Saya terkesiap dengan
ucapan Wapres yang menyatakan agar bangsa kita untuk maju dengan otak kita sendiri tanpa harus menjiplak 'otak' bangsa lain.
Pernyataan yang keren memang.
("ah lo bisa aja, ul", kata Jusuf Kalla-> ehehehe, becanda....sumber: Kompas)Saya jadi teringat ketika saya mengambil kuliah "Seni Rupa Indonesia Lama", justru plagiat (tanpa penilaian negatif dan positif) adalah karakter khas bangsa kita. Karena memang bangsa kita terbiasa untuk menerima secara terbuka pengaruh dari luar, walaupun tentu disitu terjadi pula sebuah konflik yang berdarah-darah. Sebenar-benarnya saya percaya bahwa Hindu datang ke Indonesia pasti berdarah-darah, walaupun faktanya tidak ada secara kongkret, tetapi saya yakin bahwa ketika datang suatu pengaruh besar yang mengancam "eksistensi" dari
incumbent, pastinya akan muncul suatu
chaos.Bersyukurlah bahwa penghuni Nusantara ini kebanyakan adalah ras Melayu (secara turunan yah, kan jadi Jawa, Sunda, etc.), secara karakter suku Jawa pun mirip-> sangat lihai dalam berpolitik.
Tak ada yang menafikan betapa hebatnya Gajah Mada untuk melobi seluruh suku bangsa di Nusantara untuk bersatu dalam bingkai Nusantara, walaupun secara ironis yang mematahkan "perjuangan" Gajah Mada, adalah kesalahan strategi dalam menundukkan kerajaan Pajajaran yang notabene masih ada di Pulau Jawa. (btw, saya sebenarnya telah berusaha narasumber yang terpercaya lewat
search engine, tapi apa daya yang terlihat cuma forum yang
teu puguh antar orang Indonesia dan Malaysia).
-> Relief Candi Borobudur (sumber: Perpustakaan Nasional Online)
Oke, kembali ke masalah "penjiplakan". Saya teringat bagaimana perjalanan Hindu-Buddha
yang menurut beberapa teman saya (atau entah mereka ini telah membaca buku-buku tentang ini) akhirnya mencapai puncaknya (di Nusantara) di Bali, yang kita kenal sebagai Hindu Dharma. Perjalanan ini bisa ditebak lewat menelusuri artefak yang tertoreh sepanjang pulau Jawa. Kita dapat melihat dalam perjalanannya Candi Borobudur dan Prambanan yang masih sangat berkarakter India, walaupun kita melihat karakter
local genuine, tapi unsur pengaruh India masih sangat kental. Bisa dilihat dari relief yang realis, (dengan sok tahunya) saya berasumsi mungkin dipengaruh India yang juga terkena pengaruh Hellenisme yang dibawa oleh Alexander Yang Agung.


(Candi Tikus dan Candi Prambanan, coba dibandingkan hayoooo...)
Makin ke timur, karakter pun berubah, relief semakin tidak realis, terlihat abstraksi dan stilasi, secara dapat kita lihat di karakter penggambaran wayang kulit. Karakter candi yang meninggi pun berubah. Bahan dasarnya pun mulai berubah, dari batu candi yang didapat dari kali, menjadi batu bata. Anti-thesis dari pendapat ini mungkin Candi Sukuh yang sudah sangat "mengindonesia" tetapi terletak di Jawa Tengah dan terbuat dari batu kali, Candi Sukuh sendiri termasuk generasi akhir di Jawa, muncul ketika Hindu keluar Jawa. Belum lagi Candi Buddha yang berada di Sumatera. Ya....apa dayalah...ehehehehehe....

(Candi Sukuh, yang ini kok malah mirip kuil suku Maya, Sumber : Tournons Ensemble)
Terjadi suatu proses yang panjang untuk menemukan karakter Indonesia (dalam relief candi karakternya adalah abstraksi dan stilasi). Prosesnya memakan waktu beratus tahun. Tantangan bagi bangsa kita sekarang ini adalah ketika jaman menjadi serba cepat, bagaimana bangsa ini dengan cepat menemukan "langgam" khasnya dalam penciriannya, bukan dengan pelarangan penjiplakan. Karena saya meyakini bahwa meniru adalah (juga) proses kreatif. Kalau dulu informasi sangat lama karena harus mengarungi lautan yang luas, sekarang dalam waktu sedetik pun kita dapat mengakses informasi dari luar. Hal ini menjadi tantangan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia, untuk menemukan karakternya apalagi di jaman posmodernisme sekarang dimana perbatasan antara "nyata" dan "tidak nyata" semakin kabur.
Jadi?? HAPUSKAN PEMATENAN, ILMU PENGETAHUAN UNTUK SEMUA!!!! (ehehehehe)
DIRGAHAYU NUSANTARA!!!!!