini
Saya Menyatakan

“MENDUKUNG ICAL

UNTUK PRESIDEN 2009″

 

Alasan saya sederhana, karena harta sebesar USD$9,2 M itu tidak begitu penting bagi anak-anaknya yang masing-masing sudah memiliki perusahaan raksasa sendiri-sendiri.

Kemudian, dengan menjadi presiden, Ical pasti lebih banyak ber-derma. Malu kalau menjadi pemimpin bangsa dimana rakyatnya kelaparan dan kesusahan tempat tinggal. Dijamin kekayaannya itu bisa melunasi kerugian yang diderita warga Porong, Sidoarjo, yang tidak sampai Rp 30 trilyun sahaja.

Dan Ical sadar kalau harta tidak dibawa mati. Setelah menjadi presiden, pencapaian puncak di negeri ini cukup sudah. Lagian kursi sebagai Tuhan tidak mungkin dikejar. Kalau ditiru sih mungkin. Misal, bikin bencana alam mandiri.

Silahkan bagi pendukung “Ical for President 2009″ menggunakan kaos hitam di hari Kamis, 29 Mei 2008.

ical on Lapindo

Ohya, saya memberikan dukungan ini bukan karena di bayar atau diselipin uang proyekan oleh ajudan Ical. Ini murni karena nafsu saya sendiri. Soalnya saya salah satu fans dari Adinda Bakrie yang akan menikah nanti. Matanya itu lhoo… :”>

adinda bakrie

Btw, sedikit gosip ah, merunut 3 wanita Bakrie di samping. Adinda (kiri) ini adalah putri bungsu dari Indra Bakrie, adiknya Ical. Kalau yang tengah itu namanya Intania, mantunya Indra dari putranya, Eda. Kalau yang kanan itu istri barunya Indra Bakrie, Gaby namanya (inpotenment lewat..)

Jadi, perlu diperjelas, hubungan langsung keluarga Bakrie (khususnya Indra Bakrie) dengan wanita-wanita ini cuma istri dan mantu. Kecuali ya si Adinda yang memang darah langsung dari keluarga Bakrie. Nah, kalau dihubung-hubungkan dengan Ical, walau pun Ical tajir naujubillah, toh dia cuma selaku paman bagi Adinda dan besanan bagi 2 wanita lainnya.

Tapi ya kadung kena getah atas nama “Bakrie Brothers”, tuntutan empati terhadap kondisi sosial oleh sebuah keluarga besar, sudah disahkan sebagai budaya timur. Semoga keluarga besar Bakrie masih merasa tinggal di Indonesia yang berlumpur kemiskinan.

 

 

Beda Cerita :

Gaby, Adinda, Lapindo oleh Herman Saksono
Kamis Putih Untuk Korban Lapindo oleh Yati Bergerak
Menitip Doa Kepada Tuhan oleh Antobilang
Korban Lumpur Lapindo Masih Melawan..!!! oleh Pepeng Escoret

survival for the fittest

May 28th, 2008 by Budhi Hamdani
harga BBM sudah naik, harga2 sudah beranjak naik jauh-jauh hari sebelumnya. saya bukan ahli ekonomi yang pandai menghitung keuntungan dan kerugian dari akibat adanya kenaikan harga minyak mentah dunia dan kemudian apa akibat dari menaikan atau tidak menaikan bbm yang menjadi kebijakan pemerintah. pihak yang pro kenaikan memaparkan fakta-fakta yang tampak masuk akal sehingga BBM harus naik pun begitu dengan pihak yang kontra juga memaparkan fakta-fakta yang mendukung bahwa BBM seharusnya tidak perlu naik.

saya tidak ingin memihak sebenarnya, karena ketidaktahuan saya tentang ilmu ekonomi itu walaupun sejujurnya hati saya berontak dan tidak setuju dengan kenaikan harga BBM itu, bukan kenapa2 saudara kita yang rakyat kecil ini teh boro-boro dengan adanya kenaikan BBM, jauh-jauh hari sebelum naikpun kondisinya sudah memprihantinkan: busung lapar, gizi buruk, bahkan ada sekeluarga yang mati kelaparan. apa pemerintah tuli dan mati hatinya ya? entah...

subsidi BBM hanya dinikmati orang kaya? mereka yang menjerit akibat kenaikan BBM ini bukan orang yang punya mobil, tapi jelas-jelas yang mereka yang terbiasa naik angkot, yang berjualan dipasar, yang mencari sesuap nasi untuk hari ini. saya tidak habis pikir pendapat seperti ini. orang yang punya mobil dengan kenaikan BBM ini mereka toh masih bisa makan, mereka masih sanggup membeli bensinnya dengan harga tinggipun... tapi orang yang setiap harinya untuk mencari sesuap nasipun sulit, dengan kenaikan BBM jelas bebannya jauh lebih berat... jangan bandingkan lah orang kaya dan orang miskin. Subsidi BBM itu jelas dinikmati orang miskin juga.. bukan hanya orang kaya. jika memang demikian, maka seharusnya bukan menaikan BBM tapi pembatasan jatah BBM untuk mobil plat hitam atau okelah naik BBM tapi untuk mobil plat hitam saja.

yang saya tidak habis pikir ada yang bilang dengan kenaikan BBM ini supaya rakyat tidak manja. masya Allah demi Allah saya tidak habis pikir dengan pendapat ini. bagaimana mungkin rakyat miskin ini manja? hidup mereka jauh dari berfoya-foya. untuk sekedar makan saja sulit, apalagi untuk pendidikan, kesehatan?

survival for the fittest? mungkin lebih tepatnya begitu apa yang terjadi di sini sekarang.
pemerintah yang seharusnya melindungi rakyatnya malah membiarkan hukum rimba itu disini. siapa yang kuat dialah yang dapat bertahan hidup, yang gak kuat ya sudahlah mati saza... BLT ? ah entah... ada satu pesan Rasulullah yang ingin selalu saya ingat dan itu yang membuat saya tidak setuju dengan survival for the fittest atau pendapat yang mengatakan biarkan saja biar rakyat tidak manja, Rasulullah SAW berwasiat : lindungilah orang2 lemah disekitar kalian...
ya intinya mah kalau kenaikan BBM malah jadi bikin rakyat miskin makin susah meskipun ada BLT maka sayah tidak setuju....

Mp3 Player Bersenjata Stun Gun

May 28th, 2008 by Muhammad Insan Al Amin
Ajib, poll, edun, mantap Kapan alat ini masuk ke indonesia y ? mp3 berkapasitas 1 giga ini bisa menembakan listrik kejut bertegangan 50ribu volt dg arus ngalir 0.0021 amper. Prinsip buatnya sederhana, Stun gun yg biasa dipake polisi digabungin sama mp3. Bagus untuk cewek cewek yang menginginkan 2 hal sekaligus yaitu hiburan musik dan pertahanan diri. Tapi [...]

Blogku Suspended

May 28th, 2008 by Amorita Kurnia Dewi

Jadi ceritanya, beberapa hari ini blogku sempat suspended. Setelah aku tanyakan ke CS-nya, katanya ada script berbahaya di blogku, yang telah membuat servernya jadi down D

Aku sendiri ga tau script berbahayanya itu di mana, soalnya aku ga pernah sengaja naruh. Setelah aku ingat-ingat, waktu itu aku memodifikasi theme dan menambahkan beberapa plugin ke blogku, dan tiba-tiba aja blogku jadi nge-hang.

Padahal blog suamiku dan web Dzikr yang notabene aku kasih plugin yang sama dengan blogku baik-baik saja, kenapa cuma blogku yang bermasalah?

Atau mungkin penyebabnya theme newsblue yang kemarin aku gunakan ya? Soalnya aku sendiri juga mengalami keanehan selama menggunakan theme itu. Pas aku install sih hasilnya oke-oke aja. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba aku melihat ads di blogku. Aku cek file PHP theme tersebut. Oh, ternyata memang ada script untuk menampilkan ads. Langsung aja aku hapus script tersebut. Ketika di rumah, aku cek file-file PHP dari theme newsblue tersebut, anehnya… tak kutemukan script untuk menampilkan ads tersebut. Nah, kesimpulannya dari mana script tersebut berasal?

Ya udah, daripada ntar bermasalah lagi, akhirnya aku ganti theme lagi. Syukurlah, dapat theme baru yang ga kalah bagus dari theme kemarin. Semoga kali ini tidak bermasalah lagi.

Masih Tentang Demo Anarkis

May 28th, 2008 by Cecep Mahbub

Katanya ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Entah itu pihak yang ingin mengalihkan perhatian gara-gara kenaikan BBM, atau mungkin pihak yang ingin menjatuhkan presiden yang sedang berkuasa sekarang. Mungkin juga keduanya.

Ok, mari kita cari yang menunggangi. Trus injek-injek dan pukulin rame-rame!

Mahasiswa makin anarkis. Main blokir jalan seenaknya, bentrok dengan aparat. Sweeping mobil plat merah.

Ok, dari pada susah-susah cari provokator atau pihak yang menunggangi demo, yang ini saja dulu. Buktinya sudah ada, terekam dikamera. Mari kita pukulin rame-rame kalau perlu diinjek-injek juga. Trus kasih ke polisi, biar mereka mukulin tukang demo yg seperti ini.

Polisi makin refresif dalam menangani pendemo.

Gw dukung lah. Jangan takut sama komnas HAM pak, komnas HAM cuma belain yang populer saja. Ngomongnya aja belepotan, sejak kapan kampus jadi wilayah otonom seperti kedutaan? Maunya dia ikutan populer, siapa tahu ntar bisa nyalon jadi anggota DPR atau walikota P

Gw kok jadi ikut-ikutan anarkis?

Wah ini efek kenaikan BBM. Mari kita pukulin Es…be.. ehh… gak jadi ding. Ntar gw yang dipukulin. Hehehe P

« Previous Entries